SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT

(yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)

Rumahku Surgaku

Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.

Allah Maha Pemurah

Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.

Jalan Hidup

Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.

Lebah

Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.

Rabu, Juni 27, 2012

Hening Bening

Adzan magrib berkumandang
Matahari pulang ke peraduan
Aku pulang pada keheningan malam
Dalam hening aku temukan kebeningan

Kamera Allah dan Kamera Manusia

Tulisan ini telah dimuat di Bulletin Jumat Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta dan dalam Buku "Apa Kabar Islam Kita", terbitan MJS Press 2013

Saat menjadi mahasiswa, saya sering diminta untuk memandu pelatihan mahasiswa. Bagi saya memandu sebuah pelatihan adalah suatu hal yang menyenangkan, karena selain saya dapat mentransfer pengetahuan saya, saya juga dapat belajar lebih banyak hal lagi. Namun ada hal lain yang bersifat eksterna yang membuat saya senang, yaitu saya bisa mengaktualisikan hobi saya: bermain kamera. Dengan kamera saya bisa mengambil gambar peserta (baik berupa video maupun foto). Hasil jepretan dan shoot saya itu kemudian saya edit dan saya tayangkan setelah seremonial penutupan. Wal hasil, para peserta pelatihan pada tertawa melihat gambar-gambar mereka.

Tentulah tidak semua peristiwa dalam pelatihan tersebut bisa saya abadikan. Hanya beberapa peristiwa “yang menarik” saja yang saya ambil seperti penjelasan pemateri yang unik, aktivitas peserta yang bersemangat, saat mereka makan bersama atau saat ada yang tertidur saat pemateri sedang sibuk dengan segudang teori. Bagi saya, peristiwa-peristiwa itu sangat eksotik untuk didokumentasikan dan dikenang.

Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala pasti beda. Itu pula yang dapat saya tarik kesimpulan saat saya mengoprasikan kamera saya. Ekspresi tiap orang berbeda-beda. Jika mau digolongkan, setidaknya ada tiga tipe orang dalam menghadapi kamera. Yang pertama, orang tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dalam sebuah video. Orang seperti ini akan berbuat sesuai dengan kesadaran dia yang alamiah. Yang kedua, orang yang sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dengan kamera, namun ia mengacuhkannya, tidak peduli dengan keberadaan kamera tersebut. Sementara yang ketiga adalah orang yang sadar kamera. Ia sadar bahwa ia sedang direkam dan kemudian bertingkah sebaik mungkin agar gambarnya nantinya tidak mengecewakan.
 
Saat hasil rekaman itu ditayangkan, berbagai reaksi pun muncul. Seperti yang saya katakan di awal, kebanyakan mereka tertawa. Namun di balik tawa itu ada bermacam rasa yang hadir. Bagi tipe orang yangpertama, ia mera kaget karena ia baru tahu bahwa sebenarnya saat pelatihan tersebut ada yang mengabadikan tingkah lakunya. Bisa jadi ada rasa kesal pada orang yang mengambil gambar yang tidak bilang-bilang saat mau mengambil gambar. Seandainya saja di tahu, mungkin dia akan bertingkah selayaknya tokoh protagonis.
 
Tipe orang yang kedua, dia baru sadar ternyata gambar-gambar dia akan ditayangkan. Dia pun menyesal karena sebenarnya dia tahu, namn dia mengabaikannya. Dan orang yang ketiga dia merasa bahagia, karena gambar yang tayang adalah gambar yang bagus-bagus meski tidak diedit lagi. Dengan demiian dia tidak perlu malu lagi.
 
Saya ingin menarik keluar sedikit cerita saya di atas. Kemajuan teknologi saat ini sangat pesat. Setiap detik ada penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan. Salah satu penemuan yang canggih itu adalah satelit kamera. Satelit ini bisa mengambil gambar dari luar angkasa yang kemudian di transfer ke bumi. Dengan teknologi semacam ini, seseorang bisa mengetahui keberadaan orang lain di muka bumi ini. Alat ini biasanya digunakan untuk mematai-matai orang yang dianggap sebagai musuh. Namun teknologi ini masih kurang jeli, karena seringkali ia kehilangan objek disebabkan oleh siatuasi alam.
 
Berbeda dengan teknologi di atas, ada kamera yang merekam dengan sangat detail setiap kehidupan manusia, bahkan sejakk ia masih dalam kandungan. Kamera ini tidak akan rusak dan ia tidak akan salah dalam mengambil gambar. Ia juga tidak terpengaruh dengan posisi objek. Kamera tersebut bisa bernama al-Bashir, al-‘Alim maupun al-Muhith. Kamera itu adalah “Mata” Allah. Sebagaiman dokumentasi pada pelatihan di atas, hasil rekaman ini juga akan di tayangkan pasca seremoni penutupan kehidupan dunia. Bedanya ia tidak diedit dan hanya sang pemain itu sendirilah yang menyaksikannya. Dengan demikian ia tak perlu malu dengan orang lain. Ia hanya perlu malu kepada dirinya sendiri, dan tentu saja kepada Sang Pembuat video tersebut. jika video pelitahian di atas tidak memengaruhi apakah ia lulus pelatihan atau tidak, sialnya video ini akan sangat memengaruhi kelulusannya. Jika rekamannya baik, maka ia lulus dan berhak untuk tinggal di sebuah istana di surga. Namun jika rekamnnya buruk, ia harus mampir di nereka. Bisa sejenak, bisa lama, bisa juga untuk selama-lamanya. Seratus persen itu tergantung dari cara ia berakting dalam film kehidupan.
 
Beruntunglah orang yang sadar kamera, karena ia akan merasa terus diawasi. Dengan demikian ia akan bertingkah sebaik mungkin layaknya seorang bintang film layar lebar. Dan kesialanlah bagi orang yang tidak (mau) sadar akan kamera agung Allah. Yang ia dapat hanyalah rasa malu dan penyesalan diri. Lalu bagaimana agar kita tidak malu nanti di hadapan Sang Pengadil? Caranya adalah, miliki rasa malu itu sejak saat masih di dunia ini. Malu kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan malu kepada Allah. Malu jika kita berbuat keburukan. Malu jika kita berakting tidak sesuai dengan keinginan Sang Sutradara. Rasa malu itu yang akan menyelamatkan kita. Rasa malu itu pula yang membuat manusia menjadi terhormat. Jika rasa itu telah hilang, maka manusia akan jatuh dalam lubang kehinaan, manusia akan menjadi seperti binatang, atau bahkan lebih buruk. Jika kamu tidak merasa malu berbuatlah sesukamu, kata Nabi.
 
Jika kita melihat kondisi bangsa ini tentu kita merasa prihatin. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh berita kekerasan yang terjadi di mana-mana. Di sisi lain para penguasa negeri ini berebut kue kekuasan dengan menghalalkan segala cara. Korupsi terjadi dari tingkat pusat sampai tingkat RT. Jika dulu orang merasa malu melakukan kesalahan, sekarang kata malu itu menjadi tabu.
 
Adanya korupsi tak lain karena telah hilangnya rasa malu sang koruptor tersebut, baik malu pada diri sendiri, orang lain maupun pada Allah. Selain itu ia juga kehilangan kesadarannya bahwa “kamera” Allah selalu merekamnya. Pun demikian, orang yang membuang sampah sembarangan juga orang yang telah kehilangan rasa malu dan kesadarannya. Itulah mengapa Nabi mengatakan bahwa malu itu separo dari iman. Artinya orang yang telah kehilangan rasa malunya ia telah kehilangan separo imannya. Sedangkan surga hanya untuk orang-orang yang berimana secara sempurna (kamil).

Film apa yang mau kita tonton saat menanti Pengadilan Tertinggi nanti? Apakah film yang berkualitas yang pemainnya bermain sesuai dengan instruksi Sang Sutradara? Atau film yang pemainnya bermain asal-asalan karena tidak pernah membaca naskah dan mengikuti instruksi Sang Sutradara? Pilihan itu semuanya terserah Anda. Namun sekedar mengingatkan, telah banyak orang yang semula dianggap terhormat harus hancur karir dan kehidupan keluarganya karena “film buruknya” diputarkan oleh Allah di dunia ini.
 
Sebagai kata pentup, saya nukilkan doa dari Ali bin Abi Thalib kw. Yang diajarkan kepada Sabahat Kumail: wahai pelindungku, betapa banyak kejelekan yang Engkau tutupi,...., betapa banyak pujian baik yang tidak layak bagiku telah engkau sebarkan,....,janganlah Engkau ungkap dengan pantauan-Mu rahasiaku yang tersembunyi, janganlah Engkau segerakan siksa atas perbuatanku dalam kesendirianku.

Jangan Berteriak...!!!

“Diaaaaaaaaaaaaaam! Jangan terraik-teriak”, teriaku.
Kelas itu tiba-tiba hening, sehingga suara seorang anak yang berbicara langsung terdengar jelas.
“Tuh, mr. yang teriak”, kata Figo, anak yang aku teriaki untuk tidak berteriak.

Peristiwa itu terjadi saat pelajaran berlangsung setelah istirahat makan siang dan salat zuhur. AC yang tidak bekerja dengan baik menyebabkan ruangan kelas terasa panas. Di luar matahari baru sedikit bergeser dari atas kepala. Dalam suasana panas itu pembelajaran yang harus berlang dengan metode perorangan membuat suasana kurang kondusif. Anak-anak yang telah selesai dengan tugasnya membuat aktivitas sendiri. Kondisi itu tentu saja membuat konsentrasi saya terpecah. Ditambah lagi beberapa siswa kelas 2A tersebut memang mempunyai kebiasaan berteriak saat memanggil temannya atau saat merasa terganggu oleh teman-temannya. Saat itulah saya juga berteriak meminta mereka untuk diam sebagaimana di atas.

Ada dua hal yang ingin saya tulis di sini, yaitu tentang egosentris dan imitatif

1. Ego
Masa-masa keemesan (golden age) seorang anak sangat mudah menyerap informasi yang datang dari luar dirinya. pada golden age ini (0-8 tahun), menurut Frued, kontrol anak masih pada ego mereka. Artinya, anak masih menginginkan bahwa segala sesuatunya mesti berpusat kepada dia. Untuk itu, apa pun akan ia lakukan untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Saat anak-anak ini berbicara dengan teman sebaya mereka, bisa dipastikan tak akan ada yang mau mengalah. Masing-masing ingin pendapatnya didengar. Itulah buktinya.

Keinginan seorang anak agar dirinya menjadi pusat perhatian adalah sesuatu yang alamiah. Namun demikian hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi perkembangan anak jika orang tua tidak memahaminya. Yang pertama: orang tua melakukan hal yang dianggap baik untuk anak dengan sangat ketat membatasi keinginan anak. Padahal hal tersebut justru menghambat perkembangan anak, karena rasa ingn tahu mereka harus tersumbat.

Kedua: orang tua sangat memanjakan anak, sehingga anak semakin bossy. Hal ini akan diperparah jika orang tua salah memilih pengasuh anak. Karena anak akan semakin bossy. Ini yang biasanya menumbuhkan sikap ingin menang sendiri, berteriak-teriak jika mempunyai keinginan.


2. imitatif
Saya ingin mengutip pepatah lawas “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Mungkin itu untuk menggambarkan peristiwa di awal tulisan ini. Memang saat itu siswalah yang berteriak terlebih dahulu, saya hanya akan menenagkan. Namun ketika anak berteraik dan kita juga berteriak, maka yang muncul adalah anak mendapatkan pembenaran terhadap apa yang ia lakukan. Itu dibuktikan oleh perilaku yang sama yang dilakukan oleh guru.


Dari persitiwa siang itu dan juga potongan dari film Nanny mcPhee di mana seorang ibu berkata pada anaknya untuk tidak berteriak dengan si ibu sendiri yang berteriak, saya mulai berpikir untuk mencari metode lain. Saya tidak langsung “menangani” anak tersebut, tetapi partnernya lah yang saya tangani terlebih dahulu, karena ia lebih mudah dikontrol. 


Cara yang lain adalah dengan bermain freezer, menjadi patung dan bertanya “suara siapa yang terakhir?”. Ternyata cara itu cukup efektif. Memang kadang siswa itu masih berteriak, namun karena tidak mendapatkan respon dari temannya yang lain, teriakannya menjadi berkurang. Bahkan kadang teman kelasnya yang mengingatkan agar dia tidak berteriak dan mengganngu temannya. Yang membuat saya lebih takjub, anak kelas dua itu membuat kesepakatan: bagi orang yang berteriak dan mengganggu orang lain akan berdiri di depan kelas sampai matapelajaran saat itu selesai.
Memang, mendidik memerlukan sebuah kesabaran.

Senin, Mei 21, 2012

Surat Kedua untuk Calon Istriku.

Assalamu’alaikum wr. wb.
Calon istriku. Maaf aku kirim lagi surat untukmu. Bisa dibilang ini adalah sedikit revisi dari suratku yang dauhulu. Aku tak tahu apakah engkau telah membacanya atau belum, namun aku sedikit cerobah, suratmu dibaca oleh kaummu. (wajar aja lagi, orang suratnya diposting di blog).

Ada beberapa kritik kepada suratku itu. Dan saat engkau membacanya, mungkin engkau akan mengajukan kritik yang sama. Untuk itu, aku kirimkan surat ini kepadamu.

Calon istriku.
Dalam kritikku itu, ada yang mengatakan pemikiranku telah berubah menjadi patriarkhi, tidak seperti dulu lagi. Saat aku membca ulang surat itu, emang sih akau merasa gitu. Aku setuju dengan apa yang dikatakan oelh kritikus itu.
 
Calon istriku...
Pada dasarnya, yang aku inginkan adalah saling pengertian dan saling menguatkan. Kita saling mengisi kekurangan satu sama lain. Bekerja sama dalam setiap peri kehidupan kita. Karena itulah yang bisa melanggengkan sebuah keluarga. Aku tak bisa jalan sendiri, untuk itu aku butuh teman.
 
Itu saja surat keduaku ini. Terimakasih.
 
 Wassalamu’alaikum.

Kamis, April 26, 2012

Surat untuk Calon Istriku

Assalamu’alaikum wr. wb.

Calon istriku, sebelumnya aku ingin menceritakan sesuatu. Akankah engkau menyimaknya? Kuharap demikian.
Belakangan ini aku diselimuti oleh satu pertanyaan, pertanyaan yang memaksaku untuk merenung, bermuhasabah. Satu pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin sangat mudah. Atau mungkin pertanyaan yang tidak pernah dipertanyakan lagi.

“Sudahkah waktuku untuk menikah?” Itulah pertanyaan yang hadir dalam renung hatiku. Itulah pertanyaan membuatku tersadar akan keberadaanku.

Calon istriku.
Bukan aku tidak tahu bahwa menikah adalah perintah agama. Bukan aku tidak tahu bahwa menikah adalah sunah Rasulullah saw, dan barang siapa tidak mengikuti sunahnya maka ia bukanlah umat Rasulullah. Aku pun tahu bahwa menikah adalah ibadah. Aku tahu itu. Namun ada satu yang masih mengganjal dalam diriku. Aku teringat janji Allah yang menciptakan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Pertanyaan pun tumbuh lagi dalam hatiku: “sudahkah aku menjadi lelaki yang baik sehingga aku layak menjadi pendamping hidupmu? imam bagimu dan anak-anakmu?”.

Calon istriku.
Aku sadar aku bukan manusia sempurna. namun aku akan selalu berusaha untuk menjadi sempurna. Meski aku sadar sangat sukar untuk menjadi sempurna. Untuk itu aku berharap hadirmu di sisiku akan membuatku menjadi sempurna. Termasuk menyempurnakan agamaku.

Calon teman perjalananku.
Perlu engkau ketahui, perjalanan bahtera rumah tangga yang akan kita lalui sangatlah panjang. Sebagai nahkoda, aku butuh bantuanmu untuk mengingatkan akan arah tujuan bahtera ini, mengingatkanku jika aku lupa arah. Agar kita bisa sampai pada tujuan kita. Tentu saja laut tak selalu tenang. Mungkin akan ada gelombang tinggi, mungkin akan ada badai yang menerjang bahtera kita. Jika itu terjadi, aku hanya berharap padamu untuk bersabar dan selalu berpegang erat padi tali Allah sehingga tidak ada di antara kita yang terlempar dari bahtera ini dan hanyut dalam pusaran gelombang. Yakinlah badai pasti berlalu. Yakinlah segala coba yang mendera akan menjadikan kita lebih dewasa dan sempurna. Bukankah tawa dan duka laksana dua sisi kepingan uang logam yang sama?

Calon istriku.
Maafkan jika nanti aku belum bisa membahagiankanmu sebagaimana suami-suami lain membahagian istri-istri mereka. Namun aku akan selalu berusaha. Aku tak akan berhenti untuk menjadi yang terbaik. Maka bantulah aku meski hanya dengan senyummu.

Calon ibu dari anak-anakku.
Anak adalah permata bagi sebuah rumah tangga. Raga yang lelah sepulang kerja atau pikiran suntuk bercampur kantuk akan segera hialng saat kita memandang wajah lucu dan tawa mereka. Anak adalah amanah yang dititipkan kepada kita. Jika Allah berkenan memberikan amanah itu kepada kita nanti, aku minta kepadamu rawat dan didiklah mereka sebagaimana rasulullah tuntunkan. Ajarilah mereka bahwa hidup ini adalah anugrah dari Sang Pencipta, bahwa tujuan hidup ini tak lain hanya beribadah keada Allah. Ajarilah mereka mengenal-Nya. Ajarilah mereka cara menyapa-Nya. Ajarilah mereka bahwa kasih sayang-Nya lebih luas dari kemurkaan-Nya. Ajari pula mereka bahwa cinta akan mendamaikan dunia.

Tulang rusukku
Dalam setiap doaku aku akan bermohon agar kita segera dipertemukan dan dipersatukan dalam ikatan suci, mengarungi bahtera bersama, membangun surga kita. Dan tak lupa aku mengajakmu untuk bermunajat:

Ya Allah aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan amal yang mendekatkanku kepada cinta-MU.
 
Ya Allah, jika boleh aku mencintai, maka izinkanlah aku mencintai orang yang mencintaimu sehingga kami dapat saling mencintai karena-Mu dan janganlah kau jadikan kecintaan antara kami lebih besar dari kecintaan kami kepada-Mu.
 
Ya Allah jika boleh aku merindu, izinkan aku merindu orang yang merindu-Mu. Dan janganlah Kau jadikan kerinduan di antara kami melebihi kerinduan kami untuk menatap wajah-Mu. 

Ya Allah kabulkanlah doa kami. Amin.
 
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Calon suamimu.

Senin, April 23, 2012

Guru Harus Adil

Sekolah di mana saya mengajar adalah sekolah yang menggunakan sistem 5 hari efektif. Dengan demikian pembelajaran untuk kelas 1 sampai jam 13.00, kelas 2 dan 3 sampai jam 13.45 dan kelas 4-6 serta SMP sampai dengan jam 16.00. hal ini dilakukan guna menutup hari sabtu yang dijadikan sebagai hari libur. Selain itu juga karena sekolah kami menamakan dirinya sebagai sekolah plus. Dengan demikian berbeda dengan sekolah negeri. Adapun yang menjadi nilai plus dari sekolah kami adalah agama Islam dan Bahasa Inggris.
Meskipun nilai plusnya adalah agama Islam, sekolah kami sendiri bukan sekolah Islam seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Seragam yang digunakan pun seragam pendek (namun bagi yang menghendaki seragam panjang juga diperbolehkan). Bahkan ada sampai pada tahun ketiga sekolah kami, ada dua murid yang non-muslim.


Sayangnya, meskipun menjadikan agama Islam sebagai nilai plus, sampai tahun ketiga sekolah ini waktu salat asar belum terprogram dalam kurikulum. Dengan demikian siswa yang masih punya jam pelajaran atau siswa kelas bawah yang masih di sekolah karena ada kegiatan ekstra atau karena belum dijemput merasa “tidak harus” salat asar di sekolah. Hal tampak dari ketidakacuhannya saat mereka mendengar azan asar.
Melihat ketidakacuhan para siswa, tiga orang guru agam islam (termasuk saya) berupaya untuk “mengkondisikan” siswa, mengajak siswa yang masih berada di lingkungan sekolah untuk salat asar berjamaah. Sore itu salah seorang guru mendatangi beberapa siswa kelas dua yang memang belum dijemput yang sedang bermain bola dari botol minuman.

“Nak, ayo salat asar dulu, nak!” Ajak guru itu.

“Mister, masak yang disuruh salat kita terus. Tuh, kakak-kakaknya tidak disuruh, celetuk seorang murid.

Guru itu pun kemudian mendatangi beberapa siswa kelas 5 dan 6 yang saya yakin bahwa ia mendatangi anak-anak itu bukan karena celetukan dari seroang siswa kelas 2 tadi, tetapi karena memang sudah ia niatkan sejak awal. Namun demikian apa yang dikatakan oleh seorang siswa kelas dua tadi, bagi saya, mengandung satu makna, yaitu mereka menginginkan keadilan. Mereka menginginkan guru berlaku sama terhadap semua siswa.

Seusai jam mengajar, saya duduk di depan front office menemani anak-anak kelas 2A sebelum mereka dijemput pulang. Saat itu seorang wali murid mendatangi saya. Sepertinya ia ingin menyampaiakn sesuatu, namun tidak jadi. Namun kemudian kami bertemu pada lain waktu dan kesempatan. Setelah berbasa-basi ia pun kemudian mangatakan bahwa ada seorang guru yang perhatiannya pada seorang siswa melebihi perhatiannya kepada siawa-siswi lainnya. Informasi itu tentu saja ia dapatkan dari cerita anaknya.
Permasalahan tidak berhenti di situ, karena hal tersebut samapi kepada kepala sekolah. Akhirnya semua selesai setelah diberikan penjelasan bahwa anak tersebut memang sedikit special need alias berkebutuhan khusus. Namun dari kejadian itu, satu poin yang saya tarik, anak akan merasa jika ia dilakukan tidak sama dengan lainnya.

Di kelas saya ada seorang anak yang kecerdasan kinestetiknya sangat tinggi, sampai-sampai ia disebut “nakal” karena sering menggunakan tangannya untuk memukul temannya. Secara sosiograf ia anak yang banyak dijauhi temannya. Hampir setiap hari ia berulah yang membuat teman-temannya jengkel. Karena begitu seringnya ia membuat “keributan”, maka setiap ada keributan ia selalu menjadi tertuduh. Sampai suatu hari ada keributan kecil di kelas, tanpa bertanya lebih dahulu saya pun memanggil Rian dan mengadilinya. Namun apa yang terjadi? Bukan Rian yang protes, tetapi siswa yang lain.

“Mister, kok Rian terus sih yang disalahkan?” kata seorang dari mereka.

Dari perkataan siswaku itu saya tahu saya telah melakukan kesalahan. Saya telah berlaku tidak adil. Seharusnya saya bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi sebagaimana yang biasa saya lakukan. Sebagai pendidik, kita memang harus berlaku adil kepada siswa. Siswa harus diperlakukan dengan cara yang sama. Tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.

Kamis, Maret 01, 2012

Dongeng Sebelum Tidur

Setelah buaya-buaya itu berbaris, kancil melompat-lompat di atas punggung buaya-buaya itu hingga ia sampai di seberang kali. Kancil pun bisa menyebrangi kali itu dengan selamat. Ia mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada buaya.

Saya masih ingat betul cerita di atas dan bagiamana cara ibu saya mengkhiri cerita itu dengan ungkapan “pak BU dari kiri pak Bar dari kanan, BUBAR”. Saat itu pula baru saya mau tidur. Itu terjadi saat saya masih kecil dan belum bisa baca tulis.

Sekelumit Latar Belakang Tulisan

Dongeng Sebelum Tidur hanyalah surevei kecil-kecilan yang saya lakukan dalam waktu yang sangat singkat ketika saya masih di Yogyakarta. Awalnya saya sedang menulis tentang kisah-kisah nabi dan orang-orang terdahulu. Saya ingat, saya juga mendapatkan cerita tersebut karena kisah-kisah yang diceritakan menjeleng tidur oleh ibu atau bude saya, tentu waktu itu saya masih kecil. Selain itu, kisah yang sering menjadi pengantar tidur saya adalah kisah Kancil dan Pak Tani, Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dll.
Karena saya ingin mengkontekskan tulisan saya dengan perkembangan saat ini, maka saya bertanya kepada rekan kerja saya tentang dongeng yang sering mereka kisahkan. Alangkah kagetnya saya, ternyata dari 4 orang rekan saya, hanya satu yang masih sering mendongeng untuk anaknya. Yang satu beralasan karena sering kerja sampai malam (kerjanya di rumah) sehingga dia tidak bisa mendongeng untuk anaknya yang tidur sejak sore.
 
Dari rasa ingin tahu saya itu, saya melakukan survai sederhana. Hasilnya adalah separo dari responden saya menyatakan tidak lagi mendongeng untuk ananknya menjelang tidur.tentu saja dengan berbagai alasan, dari karena sibuknya dengan pekerjaan, tidak bisa mendongeng, atau karena anaknya senang tidur di depan televisi, sehingga dongen itu secara otomatis digantikan oleh kotak ajaib itu.

Mengapa Dongeng Sebelum Tidur?

Pada tahun 1924, Richard Caton, seorang dokter dari Inggris, menemukan bahwa ada muatan listrik dalam kulit otak manusia. Temuan ini kemudian ditruskan oleh Hans Berger (neurolog asal Jerman) yang mencetak gelombang otak dari muatan listrik itu di atas sebuah kertas. Pada perkembangan mutakhir, gelombang itu dibedakan menjadi empat, yait Gelombang Delta, Teta, Alfa dan Beta. Gelombang-gelombang tersebut menggambarkan kondisi otak pada saat-saat tertentu. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Delta adalah kondisi otak yang sedang tidur tanpa imipi, Teta adalah kondisi tidur dan bermimpi, alfa adalah kondisi rileks dan beta adalah kondisi stres.
 
Dari empat gelombang tersebut, kondisi yang paling baik untuk menerima informasi adalah delombang alfa, yaitu saat otak kita sedang rileks tapi waspada. Kodisi seperti ini bisa tercipta saat seseorang sedang merasa senang atau saat seseorang sedang merebahkan badannya untuk tidur. Sebagai buktinya, saat seseorang bangun tidur yang akan ia ingat pertama kali adalah apa yang terjadi sebelum tidur itu. Bisa kita bayangkan jika setiap malam anak tidur di depan televisi yang menyala, maka yang masuk dalam memori anak adalah tayangan-tayangan televisi, yang malangnya kita tidak bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan (televisi tanpa bayar).

Manfaat Dongeng
Sebenarnya sudah banyak yang tahu manfaat dari dongeng, namun banyak pula yang lupa tau bahkan sengaja melupkannya. Apalagi di jaman modern ini banyak sekali kehadiran manusia yang digantikan oleh mesin. Padaha sebenarnya banyak hal yang bisa diambi dari dongeng.
 
Pertama: dongeng dapat meningkatkan daya pikir dan imajinasi anak. Tak bisa dipungkiri bahwa kreativitas lahir dari imajinasi. Saat orang tua sedang mendongeng, saat itu pula imajinasi anak bekerja. Semisal orang tua menceritakan istana Nabi sulaiman yang sangat megah di mana lantainya terbuat dari kaca sperti aquarium, saat itu pula sang anak akan mengkreasikan istana dalam otaknya. Saat dewasa dan ingin membangun rumah, bisa jadi yang tergambar nantinya adalah istana nabi Sulaiman.
 
Kedua: dongeng adalah saran yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral. Belajar yang paling baik bagi anak adalah saat anak belajar tanpa ia meras digurui. Dengan dongen, orang tua tidak serta merta menyuruh anak berbuat kebaikan, tetapi anak akan belajar sendiri dari tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng tersebut. Anak bisa belajar kejujuran dan kesabaran dari cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, anak bisa belajar bahwa orang yang bodoh akan mudah ditipu dari cerita kancil. Dan masih banyak lagi nilai moral yang bisa diserap oleh anak seperti kesetiakawanan, keadilan dan kasih sayang.
 
Ketiga: dongeng dapat meningkatkan minat belajar anak, khususnya minat baca. Jika sebuah dongen sangat menarik perhatian anak, tak jarang anak akan meminta lagi orang tua untuk mendongengkan cerita tersebut. inilah kesempatan yang baik untuk mendekatkan anak pada buku. Sesekali orang tua bisa berhenti di pertengahan cerita dan mengatakan pada anak, jika ia mau cerita selanjutnya ia harus baca sendiri. Atau mengatakan ada lo cerita yang bagus-bagus. Dengan demikian anak minat baca anak akan tumbuh.
 
Keempat: untuk memperat hubungan emosional orang tua dengan anak. Sering klai kita berbicara quality time. Quality time tidak mungkin didapat saat anak baru pulang sekolah atau saat orang tua baru pulang kerja, karena saat itu anak atau orang tua sedang berada pada kondisi lelah oleh aktivitas seharian. Biasanya anak akan menceritakan kejadian-kejadian di sekolah saat menjelang tidur. Saat menjelang tidur pula biasanya anak mengungkapkan keinginan-keinginannya. Saat itulah terjadi dialog antara anak dan orang tua. Jika dilakukan terus menerus, hal ini dapat menghilangkan hubungan yang kaku antara anak dan orang tua.
Selain beberap poin di atas, dongeng juga dapat mengurangi efek negatif dari mainan-mainan modern seperti Play Station, Game Online, PSP dan lain sebagainya, yang membuat anak apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Namun demikian, orang tua juga harus berhati-hati dalam memilih cerita dan menceritakan karakter sang tokoh, karena dapat berakibat pada misinterpretasi (salah tafsir). Untuk itu, orang tua pun dituntut untuk terus belajar.

Selamat mendongeng!!!