SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT

(yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)

Rumahku Surgaku

Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.

Allah Maha Pemurah

Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.

Jalan Hidup

Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.

Lebah

Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.

Senin, April 05, 2010

Jiwaku Tertinggal di Sana

Jiwaku tertinggal di sana
Di sepanjang jalan yang aku lalui
Jalan yang minukung tajam, menanjak, menurun
Jalan yang membawaku pada keheningan
Takjub akan keindahan

Petak-petak sawah menghampar di kemiringan
Mencipta garis-garis yang melekuk
Mungkinkah ini Atlantis?
Ah Plato, kau mininggalkan seribu misteri
dalam setiap pertanyaan

Mataku menatap jauh ke barat
Bukit-bukit kecil timbul tenggelam
di antara lembah-lembah sunyi
diselimuti awan tipis
Di sana Lawu angkuh menjulang
Mengingatkan aku akan pendakian
Lelah, namun indah

Di selatan, bukit barisan yang memagari
pulau jawa dengan lautan selatan
Paku pagi bumi ini
setia menjaga nusantara

gerimis turun merintik
menambah dingin suasana
mulutku terkatup, aku merinding, dadaku bergetar

inilah negeriku,
potongan surga yang jatuh ke bumi
maka, nikmat Tuhanmu yang manalagi
yang kamu dusatakan?

Rabu, Maret 03, 2010

Fenomena Caleg Stress

Jauh hari sebelum pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) legislatif digelar, beberapa rumah sakit jiwa (RSJ) telah menyiapkan kuota khusus bagi para calon anggota legislatif (caleg). Pada awalnya hal ini sangat menggelikan, tapi tentu saja pihak RSJ tidak bertindak asal-asalan. Mereka melihat potensi gangguan kejiawaan yang besar dari para caleg yang bertarung di pemilu 2009, yaitu caleg-caleg yang tidak lolos ke kursi dewan. Pihak RSJ menjadikan fenomena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai acuannya, di mana para calon mengalami strass karena gagal melaju ke tampuk kursi pemerintahan.

Stress adalah fenomena kejiwaan yang terjadi karena adanya takanan-tekanan, baik dari dalam maupun dari luar. Tekan dari dalam bisa terjadi karena tingginya keinginan, tanpa didasari dan didukung oleh kemampuan atau kapasistas. Dalam hal ini, bisa jadi ketidaksiapan untuk kalah adalah salah satu bagiannya. Sementara tekanan dari luar adalah berkaitan dengan posisi dia di masyarakat, seperti terpojok oleh pandangan masyarakat kepada orang tersebut (merasa terhina dan tersisihkan), tuntutan-tuntutan orang lainyang tidak terpenuhi, dan ketidaksipan dalam mengahdapi perubahan nasyarakat.

Kasus caleg yang mengalami stress atau gangguan jiwa bisa terjadi karena beberapa hal seperti tidak siap kalah, tidak siap untuk kehilang, sudah teralu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa kita renungkan untuk menghindari strss semacam ini.
Pertama, kembali kepada niatan. Ada yang menarik dari apa yang dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pada awal-awal 2008 tentang Nasionalisme 2009 bahwa bangsa ini mengalami satu gerakan nasionalisme baru pada tahun ini. Semua orang, entah itu pejabat, pengusaha, petani, guru, mahasiswa, dan seluruh lapisan bangsa ini meuju pada neo-nasionalisme ini, yaitu nasionalime uang. Maksudnya, melakukan segala sesuatu seolah-olah untuk bangsa ini, padahal sejatinya adalah untuk uang.

Dari fenomena yang ada, nampak jelas bahwa kebanyakan (tidak semua) para caleg dalam pemilu legislatif 2009 berorientasi pada uang. Mereka tahu bahwa gaji anggota dewan sangat besar, puluhan juta rupiah per bulan. Belum lagi ditambah dengan berbagai tunjungan. Dengan demikian dia rela mengeluarkan berapapun biayanya untuk kelancaran jalannya melaju ke kursi dewan, karena jika dia terpilih, uang tersebut akan kembali hanya dalam hitungan bulan. Orientasi ini sangat jelas terlihat dari beberapa fakta diantaranya, para caleg tersebut adalah bukan politisi, mereka adalah orang-orang yang sebelumnya berada diluar arena politik praktis, tetapi karena kepopulerannya di mata masyarakat dan mempunyai dana, maka mencalonkanlah dia menjadi caleg. Ada pula caleg yang karena diterima sebagai Pegewai Negeri Sipil (PNS) dia kemudian mengurungkan diri dari pencalonan, mungkin baginya PNS lebih menjanjikan untuk hari tuanya. Indikasi yang lain adalah mudahnya para caleg tersebut berpindah ke lain hati alias lain partai. Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian merka tidak penting lagi apa yang disebut sebagai idiologi, karena idiologi bagi sebagian mereka berarti uang.

Untuk itu, niatan awal sangatlah penting. Niat laksana pondasi bagi sebuah bangunan, kuat pondasi, kuat pula bangunannya. Rapuh pondasi, rapuh pula bangunannya, runtuh sebelum jadi. Dalam Islam pun selalu diingatkan innamal a’malu bin niyyah, sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung pada niatannya. Seseorang akan mendapatkan dari apa yang dia kerjakan sesuai dengan niatannya.

Dalam Islam diajarkan bahwa segala pekerjaan haruslah diorientasikan hanya untuk Allah SWT. Hal ini karena manusia adalah ciptaan Allah yang diberkedudukan sebagai hamba dan khalifah (wakil Tuhan). Sebagai ciptaan tentu saja kita harus mengabdi (menjadi hamba) kepada penciptanya, dan sebagai hamba, tentulah tidak bisa dibenarkan jika manusia melakukan pekerjaanya tidak diperuntukkan bagi tuannya. Dan sebagai wakil Tuhan, bisakah kita melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang kita wakili? Kalaupun bisa, itulah yang disebut sebagi pembelotan, tidak amanah, khianat.

Menjadi wakil rakyat haruslah diniatkan keran Allah semata, mengharapkan ridlha-Nya. Jadikanlah ia sebagai panggilan Allah agar kita melaksanakan fungsi kekhalifahan kita, yaitu memakmurkan bumi. Karena niatan kita adalah untuk Allah SWT, maka Allahlah yang akan menggaji kita. Dialah yang akan membalas segala amal usaha kita. Dan kita akan senantiasa dalam bimbingan-Nya. Ingat, Allah Maha Kaya. Di sini, manusia telah melampui (bukan meninggalkan) wilayah material. Dia tidak menjadikan materi sebagai orientasi atau tujuan, tetapi hanyalah alat untuk mencapi tujuan yang lebih besar, yaitu keridlaan Allah SWT. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Seorang mukhlis atau orang yang ikhlas tidak lagi menyesali apapun yang terjadi, karena bagi dia yang terpenting adalah dia telah melakukan itu karena Allah, dengan cara yang baik, dengan usaha yang keras dan gigih, dengan pola manajemen yang rapih, setelah itu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT atau tawakal.


Kedua, haruslah adakesadaran dalam diri kita sebagai manusia bahwa tidaklah mengkin segala sesuatu yang kita inginkan akan tercapai. Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam firmannya “apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?” (QS. An-Najm: 24). Dalam ayat tersebut Allah tidak memberikan jawabannya, karena jawabannya secara logis terdapat dalam pertanyaan itu sendiri.

Coba kita renungkan apa yang akan terjadi jika keinginan semua manusia di dunia ini terwujud. Semua ingin kaya, dari mana dia mengetahui dia kaya kalau tidak ada yang miskin. Semua ingin jadi penguasa, lalu siapa yang diperintah? Siapa yang akan diurus? Semua ingin jadi pedagang, lalu siapa yang memproduksi? Siapa yang membeli? Ini adalah contoh sederhana bahwa apa yang kita inginkan tidak selamanya terwujud. Keinginan kita ternyata berbatasan juga dengan keinginan orang lain, berbatasana dengan kemampuan kita, berbatsan dengan kehendak Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang harus senantiasa kita tanamkan dalam diri kita, keluarga dan masyarakat kita. Dengan kesadaran ini, apapun yang kita dapatkan kita akan menerima dengan lapang dada, legowo. Kegagalan menjadi anggota legislatif hendaknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang berlebihan. Mengapa kita lupa bahwa dalam setiap kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah? Seperti sepak bola misalnya, bagiamana bisa 18 klub Indonoesia Super League semuanya menjadi pemenang? Tentu ada yang menjadi pemenang, runner up, sampai ada yang terdegradasi atau terdepak dari kancah kompetisi utama ini. hal ini sangat alamiah.

Ketiga, kegagalan dalam memperoleh sesutu yang kita inginkan memang pahit. Tidak ada orang yang ingin gagal, namun pastilah ada yang gagal. Kita pun harus bersiap, bukan hanya siap untuk menang, tetapi juga harus siap untuk kalah, untuk gagal. Meski pahit, namun kita tetap harus menalannya. Bisa jadi itu adalah obat, dan bisa jadi itu adalah yang terbaik bagi kita. Allah berfirman, “. . . boleh jadi Kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah 216).
Allah maha mengetahui. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Namun seringkali manusia tidak bisa nenangkap apa yang sebenarnya dinginkan oleh Allah dari dirinya. Keinginan yang berlebihan, ambisi yang besar, dan dada yang sempit telah menjadikan manusia tidak bisa melihat hikmah yang tersembunyi dari sebuah peristiwa. Sekali lagi, kegagalan memang pahit, namun tahukah kita apa yang ada di balik kepahitan tersebut? Bisa jadi adalah yang terbaik bagi kamu. Kata Allah. Bisa jadi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bukanlah ladang perjuangan bagi kamu, karena masih banyak ladang perjuangan yang belum banyak digarap orang.

Untuk mengetahui hikmah di balik peristiwa yang terjadi diperlukan kejernihan pikiran dan kelapangan hati, karena hikmah laksana permata yang ada ditengah-tengah lumpur. Orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap peristiwa adalah orang yang hidupnya bahagia, karena dia melihat segala sesuatu tidak dari satu arah, tetapi dari berbagai arah. Sebagai contoh, ungkapan yang sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya seperti “untung saya tidak jadi naik peasawat pertama yang ke Jogja, kalau jadi mungkin juga saya jadi korban kecelakaan pesawa tersebut.” Kata salah satu pembicara dari Kakarta dalam seminar di UGM pada hari terjadinya kecelakaan pesawat di bandara Adi Sucipto. Atau perkataan yang lain “waktu hendak pilang ke Kalimantan, untungnya duit saya hilang di semarang, sehingga saya harus kembali ke Yogyakarta. Coba kalau duait saya tidak hilang, pastilah kini saya masuk daftar korban kecelakan kapal.” Itu hanya beberapa missal saja, masih banyak yang barangkali lebih kecil mapun lebih besar dari kejadian semacam itu. Karena itu, Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu berprasangka baik kapada-Nya.

Keempat, sesungguhnya apa yang terjadi pada diri kita adalah ujian. Masihkahkita ingat kepada Allah saat diuji dengan kesengsaraan? Masih ingatkatkah kita kepada Allah saat kita diuji dengan kesenangan? Menjadikan manusia susah atau senang, kaya atau miskin, menang atau kalah sesungguhnya sangat mudah bagi Allah. Dia menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia adalah untuk melihat ketakwaan seseorang, dan “supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23).

Allah mengajarkan kepada kita agar tidak terlalu menyesali apa yang telah lalu, apa yang telah hilang dari kita, entah itu waktu, harta benda maupun jiwa, karena itu adalah sifat dunia, yaitu fana, tidak abadi. Yang telah hilang biarlah dia hilang, janganlah dia terlalu difikirkan, karena hal itu akan menguras energi kita sehingga kita tidak bisa fokus lagi dalam beraktifitas. Dampaknya adalah justru semakin banyak kehilangn kita. Seandainya kegagalan menjadi caleg terus disesali, ditangisi, hasilnya adalah depresi, tekanan yang berujung pada gangguan kejiwaan. Dan apa bila orang telah mengalami gangguan kejiwaan dia juga akan mengalami gangguan spiritual keagamaan.

Sebaliknya, Allah SWT juga mengajarkan kepada kita, jika kita memperoleh apa yang kita inginkan, janganlah kita terlalu berbahagia, terlalu gembira, sehingga melupakan rasa syukur kita kepada Allah. Orang yang terlalu berbahagia biasanya akan berlanjut kepada kesombongan, membanggakan diri. Orang yang demikian akan mudah lupa kepada Allah. Gagal menjadi anggota dewan tidaklah harus disesali berlebihan, begitu juga terpilih menjadi anggota dewan janganlah terlalu bergembira. Amanah rakyat telah menanti. Jadi, baik orang yang berduka cita berlebihan dan orang yang bergembira secara berlebihan, keduanya akan mudah melupakan Allah. Barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan melupakannya. Itu adalah janji Allah. Dan tidak ada yang melupakan kan Allah, kecuali orang yang tidak memfungsikan hati dan fikirannya. Dan inilah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Di sinilah pentingnya mengingat Allah pada saat sebelum melakukan suatu pekerjaan, saat melakukannya maupun sesudahnya dan seterusnya. Dengan selalu mengingat-Nya, maka insya Allah kita tidak akan mengalami gangguan kejiwan seperti depresi dan stress, seberat apapun persitiwa yang terjadi kepada kita. Wallahu a’lamu bihshsowab.

Selasa, Februari 02, 2010

Kita Memang Lemah

Kita, atau tepatnya saya, sering lupa, ketika mendapatkan rezeki atau keberuntungan seringkali mengatakan bahwa itu adalh hasil dari jerih payah usaha kita. Saat kita berhasil atau sukses dalam melakukan sesuatu seingkali kita menepuk dada, inilah aku, ini adalah hasil kerjaku. Begitulah seringkali terjadi. Kita sering membanggakan diri kita terhadap apa yang telah kia peroleh. Kita kadangkala sampai beranggapan bahwa tiada jasa orang lain di sana, apalagi Tuhan. Namun perlu diingat manusia juga adalah makhluk lemah, lemah seklai. Ketika kita manusia dalam keadaan lemah, apa yang bisad diperbuat?

Dua hari yang lalu saya sempatkan untuk menjenguk ayahanda teman saya yang terbaring lemah di rumah sakit. Beberpa hari yang lalu beliau tertabrak motor. Saat beliau keluar dari gang, tanpa disangka tanpa dinyana, dari arah kanan dua orang siswa SMP mengendari sepeda motornya dengan sangat kencang dan menabrak ayahanda teman saya. Dia terjatuh. Benturan keras menjadikan beliau gagar mengeluarkan darah dari telinga kirinya, gagar otak dan tidak sadarkan diri. Setalh dirawat dua hari di rumah sakit barulah beliau siuman dari pinsannya. Namun badanya masih susah digerakkan. Kepalanyapun masih-terasa pusing, dan nutrisi hanya diasup melalui infus. Aktifitas yang lain dibantu oleh anak istrinya yang dengan setia menunggui beliau. Beliau, Ayahanda teman saya itu, tidak mampu apa-apa kecuali berdoa. Yah, dalam keadaan lemah seperti itu manusia hanya bisa berdoa dan berdoa. Namun satu hal yang aku kagum, beliau tidak haya berdoa utuk kesembuhan dirinya sendiri, namun juga masih sempat mendoa untuk aku yang menjenguk waktu itu.

Di seberang ranjang Ayahanda teman saya berbaring lemah seorang anak kecil. Informasi yang saya dapat dia terkena penyakin DB alias demam berdarah. Melihat dari rupanya, anak seusia dia biasanyanya masih lincah-lincahnya dan senang-senangnya bermain dengan teman sebayanya. Namun saat itu dia begitu lemah, sama halnya dengan saya awal 2006 yang lalu, hanya karena gigitan seekor nyamuk. Aku sempat berbaring di rumah sakit selama sepuluh hari. Dalam keadaa lemah seperti itu, waktu itu, akupun hanya bisa berdoa, dana kadang berangan-angan sedikit apa yang akan aku lagkukan jika aku sembuh. Pun demikian pikiranku terhdap anak kecil yang berbaring di seberang ranjang ayahanda teman saya tersebut.

Kalau anak kecil di seberang ranjang ayahada temaku mungkin masih berfikir atau berkhayal apa yang akan dikerjakannya bila sembuh nanti, saya gak paham dengan seorang kakek yang berbaring sangat lemah di sebelah selatan ranjang ayahanda teman saya. Usianya sudah tua, pas tidak tahu, Cuma besok akan saya lihat lagi saat saya menjenguk kembali ayahanda teman saya tersebut. Saya tidak tahu pasti, namun saya bisa pastikan beberapa selang juga telah menjalar dari tubuhnya ke alat-alat medis di sampingnya. Kakek tersebut terkena penyakit jantung komplikasi. Meski bernafas saja susah, namun saya yakin kakek tersebut masih berdoa, meski tidak terapal dalam verbal dan hanya membatin dalam hati. Yah, dalam keadaan lemha, senjata kita hanyalah doa. Mari kita berdoa semoga kita selalu diberi kekuatan untuk berdoa.

Jumat, November 20, 2009

Menyegarkan Kembali Kesaksian Kita

Berbicara keyakinan, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa orang harus beragama? Atau mengapa orang harus bertuhan atau percaya akan adanya Tuhan. Pertanyaan demikian sangat wajar dan sangat alamiah, sebagaimaana kepercayaan itu juga bersifat alamiah

Kepercayaan akan adanya Tuhan dalah suatu hal yang fitrah. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan dia telah membawa kepercayaan dalam dirinya, tetapi sifatnya masih berupa firtah atau potensial. Sebagai suatu yang potensial, dia bisa tumbuh dan berkembang, atau sirna tertimbun berbagai hal. Adanya fitrah ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal. Pertama bahwa Allah adalah Esa, semua selain dia adalah makhluk atau yang dicipta. Dalam mencipta, tentu tidak lain adalah dari diri Dia sendiri, sehingga semua makhluk tidak lain adalah cerminan dari Allah sendiri. Kedua, Allah berfirman bahwa ketika menciptakan manusia, Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia, sehingga ruh manusia tidak lain adalah bagian dari ruh Tuhan. Ketiga, ketika di alam ruh, manusia telah mengambil kesaksian bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pada dasarnya manusia telah terikat dengan sumpah primordialnya. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menunaikan sumpahnya tersebut.

Penunaian sumpah atau janji primordial tersebut adalah dengan cara “berislam”, yaitu tunduk dan patuh pada ajaran-ajaran agama. Untuk itu, asas yang palingfundamen dalam Islam adalah Syahadatain yang berbunya asyhadu an la ila alla Alla wa asyhadu anna muhammdar rasulullah. Penyaksian yang pertama adalah penyaksian bahwa tida ilah selain Allah. Kata ilah bisa diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan sandaran, orientasi atau sesembahan. Berarti, tidak ada yang menjadi seembahan, menjadi tujuan selain Allah SWT. Ini adalah pengikat anatar manusia dengan yang ghaib, sesuatu yang abstrak. Sementara syahadat kedua adalah penyaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini mencerminkan kesedian kita untuk menumpuh thariqah muhammadiyah, menempuh jalan kenabian dan menjadikan nabi Muhammad SAW sebaga teladan. Ini berarti pula bahwa setiap kita membawa visi dan misi kenabian dalam kehidupan kita.

Setelah kita melakukan persaksian, ada konsekuensi yang mesti ditanggung. Pertama: bahwa Tuhan adalah wujud yang mutlak yang menjadi sumber wujud yang lain. Sebagia wujud yang mutlak, tidak mungkin akan diketahui oleh manusia yang relative, kecuali Tuhan mengenalkan diri-Nya sendiri. Sebagai sumber segala wujud, Allah adalah sangkan paraning dumadi, asal muasl kejadian. maka dari sana pulalah wujud manusia ada, dan kepada-Nyapula manusia akan kembali. Inilah makna inna lillahi wa inna ilai raji’un. Segala aktivitas yang manusia lakukan haruslah diorientasikan atau ditujukan kepada-Nya. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Apapun aktivitasnya, entah dia seorang pemimpin negara, guru, petani, nelayan, mahasiswa, harus mendasari pekerjaanya itu dengan keihklasan.

Konsekuensi yang kedua adalah paham persamaan manusia. Bahwa seluruh manusia di dunia ini mempunyai harkat dan martabat yang sama di depan Allah. Tidak ada seseorang atau stu kaumpun yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, melainkan karena alasan ketakwaannya. Takwa adalah kualitas kepribadian seseorang, yaitu sebuah sintetis antara iman dan amal shaleh. Dengan demikian, tidak selayaknya seseorang berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, karena dengan berbuat sewenang-wenang demikian itu dia telah berusaha untuk memakai “baju Allah”.

Kelanjutan dari konsekuensi kebertuhanan itu adalah manusia harus menerima perannya, yaitu sebagai hamba (‘abd) sekaligus khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagai ‘abdullah atau hamba Allah, manusia dituntut totalitasnya untuk mengabdi, atau beribadah, menjalankan syari’at yang telah Allah gariskan. Sementara sebagai khalifa Allah, peran manusia adalah memakmurkan bumi. Dalam memakmurkan bumi yang perlu diingat adalah dia akan berhadapan dengan manusia lain yang mempunyai peran sama, dan alam semesata juga makhluk Allah yang diciptakan untuk manusia. Dalam menjalankan hal ini, manusia tidak melulu melakukan taskhir atau penaklukan, tetapi juga menjaga kelestarian alam untuk kelangsungan kehidupan manusia sendiri, untuk itu manusia harus manjalin keharmonisan dengan alam.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dua peran manusia tersebut tidak bisa dipisahkan, karena manusia tidak akan sampai kepada Tuhan hanya dengan beribadah (mahdlah) an sich dan melupakan peran sosial atau kekhalifahannya. Rahmat atau kasih sayang Allah ahanya dapat diperoleh ketika manusia tersebut mengasihi manusia lainnya. Allah akan peduli kepada seseorang apabila orang tersebut peduli kepada sesamanya. Inilah makna dari irham man fi al-ardhi yarhamka man fi as-sama’, sayangilah apa yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh apa yang ada di langit, dan juga “la yu’minu ahadukum hatta yuhbba li nafsihi ma yuhibba li akhihi”, tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri. Rumusnya sederhana, apabila engkau ingin disayangi, maka sebarlah kasih sayang kepada siapapun. Karena, pada dasarnya, orang lain sama dengan diri kita sendiri, tidak ingn disakiti, tidak ingin dizalimi, tidak ingin dirugikan. Untuk itu, yang tidak kalah penting adalah memahami diri kita terlebih dahulu. Barangsiapa mengenali dirinya, maka sesunggunya dia telah mengenal Tuhannya, man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu.

Dengan mencintai, dengan memberi, dengan berbuat adil, di sanalah sebenarnya kita sedang bersyahadat, bersaksi bahwa Allah itu ada, dan keberadaannya itu hadir dalam setiap ciptaannya, dalam setiap tingkah laku kita. Karena keyakinan tidak sebatas percaya dalam diri, atau berhenti dalam ranah intelektual kita, tetapi yang tidak kalah penting adalah pada laku kita. Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan keyakiinan dan pengetahuannya tidak disebut sebagai orang mu’min atau orang yang meyakini. Amal shaleh adalah wujud nyata dari keyakinan. Untuk itu kata iman dalam al-quran selalu disintesiskan dengan amal shaleh. Dalam amal shaleh itulah sebenarnya manusia mnge-ADA. Wallahu a’lam bishawab.

Ironi Hukum Kita

Ada yang mengiris hati saya ketika membaca KOMPAS pagi ini (20/11), seorang ibu diajukan ke pengadilan karena dia ketahuan memetik tiga biji buah kakuo. Yah 3 buah, hanya tiga buah. Dan bisa ditebak, sang ibu atau tepatnya sang nenek pun dijatuhi hukuman. Itulah realitas hukum di negeriku tercinta ini. kasus ini saya kira bukan yang pertama dan bukan satu-satunya.

Saya kira masih banyak kasus yang serupa yang tidak terekspos oleh media massa. Mengapa KOMPAS mengangkatnya. Ini tidak terlepas dari gonjang-ganjing persoalan hukum di negeri ini. kasus makelar kasus (markus) dan para Mafioso peradilan merajalela di negeri ini. orang yang memakan harta rakyat miliaran atau bahkan triliunan rupiah masih dapat berkeliaran. Para pejabat yang kurupsi ratusan juta tidak sempat mencium hawa penjara. Inilah hukum Indonesia. Uang dan kekuasaan lebih banyak berbicara ketimbang keadilan itu sendiri. keadilan adalah barang mahal di negeri yang sedang mengalami krisis hati nurani ini. bukan berarti saya sepatak dengan apa yang dilakukan sang nenek, tetapi saya hanya merasa miris. Sungguh ironis dan kontradiktif.

Hukum di negeri ini adalah laksana pisau bermata satu, dia akan begitu tajam bila berhadapan dengan wong cilik, rakyat jelata, orang tidak berpendidikan, namun menjadi tumpul jika berhadapan dengan para pengusa dan konglomerat. Hukum dapat dibeli, sehingga siapapun yang mempunyai uang pastilah dia akan menguasai hukum. Pagi para hakim pun demikian, kebahagian bukanlah ketika dia mampu memutus perkara dengan keadilan, tetapi bagaimana ketika suatu perkara telah diputus dia mendapatkan uang yang banyak.

Uang berbicara banyak di sini. Uang yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang kalah. Semua karena uang. Orang mau melakukan manipulasi terhadap hukum juga karena uang. Uang menjadi tuhan. Sungguh kasihan manusia yang menjadikan uang sebagai tuhannya. Mereka itulah orang-orang yang dalam setiap aktivitasnya dilakukan untuk mendapatkan uang lalu membelanjakannya. Dia makan demi uang, dia minum demi uang, di tidur demi uang, dia bekerja untuk uang, berkunjung ke saudara ke teman karena alasan uang. Bagi orang yang menjadikan uang sebagai tuhan apa yang dilihat adalah uang, atau minimal berpotensi menjadi uang.

Sungguh rendah sekali manusia yang menjadikan uang atau kekayaan sebagai tuhannya. Uang adalah hasil kreasi manusia. Sebagai sesama makhluk Tuhan jelas uang jauh lebih rendah derajatnya dari manusia. Dengan menjadikan uang sebagai tujuan setiap aktivitasnya, berarti manusia tersebut telah merendahkan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dalam keadaan paling baik, sempurna, ahsanu taqwim, namun diantara mereka ada yang dikembalikan pada derajat paling rendah, yaitu orangorang yang tidak beriman. Iman bukan tidak mengakui akan adanya Tuhan, tetapi juga berarti menjadikan Tuhan sebagai Tujuan awal dan akhir setiap aktivitas keseharian kita.

Bagi insan-insan kehakiman, sebagai hakim, hendaklah sadara bahwa kata hakim itu tidak lain lain dari nama Tuhansediri. Al-Hakim, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana. Manusia adalah pencerminan diri Tuhan, untuk itu Rasul SAW bersabda takhalaqu bi khuluqillah, berakhlaklah dengan akhlak tuhan. Dengan demikian seorang hakim hendaklah pada dirinya juga terdapat sifat al-Hakim,dengan demikian sesungguhnya dia telah berjalan menuju Tuhan, dia menjadi wakil Tuhan dan dia menjadi saksi akan keadilah Tuhan. Haruskakn Tuhan sendiri yang mengadili kita, sekarang juga?

Kamis, November 12, 2009

oh, ... Istiqomah

oh, ... istiqomah
Nama yang selalu membuat aku gelisah
membuat aku berkesah
mengelus dada, merintih
Tunduk malu pada laku

serentang panjang jalan aku telusur
berdetik waktu aku selam
seraya berbusa doa aku utara
tak jua kau aku dekap
aku peluk, aku miliki

oh,... istiqomah
si anak 'azam dan niyah
perias paras hati tutur dan laku
jalan sunyi
di atas duri kaki berdiri

rabbul istiqomah, penguasa istiqamah
kuasakanlah aku atasnya
hadiyahkan dia kepadaku
patrikan di terdalam lubuk qolbu
jalankanlah aku bersamanya
di jalan lurus-Mu, menuju-Mu
agar laras kata dan laku
agar tiada lagi aku berkesah.

Minggu, November 08, 2009

Nulis Yoo.!!!!

sudah lama aku tidak menulis di blog ini. menuis sebenarnya adalah terapi, terapi untuk kebekuan otak kita, juga untuk melatih konsentrasi kita. menulislah, karena ilmu itu adalah laksana binatang buruan, dan pengikatnya adalah catatan atau tulisan, begitu kata Imama Ali. karena peradaban harus ditulis. itu adalah alasan lain.

Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, setinggi apa pun sekolahmu, kamu tidak akan dikenang orang jika kamu tidak menulis. jadi menurutnya, dengan tulisan kita bisa diingat orang. tapi tentu ada orang yang telah menulis banyak hal namun tidak diingat orang alias dilupakan.


Pram pernah menyetir perkataan RA. Kartini bahwa menulis adalah kerja keabadian. mungkin maknanya hampir sama dengan apa yang dimaksudkan sebelumnya. initnya, mari kita menulis, apa saja yang bisa ditulis. tulisan itu bisa dalam bentuk catatan harian seperti Ahad Wahib (pergolakan pemikiran Islam) dan Soe Hok gie (Catatan Seoarang Demontran), bisa juga dalam bentuk cerita memoar seperti andrea yang kemudian jadi best seller, bisa juga dalam cerita pendek (cerpen ) terlalu bnayak contohnya, atau dalam bentuk puisi.

tulisan gak mesti harus berat dan ilmiah. tulisan gak perlu memakai bahasa yang aneh-aneh. menulislah dengan bahsa sederhana, karena kekuatan tulisan sebenarnya sangat bergantung pada apa sebenarnya yang kita berikan dalam tulisan. dan yang paling kuat adalah alasan mengapa kita menulis, ketulusan hati kita untuk menulis. apa komentar gede prama terhadap novel-novel Andrea di acara Kick Andy tidak lain adalah karena Andrea menulis dengan penuh cinta dan ketulusan.

catatan terakhir, ada yang mengatakan, menulis itu seperti orang buang buang air besar (BAB). orang BAB akan bergantung berapa banyak dia makan. semakin dia banyak dan sering makan, semakin banyak pula dia BAB. makanan bagi penulis adalah apa yang harus dia tulis. bisa buku atau pengalaman menarik. seberapa banyak buku yang kita baca pasti akan berpengaruh terhadap kualitas tulisan kita. itulah sebabnya Andrea dipesani oleh gurunya, tiga hal yang menjadi sumber inspirasi yaitu baca Al-Quran, Baca buku dan melancong. yang pertama jelas berkaitan dengan hubungan kita dengan kitab suci yang merupakan sumber nilai tata kehidupan. dia berhubungan dengan komunikasi dengan yang mutlak. Muhammad iqbal bilang, bacalah AL-Quran seakan-akan dia diturunkan kepadamu, maka kamu akan mendapat spirit sebenarnya. Kedua berkaitan dengan pemikiran-pemikiran orang lain yamg telah dibukukuan terlebih dahulu. sementara yang ketiga, melancong, kita akan banyak mennemukan peristiwa dan pengalaman-pengalaman baru. so, mari ita nulis. Nulis Yoo.!!!!