SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT

(yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)

Rumahku Surgaku

Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.

Allah Maha Pemurah

Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.

Jalan Hidup

Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.

Lebah

Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.

Kamis, April 29, 2010

Takwa

Kehidupan di dunia ini adalah pengembaraan. Dia bukanlah awal dan juga bukan akhir. Bukan awal dikarenakan pada hakikatnya kita pernah mengalami satu kehidupan sebelum di dunia ini, yaitu kehidupan di alam rahim. Kehidupan di alam rahim ini secara umum lebih pendek dari kehidupan di dunia ini. Namun sebelum di alam rahim, kita juga pernah mengalami kehidupan di alam ruh. Terkait lamanya kehidupan di alam ruh ini, tak seorang pun mengetahuinya. Tentu, karena alam ini lepas dari dimensi ruang dan watu. Dengan demikian, nanti, esok atau lusa, kita akan meninggalkan dunia ini menuju pada satu kehidupan yang lain lagi, dunia yang lain lagi. Dan selanjutnya kita akan kembali kepada yang menciptakan kita, Allah ‘aza wa jalla.

Pada hakikatnya semua manusia akan “mudik”, pulang kampung halaman, berkumpul kembali dengan Kekasihnya. Ke mana lagi kalau bukan kepada yang dengan sinar kasih-Nya telah menciptakan kita? Bukankah hidup ini adalah sebuah perantauan? Bukankah kita ini hanyalah para musafir? Dan musafir pastilah dia tidak akan tinggal lama di persinggahan, dia akan segera berkemas dan berjalan kembali ke tempat tujuan akhirnya? Sebagai orang yang akan mudik sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mudik? Sudahkah kita punya ongkos? Sudahkah kita membeli tiket? Sudahkan kita menyediakan oleh-oleh untuk yang kita cintai? Jika kita mudik ke kampung halaman, yang kita bawa biasanya adalah pakaian dan makanan. Ketika kita mudik kepada Allah, apa yang akan kita bawa? Apa yang akan kita persembahkan?
Dalam surat Al-baqarah 197 Allah berfirman:

Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

Sebenarnya, ayat tersebut berbicara dalam konteks ibadah haji, namun saya kira juga relevan kalau kita tarik pada ranah kehidupan yang lebih luas. Dalam ayat di atas, Allah menyerukan kepada hamba-Nya untuk membekali diri dengan takwa. Dalam ayat lain dikatakan libasu at-taqwa khair, pakaian takwa iitu adalah pakaian yang terbaik jadi kita harus mudik dengan membawa bekal dan pakaian takwa.Apa takwa itu?
Takwa, umunya didefinisikan dengan menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Takwa adalah sebauh kulitas kepribadian yang harus dicapai seorang muslim. Bahkan Islam mewanti-wanti umatnya agar jangan sampai di antara mereka ada yang mati tanpa bekal takwa. Takwa menjadi buah seluruh ibadah mahdlah dalam Islam, dari shalat, zakat, puasa dan naik haji, tujuan akhirnya adalah untuk mencapai derajat atau kualitas takwa.
Takwa haruslah menjadi asas bagi bangunan yang kita dirikikan. Hal ini tersirat dalam QS. at-Taubah [9]: 108 yang menceritakan tentang pendirian Masjid Dlirar, yaitu masjid yang didirikan oleh orang-orang munafik untuk memecah belah umat Islam, kemudian Allah berfirman :
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah [9]: 108).

Bangunan di sini bukan hanya berarti bangunan fisik, tetapi mencakup seluruh bangunan hidup kita. Dalam artian, apa pun yang kita lakukan di dunia ini haruslah dilandasi oleh takwa, yaitu bahwa esegala sesuatu tidak diniatkan kecuali untuk menggapai ridha Allah swt. Bukan untuk kepentingan sesaat, kepentingan pragmatis, aau hanya untuk memenuhi hawa nafsu semata. Dan untuk mencapai keridhaan tersebut hanya akan mungkin bila kita menjalankani kehidupan ini seseuai dengan kehendak-Nya.

Ketakwaan adalah sesuatu yang bersifat rohani. Rasulullah saw. bersabada “ at-taqwa hahuna” Takwa itu di sini, sembari menunujuk ke arah dadanya. Jadi, dia berada dalam diri yang terdalam manusia. Namun demikian, sebagaimana halnya muiara, ketakwaan yang ada di dalam dada ini kemudian memancar keluar dalam bentuk perbuatan dan sikap hidup, sehingga ketakwaan seseorang akan tercermin dari bagaimana di menjalani hidup ini.

Allah swt kemudian merinci ciri-ciri orang yang bertakwa. Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-5 Allah menjelaskan orang yang bertakwa adalah orang yang 1) beriman kepada yang ghaib, 2) mendirikan shalat, 3) menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah, 4) beriman kepada apa yang duturunkan kepada Muhammad SAW (al-Quran) dan nabi-nabi sebelumnya, dan 5) beriman kepada hari akhir. Dari beberapa poin tersebut, takwa sikaitakn dengan iman. Iman kepada yang ghaib, yaitu Allah, malaikat, dan jin. Iman terhadap hal-hal tersebut berarti mengakui keberadaanya, meskipun tidak tampak secara kasat. Iman kepada Allah memberikan konsekwensi bagi kita untuk menjalankan perintahnya dan meninggalkan larangnnya. Iman kepada-Nya juga mengharuskan kita sadar bahwa segala tindak tanduk kita tidak mungkin luput dari pengawasan-Nya. Sehingga dalam ibdah kita dianjurkan “beribadahlah kamu seakan-akan kamu melihat Allah, seandainya pun kamu tidak melihat-Nya, niscaya Allah melihatmu”. Orang melakukan kejahatan dan kecurangan seirngkali karena merasa tidak ada orang yang melihat dan mengawasi dirinya, sehingga dia bebas berbuat semaunya, namun dia lupa bahwa Gusti ora sare, Allah itu tidak tidur. Dia mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi.
Dalam ayat lain, yaitu surat Ali Imran 133-135 Allah menjelaskan ciri-ciri lain dari orang yang bertakwa, yaitu:

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. 135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Dari ayat tersebut, setidaknya ada empat cirri orang bertakwa, yaitu: 1) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, 2) orang-orang yang menahan amarahnya, 3) mema'afkan (kesalahan) orang, 4) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka serta tidak meneruskan dan mengulangi perbuatan kerji tersebut.
Apabila dalam surat Al-Baqarah 2-5 tadi sebagian besar mengaitkan ketakwan dengan keberimana, itu berarti takwa ditarik ke dalam dimension internal diri manusia, maka pada ayat-ayat di Surat Ali Imran di atas mengaitkan takwa dengan prilaku sosial. Sama dengan pada surat Al-Baqarah ayat 2, dalam hal ini menginfakkan sebagian harta kita kepada fakir miskin adalah ciri dari orang-orang yang bertakwa. Selain itu orang bertakwa adalah orang yang mau berlapang hati, bukan hanya untuk tidak marah, tetapi juga memberikan maaf kepada orang lain. Bisa jadi jika ada orang lain memojokkan kita, kita tidak akan marah, karena secara power kita tidak lebih kuat dari dia. Namun seringkali, meski tidak marah, ada orang yang masih mendendam, dan mencari kesempatan untuk membalas, atau minimal akan merasa puas dan bahagia apabila orang yang memojokkan tadi terpojook, meski bukan oleh orang itu sendiri. Sesuai ayat di atas, ini bukanlah sifat orang bertakwa. Hal ini ipertegas lagi, “apabila engkau memberi maaf, sungguh yang demikian itu lebih dekat kepada ketakwaan (QS. Al-Baqarah [2]: 237).

Orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar, bertobat, memohon ampun kepada Allah, lalui melakukan perbuatan baik untuk menutupi keburukkannya itu. Ini sesuai perintah Rasulullah SAW, ittaqillaha haitsu ma kunta, wattabi’s as-sayiata hasanata tamhuha, bertakwalah kepada Allah di mana saja, dan ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik yang akan menghapus perbuatan buruk tersebut. Apabila perbuatan buruk kita bersangkutan dengan hak-hak anak Adam, maka hak-hak tersebut haruslah ditunaikan terlebih dahulu.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan, orang yang bertakwa adalah mereka di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar dan memberikan sebagaian harta mereka untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (Ad-Dzariat 16-19). Ketakwaan, selain dikaitakan dengan berinfak, dalam ayat tersebut di atas juga dikaitkan dengan bangun malam.

Begitu dahsyatnya bangun malam (qiyamu al-lail), sehingga dia menjadi ciri-ciri orang yang bertakwa. dalam surat Al-Muzammil Allah memerintahkan untuk bangun bangun malam, mengisinya dengan shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir, meskipun hanya sejenak. Begitulah yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat, terlebih-lebih pada malam-malam bulan ramadhan, di mana segala amalan ibadah di dalamnya akan dilipatgandakan pahalanya. Bangun malam merupakan rahasia dari kesukessan dakwah Nabi Muhammad saw. Bahkan menurut satu riwayat, karena seringnya shalat malam, kaki Nabi sampai bengkak-bengkak. Setiap kali shalat malam, selalu sja beliau menangis. Melihat itu, Aisyah bertanya ”Ya Rasulullah s.a.w., mengapa engkau menangis. Bukankah engkau maksum, dan Allah s.w.t. telah berjanji mengampuni segala dosamu, baik yang akan datang maupun yang telah lalu?” Jawab nabi saw., ”Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hambaNya yang bersyukur?” Rasulullah selanjutnya bersabda, ”Mengapa saya tidak berbuat seperti ini, padahal Allah s.w.t. telah berfirman:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambi tentang penciptaan berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan angit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka kami peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ’Imran [3]: 190-191).

Hal lain yang menjadi ciri orang bertakwa, sehingga Allah menintai golongan ini, adalah mau menempati janji. Allah berfirman,

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran [3]: 76).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, Maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. At-Taubah [9]: 4).

Dan juga firman Allah swt:

Bagaimana bisa ada Perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam? Maka selama mereka Berlaku Lurus terhadapmu, hendaklah kamu Berlaku Lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah [9]: 7)

Implikasi Takwa
Takwa adalah kualitas diri seseorang. Sikap yang konsisten untuk menjaga diri dari hal-hal yang menyebabkan datangnya kemurkaan Allah dengan menjalankna perintah-perintahnya ini, tentu akan mempunyai impliksi dalam kehidupan seseorang. Selayaknya fondasi sebuah bangunan, dia tidak hanya memperkokoh tegaknya bangunan, tetapi juga dia menjadi bagian integral yang mempengaruhi bentuk bangunan. Dalma artian bangunan tersebut akan menurut bentuk fondasinya. Dalam hal ini, ketakwaan akan mewarnai sikap dan laku seseorang, karena tingkah laku seseorang adalah cerminan dari apa yang ada di dalam dirinya.
Orang yang bertakwa akan selalu mengingat Allah. Allah swt akan selalu dihadirkan dalam setiap gerak-geriknya. Allah swt. selalu hadir dalam setiap tarikan nafasnya. dengan demikian, dia akan merasa bahwa Allah selalu mengawasinya. Maka dia akan melakukan hal yang terbaik selayaknya anak buah yang bekerja dan diawasi oleh atasannya. Bahakan lebih dari itu, karena yang mengawasi ini bukan hanya bos yang membayar kita, tetapi Dialah yang telah meciptakan dan menghidupkan kita.

Orang yang selalu menghadirkan Allah dalam setiap kehidupannya, maka Allah pun menghadirkan ornag tersebut dalam rahmatnya. Allah mencintai orang tersebut karena dia juga mencintai Allah. Sebagaiman digambarkan oleh Rasulullah saw, apabila engkau berjalan satu langkah menuju Allah, maka Allah seribu langkah mendekat kepadamu. Allah sangat dekat dengan yang dicintainya, sehingga wajar bila kemudian Dia berfirman,
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-thalaq [56]: 2-3).

Selasa, April 20, 2010

Belum Punya Judul

Kembali Rani mencoba untuk memejamkan mata. Tubuhnya mulai terasa pegal, lelah. Namun tak jua matanya bisa terpejam. Keringat mulai membasahi punggungnya. Meski udara di luar dingin, tidak demikian dengan di dalam. Sumpek, panas. Dilihatnya jam weaker yang duduk di atas kardus di sebeleh tempat dia berbaring. 01.15. sudah lebih dari tiga jam dia berbaring di tempat itu, namun tak bisa juga sedikitpun terlelap. Dilihatnya Ibu dan Naila, adiknya yang berbaring di samping kirinya. Pulas sekali adiknya itu. Lelah bermain, mungkin. Pun demikian dengan ibunya. Kelelahan nampak membayang di wajah wanita yang telah melahirkannya itu. Pastilah sesiang tadi dia telah bekerja keras membantu ayahnya membersihkan rumah.

Dua minggu yang lalu warga kampungnya dihebohkan oleh sebuah peristiwa. Waktu itu rani baru saja turun dari bus kota, pulang dari sekolah. Dia berlari kecil, sembari tangannya di atas kepala menghindari hujan yang mulai turun rintik-rintik. Dia harus bergegas tiba di rumah. Langit telah tertutup oleh awan hitam kelam. Tak lama berselang pasti akan turun hujan yang sangat lebat.
Dugaan Rani tidak meleset. Belum juga dia memasuki gang yang menuju ke arah rumahnya, bintikan air itu membesar dan semakin kerap. Angin yang sedari tadi bertiup membelai mesra, perlahan tapi pasti, berubah menjadi kencang, menjatuhkan daun-daun kering dari pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Angin semakin kencang, hujan semakin deras, seperti baru saja ditumpahkan dari lautan. Kedua mata Rani mulai terasa pedas oleh terpaan angin dan air hujan. Namun dari mata yang mulai memerah itu Rani masih bisa melihat sesuatu yang ganjil. Gulungan awan hitam berputar-putar tidak jauh dari tempat dia berdiri, berjalan menjauh. Semakin lama semakin kencang putaran itu,diiringi kilatan petir menyambar-nyambar. Gumpalan awan itu turun mencapai tanah, berputar kencang, menerjang, menyapu apapun yang berpapasan dengannya. Plastik-plastik, kertas, daun-daun, ranting-ranting pohon, kayu-kayu, seng-seng, atap rumah terbang terbawa angin. Rani hanya terpaku, diam membisu. Tubuhnya menggigil, keringat bercucuran bercampur dengan air hujan. Entah apa yang sedang dia rasakan. Kagum, takjub, takut, ngeri. Dia tak mampu menggerakkan kakinya untuk berlalu pergi. hanya kedua bibirnya yang nampak bergerak, berkomat-kamit, membaca takbir, tasbih dan istigfar.
Saat dilihatnya awan hitam itu meninggi dan hilang entah kemana, Rani ingat akan keluarganya, rumahnya. Dia pun bergegas menuju rumah. Namun malang, gang yang menuju ke arah rumahnya tertutup oleh serakan reruntuhan rumah yang diterbangkan oleh angin tadi. Dilihatnya orang-orang berlari panic, sama seperti dirinya. Ada yang menggendong anaknya, ada yang memapah istrinya, ada yang menuntun bapaknya, ibunya dan saudaranya. Tangis, teriakan, rintiham dan keluhan berbaur dalam rintik hujan yang bergerak menuju reda.
Dengan susah payah, akhirnya Rani tiba di rumah. Namun dia tidak mendapati siapa-siapa di sana. Hanya bangunan rumahnya yang porak-poranda, berantakan dan tiada beratap lagi. Dia bingung, matanya berputar-putar mencari keluarganya ke berbagai arah.
“Lek, bapak keman, lek?” Tanya Rani kepada seorang lelaki tetangganya.
“Wah, aku tidak tahu, Ran. Pak Lek juga baru datang.” Jawabnya.
“Mas, lihat bapak dan ibuku?”
“Tidak, Ran.” Jawab pemuda yang berlalu di dekatnya. “Awas, hati-hati, Ran, Banyak paku dan pecahan kaca!” imbuhnya.
Rani memasuki rumahnya yang berantakan, menuju kamarnya. Tangannya mulai mengais mencari sesuatu. Satu persatu dia temukan apa yang cari. Buku-buku itu rusak terkena air bercampur tanah. Dia terduduk memegangi buku-buku pelajrannya itu. Baju putih abu-abu yang masih dia keakan mulai tampak mencoklat oleh tanah. Jilbabnya tiada lagi mau berlambai-lambai tertiup angin. Dipeluknya buku-buku itu. Rusak semua. Padahal Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Ada air yang mengalir di kedua belah pipinya. Bukan air hujan. Air itu hangat dan mengalir semakin deras. Bahunya perlahan bergoyong oleh sedu sedannya. Semakin lama semakin kuat goyangan itu, bahkan terasa tergoncang.
“Ran, keluargamu di rumah sakit.” Rani menoleh ke arah sumber suara. Pak Lek Karim sudah berada di belakanganya. “Keluargamu di rumah sakit.” Ulangnya.
“Rumah sakit mana, Lek?” Tanya Rani kepada laki-laki yang tidak lain adalah paklek atau pamannya itu.
“Sardjito”
Tanpa berfikir panjang, dengan sigap Rani beranjak dari tempatnya duduknya. Seakan ingin berlari, dia melangkah cepat. Tujuannya tak lain adalah rumah sakit.
“Mau ke mana Kamu, Ram?”
“Rumah sakit, Pak lek.”
“Ndak usah, di sini saja! Kamu tidak usah ke sana. Keluargamu tidak apa-apa. Sebentar lagi juga kembali.”
“Tapi saya ingin ketemu mereka, Lek.”
“Sudah, kamu istirahat saja di rumah Pak Lek. Ganti dulu bajumu biar kamu tidak masuk angin. Kalau masuk anginkan kan tambah repot nanti.”
Sejak saat itu Rani tinggal bersama pak lek Karim. Demikian juga dengan semua keluarganya, bapak, ibu, Naila. Namun ada yang tidak bersama mereka, Ardian, adik Rani yang kedua, atau anak ketiga dari tiga bersaudara. Angin puting beliung siang itu telah menerbangkannya, tidak hanya tubuhnya, tetapi juga nyawanya. Ardian ditemukan sekitar 50 meter dari halaman tempat dia berdiri. Ketika itu ibu sedang memintanya membersihkan saluran air yang tersumbat. “malang sekali nasibmu.”’ Rani mengenang. Ah, sudah rindukah Tuhan denganmu sehingga segera dia memanggilmu. Ah, anak yang manis, lucu, meski sering membuat hal-hal yang membuat orang serumah marah. Tahun ini seharusnya dia mulai mengenakan seragam putih biru.
“Mbak, Ardian nanti pingin sekolah di SMP Negeri 1, biar tidak jauh dari rumah. Setelah itu Ardian mau sekolah di tempat Mbak Rani, terus kuliah di Kedokteran, biar jadi dokter. Kalau jadi dokter kan bisa membantu orang, mengobati orang sakit.” Itulah kata terakhir yang Rani dengar pagi-pagi itu saat mereka hendak pergi sekolah. Kata-kata itu masih mengiang di telinga Rani, menggema dalam relung terdalam, menggoreskan sembilu di hatinya, sedih. Sebagai manusia pun dia bertanya, adakah ini ujian dari Tuhan? Bukankah selama ini Tuhan telah menguji keluarganya dengan hidup yang kekurangan? Bapak ibunya selalu pontang-panting banting tulang mencari nafkah. Makan seadanya, tinggal di rumah yang kalau hujan turun deras, maka seakan peluru berjatuhan dari atap rumah. Ataukah ini peringatan? Mengapa dia? Mengapa keluarganya? Mengapa desanya? Mengapa bukan orang lain? Mengapa bukan Jakarta, tepatnya para koruptor itu? Ataukah ini adzab dari Mu ya Tuhan? Tapi mengapa kami, bukan mereka orang yang selalu bermaksiat pada-Mu? Sedemikian besarkah dosa kami sehinggga Engkau mengadzab kami dengan angin seperti engkau mengadzab kaum …….
Rani mengusap air matanya. Dia kembali merenung. Mungkin benar dia tidak salah, mungkin benar keluarganya tidak bermkasiat kepada Allah. Tapi bukankah akibat suatu kedzaliman itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dzalim? Bukankah orang yang tidak melakukan kerusakan juga akan mendapatkan akibat dari kerusakan yang dibuat oleh orang lain. Dan manusia pastilah merasakan akibat kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan mereka, oleh kerakusan perut mereka. Kerakusanlah penyebab kerusakan di alam ini. Hutan ditebangi, tanah longsor, bumi semakin panas, cuaca tiada beraturan. Wajar kalau belakangan ini banyak angin ribut melanda daerah-daerah di negeri ini. negeri yang sebenarnya adalah surga, di mana air mengalir di bawahnya, buah-buahan yang beraneka rupa, tinggal memetik saja, negeri yang bak zamrud khatulistiwa. Ah, negeri kaya yang salah urus. Wajar kalau Allah menyapanya dengan bencana. Mungkinkah kami tuli, ya Allah, sehingga kami tidak bisa mendengar sapaan-Mu? “Ampuni kami ya Allah!” ucapnya lirih, lebih lirih dari suara nyamuk yang terbang tepat di depan mukanya, berputar sejenak dan hinggap di pipi kiri rani. Dipukulnya nyamuk itu. Selamat, dia lolos. Terbang entah ke mana. Mungkin hinggap di adiknya, ibunya, atau pakaian yang menggantung di belakang pintu kamar.
Rani bangkit dari tidurnya, berjalan ke kamar mandi, wudlu, shalat beberapa rekaat dan tanpa sadar tertidur pulas di atas sajadahnya. Tak lama kemudian dia mendengar suara Ibunya.
“Bangun, Ran. Sudah subuh.”
***
Rani terduduk. Dia tidak berani menatap wajah perempuan yang duduk berhadapan dengannya itu. Namun demikian Rani tahu, tangan perempuan tersebut sedang membuka lembaran-lembaran kertas yang berada di atad mejanya.
“Nilai Try Out mu tidak lulus, Ran. Ibu juga heran, bukannya kamu paling suka dengan pelajaran fisika? Ibu perhatikan juga tadi kamu tertidur di dalam kelas saat pelajaran ibu. Ingat, UN tinggal beberapa hari lagi!” Ujar Ibu Marleni, guru bidang fisika sekaligus wali kelas Rani.
“Beberapa malam ini saya susah tidur, Bu. Belajar juga tidak bisa konsentrasi. Namanya juga tidur di tempat orang, bukan rumah sendiri.”
“Yah, Ibu paham, ibu mengeri. Ibu juga turut prihatin dengan apa yang menimpa keluargamu.” Hibur Ibu Marleni. “Kamu masih belum ikhlas dengan semua apa yang menimpamu?”
“Berat, bu,” kembali mata Rani mulai basah oleh air hangat, “musibah ini telah mengambil nyawa adik saya, juga merampas kesempatan saya untuk belajar di perguruan tinggi” Jawabnya. Wajahnya masih tertunduk. Matanya menatap ubin. lantai.
“Kamukan tidak sendirian, Ran. Orang lain juga banyak yang mengalami nasib seperti kamu. Malah ada yang dalam satu keluarga hanya tinggal satu orang yang tersisa. Kamu tahukan gempa yang menimpa warga bantul beberapa waktu lalu? Bukankah itu lebih besar, lebih parah dari apa yang menimpa Kamu saat ini? Kamu juga tahukan korban lumpur lapindo yang sampai saat ini belum mendapatkan ganti rugi. Rumah mereka hilang, mata pencaharian mereka raib, dan kini mereka terlunta-lunta.” Ibu Marleni merubah posisi duduknya. Disandarkannya tubuhnya ke kursi hitam itu. Tangannya kini memain-mainkan sebuah pena.
“Lalu apa yang harus Rani lakukan, Ibu?” Tanya Rani. Kini pandangannya ke arah wajah ibu Marleni yang nampak tersenyum kecil.
“Tetap semangat, tetap belajar. Kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun.” Ibu Marleni memotivasi. “Belajarkan bisa di ruang kelas, di perpustakaan, di kamar tidur, ruang tamu, di taman, di mana saja kamu bisa belajar. Bung Hatta, ketika beliau diasingkan di pembuangan di digul, beliau selalu membawa koleksi buku-bukunya. Sayyid Qutb, HAMKA, Pramoedya justru banyak melahirkan karya-karya besar mereka ketika berada di dalam penjara. Benarkan?”
“Tapi ibu, saya tidak punya bahan. Buku-buku saya banyak yang rusak.”
“Kamu bisa pinjam punya teman-teman kamu. Bisa juga dari perpustakaan.” Saran bu Marleni. “Atau kalau kamu mau, ibu bisa meminjamkan buku-buku ibu, asal kamu mau silaturrahmi ke rumah ibu. Gimana?”
“Terimakasih, bu. Saya telah banyak merepotkan Ibu. Saya jadi tidak enak.”
“Tidak apa-apa. Memang sudah semestinya begitu. Guru itukan pelayan, pelayan bagi ilmu pengetahuan dan orang-orang yang menginginkan ilmu pengetahuan.” Begitulah yang selalu diungkapankan Ibu Marleni di kelas maupun di luar kelas. Dia tidak hanya mengucapkan, tetapi juga melaksanakannya, mengabdi pada ilmu pengetahuan. “oh ya, kamu pulang bareng Ibu saja ya, Ran, sekalian ibu silaturrahmi ke tempat kamu. Maaf sejak musibah itu ibu belum sempat ke sana. Tapi kamu tunggu di gerbang ya, Ibu mau ke ruang TU terlebih dahulu.”
“Terimkasih sekali, Ibu.” Kedunaya kemudian bangkit dan keluar dari kantor guru itu. Ibu Marleni berjalan ke kantar TU, sementara Rani menuju pintu gerbang sekolah.
Keesokan harinya, Rani kembali dipanggil oleh Ibu Marleni di kantor guru. Ternyata Ibu Marleni telah membawakan buku-buku yang kemarin dijanjikannya.
“Jadi saya tidak perlu berkunjung ke rumah ibu nih.” Kata Rani kegirangan.
“Loh, kok bisa?”
“Kan Ibu sudah membawakan-buku-bukunya, jadi sayakan tidak perlu lagi mengambil ke sana”
“Ehmm…. Emang kalau silaturahmi itu harus ada kepentingannya ya, Ran.” Sergap bu Marleni. Rani menjadi tersipu malu. “Kamu nanti pulang bareng Ibu lagi?”
“Wah, terimakasih, Bu. Kebetulan saya nanti ada janji dengan Mbak Ida, mau mampir ke kosnya.” Tolak Rani.
“Siapa tuh?” Tanya Bu Marleni.
“Mbak Ida itu mahasiswa UGM. Kosnya di belakang sekolah ini kok. Dia relawan di tempat kami. Insya Allah, saat UN untuk sementara saya tinggal di kontrakan Mbak Ida, biar bisa konsentrasi belajar, dan lebih dekat dengan sekolah.”
***
Saat-saat melelahkan itu pun berlalu. Ujian Nasional dan Ujian Sekolah telah lewat, dan selama itu pula Rani tinggal di kontrakan Mbak Ida. Yang tersisa kini adalah masa-masa tegang menunggu pengumuman hasil ujian. Apapun hasilnya, Rani telah siap. Dia telah beruasa dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi ujian ini, pastilah orang akan diganjar sesuai dengan apa yang dia lakukan. Kalaupun tidak lulus tahun ini tidak mengapa, dia mengulang tahun depan. Tahun ini dia juga belum bisa melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi. Keluarganya masih belum bisa sepenuhnya keluar dari krisis. Bersamaan dengan usainya masa ujian itu pula, dia dan keluarganya sudah bisa menempati kembali rumahnya. Meski harus mendatangkan material-material seperti genteng, dan bambu dari luar Jogja karena persedian di dalam Jogja tersedot untuk rekonstruksi gempa, akhirnya rumah itu selelsai direnivasi, meski di sana-sini masih banyak barang-barang yang berserakan. Namun demikian, dia dapat menikmati masa-masa tegang itu sembari menikmati rumahnya dengan berteman sebuah novel yang dipinjam dari Mbak Ida.
Sore itu, Rani sedang asyik membaca novel di kamar tidurnya. Tanpa dia sadari, Ibunya telah berdiri di belakangnya dan menyentuh pundaknya dengan halus.
“Khusuk sekali ini anak, sampai-sampai dipanggil-panggil tidak menyahut”
“Oh Ibu, mengagetkan Rani saja. Maaf Ibu, ceritanya lagi seru-serunya, sampi Rani terbawa dalam cerita.”
“Bacanya diteruskan nanti saja ya, itu di depan ada tamu.”
“Siapa, Ibu?”
“Lihat saja sendiri sana!”
Saat Rani menyibakkan gorden pintu kamarnya, dia melihat Mbak Ida dan Mbak Galuh duduk berdampingan di ruang tamu. Di samping Mbak Galuh seorang perempuan dan dua orang lagi di sebelehnya lagi yang belum dia kenal. Perawakannya tidak jauh dari mbak Galuh, namun kulit mereka lebih putih, matanya sipit dan rambutnya lurus. Dari sisi usia, mereka bertiga nampaknya lebih tua dar Mbak galuah ataupun Mbak Ida. Rani menyalami Mbak Ida dan Mbak Galuh. Mbak Ida kemudia mengenlakan ketiga temannya itu. Yang perempuan bernama Taka, sedangakan yang laki-laki Joyko dan Tamada.
“Mereka adalah relawan gempa Jogja kemarin. Mereka datang kembali untuk meninjau bantuan rekonstruksi yang diberikan oleh pemerintah Jepang.” Terang Mbak Ida.
“Maaf, Rani bisa berbicara dengan bahasa Inggirs kan?” Tanya Mbak Galuh.
“Ya iya lah, masak ya iya donk. Orang dari SD, SMP sampai SMA belajar bahasa Inggris, masak tidak bisa ngomong bahasa Inggris” Jawab Mbak Ida mendahului aku.
“Mungkin aja lagi. Buktinya yang ada juga yang sampai lulus kuliah belum bisa bahasa Inggris.” Bela Mbah Galuh tidak mau kalah.
“Insya Allah sedikit-sedikit paham Mbak, kebetulan pernah jadi juara story telling contest di UAD semester kemarin.” Aku menengahi.
Sesaat Mbah Galuh berbincang-bincang dengan ketiga temannya yang ternyata berasal dari Jepang itu, meminta mereka untuk menjelaskan sesuatu kepada Rani, namun mereka saling melempar satu sama lain, dan akhirnya mengembalikan kepada Mbak Galuh. Dia pun kemudian menyenggol Mbak Ida, isyarat kepada Mbak ida untuk berbicara.
“Ada apa to ini, Mbak, kok main lempar?” Tanya Rani penasaran.
“Begini, Ran” Mbak Ida akhirnya bicara, “ada yang ingin kami kita tanyakan.”
“Masalah apa, Mbak?”
“Masalah studimu.” Mbak Ida merubah cara duduknya. “Kamu kan sudah lulus SMA tahun ini, nah ada rencana tida untuk melanjutkan kuliah?” Tanya Mbak Ida. Belum sempat Rani menjawab, Ibu keluar dari dapur dengan membawa teh panas di atas nampan untuk kami berenam.
“Sejujurnya Rani ingin sekali, Mbak, tapikan Rani belum tahu lulus apa tidak, kan belum pengumuman. Selain itu …” perkataan Rani terhenti sejenak. Ibu keluar dengan menghidangkan tempe dan singkong goreng di atas tiga piring. “selain itu, untuk tahun ini bapak masih krisis, Mbak, dana banyak keluar untuk biaya memperbaiki rumah.” Lanjut Rani.
“Okey, seandainya kuliah, Rani ingin di dalam apa luar negeri?” Rani tidak tahu arah pembicaraan ini.
“Dalam negeri aja, Mbak, yang murah. Itupun kalau bisa kuliah” jawabnya.
“Bagaimana kalau di luar negeri saja?”
“Maksud Mbak Ida?” Rani semakin tidak mengerti.
“Taka, can you tell her about your program?” Pinta Mbak Ida pada temannya yang perempuan Jepang itu.
“If you would study in Japan, our fondation will give the scholarship for you.” Ujar Taka singkat.
“Khususnya untuk bidang teknologi informasi.” Tambah Mbak Ida.
“Gimana tertarik?” Tanya Mbak Galuh. Rani masih terdiam.
“Ini full beasiswa, termasuk uang kuliah, living cost, buku dan visa serta transport ke sana.”
Rani masih terdiam. Dia masih belum mengerti benar apa yang terjadi di depannya. Dia merasakan bongkahan es di dadanya, dingin. Dia seakan tidak lagi menapak bumi, melayang. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya begitu plong. Perasaan yang sama saat namanya dibacakan sebagai juara satu dalam Lomba Inovasi Teknologi Tingkat SMA di Fakultas MIPA UGM beberapa bulan yang lalu. Ingin sekali rasanya di berteriak “eurika”, namun yang keluar adalah tasbih dan tahmid pujian kepada Tuhan. “Ya Allah, aku malu untuk memnta banyak hal dari-Mu, namun Engkau selalu memberiku lebih banyak dari apa yang aku minta.” Ucapnya lirih.
Hari-hari Rani selanjutnya diisi dengan persiapan kebernagktannya ke Jepang. Dibiacanya buku-buku yang membahas tentang jepang, sejarah, kebudayaan, masyarakat dan tata kotanya. Tak lupa dia juga kursus bahasa Jepang. Semua dilakoni dengan rasa bahagia. Angin putting beliung itu kini akan menerbangkannya ke Jepang.

Yogyakarta, Mei 2009

Senin, April 05, 2010

Jiwaku Tertinggal di Sana

Jiwaku tertinggal di sana
Di sepanjang jalan yang aku lalui
Jalan yang minukung tajam, menanjak, menurun
Jalan yang membawaku pada keheningan
Takjub akan keindahan

Petak-petak sawah menghampar di kemiringan
Mencipta garis-garis yang melekuk
Mungkinkah ini Atlantis?
Ah Plato, kau mininggalkan seribu misteri
dalam setiap pertanyaan

Mataku menatap jauh ke barat
Bukit-bukit kecil timbul tenggelam
di antara lembah-lembah sunyi
diselimuti awan tipis
Di sana Lawu angkuh menjulang
Mengingatkan aku akan pendakian
Lelah, namun indah

Di selatan, bukit barisan yang memagari
pulau jawa dengan lautan selatan
Paku pagi bumi ini
setia menjaga nusantara

gerimis turun merintik
menambah dingin suasana
mulutku terkatup, aku merinding, dadaku bergetar

inilah negeriku,
potongan surga yang jatuh ke bumi
maka, nikmat Tuhanmu yang manalagi
yang kamu dusatakan?

Rabu, Maret 03, 2010

Fenomena Caleg Stress

Jauh hari sebelum pesta demokrasi atau pemilihan umum (pemilu) legislatif digelar, beberapa rumah sakit jiwa (RSJ) telah menyiapkan kuota khusus bagi para calon anggota legislatif (caleg). Pada awalnya hal ini sangat menggelikan, tapi tentu saja pihak RSJ tidak bertindak asal-asalan. Mereka melihat potensi gangguan kejiawaan yang besar dari para caleg yang bertarung di pemilu 2009, yaitu caleg-caleg yang tidak lolos ke kursi dewan. Pihak RSJ menjadikan fenomena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebagai acuannya, di mana para calon mengalami strass karena gagal melaju ke tampuk kursi pemerintahan.

Stress adalah fenomena kejiwaan yang terjadi karena adanya takanan-tekanan, baik dari dalam maupun dari luar. Tekan dari dalam bisa terjadi karena tingginya keinginan, tanpa didasari dan didukung oleh kemampuan atau kapasistas. Dalam hal ini, bisa jadi ketidaksiapan untuk kalah adalah salah satu bagiannya. Sementara tekanan dari luar adalah berkaitan dengan posisi dia di masyarakat, seperti terpojok oleh pandangan masyarakat kepada orang tersebut (merasa terhina dan tersisihkan), tuntutan-tuntutan orang lainyang tidak terpenuhi, dan ketidaksipan dalam mengahdapi perubahan nasyarakat.

Kasus caleg yang mengalami stress atau gangguan jiwa bisa terjadi karena beberapa hal seperti tidak siap kalah, tidak siap untuk kehilang, sudah teralu banyak biaya yang dikeluarkan. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa kita renungkan untuk menghindari strss semacam ini.
Pertama, kembali kepada niatan. Ada yang menarik dari apa yang dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pada awal-awal 2008 tentang Nasionalisme 2009 bahwa bangsa ini mengalami satu gerakan nasionalisme baru pada tahun ini. Semua orang, entah itu pejabat, pengusaha, petani, guru, mahasiswa, dan seluruh lapisan bangsa ini meuju pada neo-nasionalisme ini, yaitu nasionalime uang. Maksudnya, melakukan segala sesuatu seolah-olah untuk bangsa ini, padahal sejatinya adalah untuk uang.

Dari fenomena yang ada, nampak jelas bahwa kebanyakan (tidak semua) para caleg dalam pemilu legislatif 2009 berorientasi pada uang. Mereka tahu bahwa gaji anggota dewan sangat besar, puluhan juta rupiah per bulan. Belum lagi ditambah dengan berbagai tunjungan. Dengan demikian dia rela mengeluarkan berapapun biayanya untuk kelancaran jalannya melaju ke kursi dewan, karena jika dia terpilih, uang tersebut akan kembali hanya dalam hitungan bulan. Orientasi ini sangat jelas terlihat dari beberapa fakta diantaranya, para caleg tersebut adalah bukan politisi, mereka adalah orang-orang yang sebelumnya berada diluar arena politik praktis, tetapi karena kepopulerannya di mata masyarakat dan mempunyai dana, maka mencalonkanlah dia menjadi caleg. Ada pula caleg yang karena diterima sebagai Pegewai Negeri Sipil (PNS) dia kemudian mengurungkan diri dari pencalonan, mungkin baginya PNS lebih menjanjikan untuk hari tuanya. Indikasi yang lain adalah mudahnya para caleg tersebut berpindah ke lain hati alias lain partai. Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian merka tidak penting lagi apa yang disebut sebagai idiologi, karena idiologi bagi sebagian mereka berarti uang.

Untuk itu, niatan awal sangatlah penting. Niat laksana pondasi bagi sebuah bangunan, kuat pondasi, kuat pula bangunannya. Rapuh pondasi, rapuh pula bangunannya, runtuh sebelum jadi. Dalam Islam pun selalu diingatkan innamal a’malu bin niyyah, sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung pada niatannya. Seseorang akan mendapatkan dari apa yang dia kerjakan sesuai dengan niatannya.

Dalam Islam diajarkan bahwa segala pekerjaan haruslah diorientasikan hanya untuk Allah SWT. Hal ini karena manusia adalah ciptaan Allah yang diberkedudukan sebagai hamba dan khalifah (wakil Tuhan). Sebagai ciptaan tentu saja kita harus mengabdi (menjadi hamba) kepada penciptanya, dan sebagai hamba, tentulah tidak bisa dibenarkan jika manusia melakukan pekerjaanya tidak diperuntukkan bagi tuannya. Dan sebagai wakil Tuhan, bisakah kita melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang kita wakili? Kalaupun bisa, itulah yang disebut sebagi pembelotan, tidak amanah, khianat.

Menjadi wakil rakyat haruslah diniatkan keran Allah semata, mengharapkan ridlha-Nya. Jadikanlah ia sebagai panggilan Allah agar kita melaksanakan fungsi kekhalifahan kita, yaitu memakmurkan bumi. Karena niatan kita adalah untuk Allah SWT, maka Allahlah yang akan menggaji kita. Dialah yang akan membalas segala amal usaha kita. Dan kita akan senantiasa dalam bimbingan-Nya. Ingat, Allah Maha Kaya. Di sini, manusia telah melampui (bukan meninggalkan) wilayah material. Dia tidak menjadikan materi sebagai orientasi atau tujuan, tetapi hanyalah alat untuk mencapi tujuan yang lebih besar, yaitu keridlaan Allah SWT. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Seorang mukhlis atau orang yang ikhlas tidak lagi menyesali apapun yang terjadi, karena bagi dia yang terpenting adalah dia telah melakukan itu karena Allah, dengan cara yang baik, dengan usaha yang keras dan gigih, dengan pola manajemen yang rapih, setelah itu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT atau tawakal.


Kedua, haruslah adakesadaran dalam diri kita sebagai manusia bahwa tidaklah mengkin segala sesuatu yang kita inginkan akan tercapai. Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam firmannya “apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?” (QS. An-Najm: 24). Dalam ayat tersebut Allah tidak memberikan jawabannya, karena jawabannya secara logis terdapat dalam pertanyaan itu sendiri.

Coba kita renungkan apa yang akan terjadi jika keinginan semua manusia di dunia ini terwujud. Semua ingin kaya, dari mana dia mengetahui dia kaya kalau tidak ada yang miskin. Semua ingin jadi penguasa, lalu siapa yang diperintah? Siapa yang akan diurus? Semua ingin jadi pedagang, lalu siapa yang memproduksi? Siapa yang membeli? Ini adalah contoh sederhana bahwa apa yang kita inginkan tidak selamanya terwujud. Keinginan kita ternyata berbatasan juga dengan keinginan orang lain, berbatasana dengan kemampuan kita, berbatsan dengan kehendak Sang Pencipta. Kesadaran inilah yang harus senantiasa kita tanamkan dalam diri kita, keluarga dan masyarakat kita. Dengan kesadaran ini, apapun yang kita dapatkan kita akan menerima dengan lapang dada, legowo. Kegagalan menjadi anggota legislatif hendaknya tidak dilihat sebagai sesuatu yang berlebihan. Mengapa kita lupa bahwa dalam setiap kompetisi ada yang menang dan ada yang kalah? Seperti sepak bola misalnya, bagiamana bisa 18 klub Indonoesia Super League semuanya menjadi pemenang? Tentu ada yang menjadi pemenang, runner up, sampai ada yang terdegradasi atau terdepak dari kancah kompetisi utama ini. hal ini sangat alamiah.

Ketiga, kegagalan dalam memperoleh sesutu yang kita inginkan memang pahit. Tidak ada orang yang ingin gagal, namun pastilah ada yang gagal. Kita pun harus bersiap, bukan hanya siap untuk menang, tetapi juga harus siap untuk kalah, untuk gagal. Meski pahit, namun kita tetap harus menalannya. Bisa jadi itu adalah obat, dan bisa jadi itu adalah yang terbaik bagi kita. Allah berfirman, “. . . boleh jadi Kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah 216).
Allah maha mengetahui. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Namun seringkali manusia tidak bisa nenangkap apa yang sebenarnya dinginkan oleh Allah dari dirinya. Keinginan yang berlebihan, ambisi yang besar, dan dada yang sempit telah menjadikan manusia tidak bisa melihat hikmah yang tersembunyi dari sebuah peristiwa. Sekali lagi, kegagalan memang pahit, namun tahukah kita apa yang ada di balik kepahitan tersebut? Bisa jadi adalah yang terbaik bagi kamu. Kata Allah. Bisa jadi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bukanlah ladang perjuangan bagi kamu, karena masih banyak ladang perjuangan yang belum banyak digarap orang.

Untuk mengetahui hikmah di balik peristiwa yang terjadi diperlukan kejernihan pikiran dan kelapangan hati, karena hikmah laksana permata yang ada ditengah-tengah lumpur. Orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap peristiwa adalah orang yang hidupnya bahagia, karena dia melihat segala sesuatu tidak dari satu arah, tetapi dari berbagai arah. Sebagai contoh, ungkapan yang sering kita dengar, atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya seperti “untung saya tidak jadi naik peasawat pertama yang ke Jogja, kalau jadi mungkin juga saya jadi korban kecelakaan pesawa tersebut.” Kata salah satu pembicara dari Kakarta dalam seminar di UGM pada hari terjadinya kecelakaan pesawat di bandara Adi Sucipto. Atau perkataan yang lain “waktu hendak pilang ke Kalimantan, untungnya duit saya hilang di semarang, sehingga saya harus kembali ke Yogyakarta. Coba kalau duait saya tidak hilang, pastilah kini saya masuk daftar korban kecelakan kapal.” Itu hanya beberapa missal saja, masih banyak yang barangkali lebih kecil mapun lebih besar dari kejadian semacam itu. Karena itu, Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu berprasangka baik kapada-Nya.

Keempat, sesungguhnya apa yang terjadi pada diri kita adalah ujian. Masihkahkita ingat kepada Allah saat diuji dengan kesengsaraan? Masih ingatkatkah kita kepada Allah saat kita diuji dengan kesenangan? Menjadikan manusia susah atau senang, kaya atau miskin, menang atau kalah sesungguhnya sangat mudah bagi Allah. Dia menjelaskan bahwa musibah yang menimpa manusia adalah untuk melihat ketakwaan seseorang, dan “supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23).

Allah mengajarkan kepada kita agar tidak terlalu menyesali apa yang telah lalu, apa yang telah hilang dari kita, entah itu waktu, harta benda maupun jiwa, karena itu adalah sifat dunia, yaitu fana, tidak abadi. Yang telah hilang biarlah dia hilang, janganlah dia terlalu difikirkan, karena hal itu akan menguras energi kita sehingga kita tidak bisa fokus lagi dalam beraktifitas. Dampaknya adalah justru semakin banyak kehilangn kita. Seandainya kegagalan menjadi caleg terus disesali, ditangisi, hasilnya adalah depresi, tekanan yang berujung pada gangguan kejiwaan. Dan apa bila orang telah mengalami gangguan kejiwaan dia juga akan mengalami gangguan spiritual keagamaan.

Sebaliknya, Allah SWT juga mengajarkan kepada kita, jika kita memperoleh apa yang kita inginkan, janganlah kita terlalu berbahagia, terlalu gembira, sehingga melupakan rasa syukur kita kepada Allah. Orang yang terlalu berbahagia biasanya akan berlanjut kepada kesombongan, membanggakan diri. Orang yang demikian akan mudah lupa kepada Allah. Gagal menjadi anggota dewan tidaklah harus disesali berlebihan, begitu juga terpilih menjadi anggota dewan janganlah terlalu bergembira. Amanah rakyat telah menanti. Jadi, baik orang yang berduka cita berlebihan dan orang yang bergembira secara berlebihan, keduanya akan mudah melupakan Allah. Barang siapa melupakan Allah, maka Allah akan melupakannya. Itu adalah janji Allah. Dan tidak ada yang melupakan kan Allah, kecuali orang yang tidak memfungsikan hati dan fikirannya. Dan inilah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Di sinilah pentingnya mengingat Allah pada saat sebelum melakukan suatu pekerjaan, saat melakukannya maupun sesudahnya dan seterusnya. Dengan selalu mengingat-Nya, maka insya Allah kita tidak akan mengalami gangguan kejiwan seperti depresi dan stress, seberat apapun persitiwa yang terjadi kepada kita. Wallahu a’lamu bihshsowab.

Selasa, Februari 02, 2010

Kita Memang Lemah

Kita, atau tepatnya saya, sering lupa, ketika mendapatkan rezeki atau keberuntungan seringkali mengatakan bahwa itu adalh hasil dari jerih payah usaha kita. Saat kita berhasil atau sukses dalam melakukan sesuatu seingkali kita menepuk dada, inilah aku, ini adalah hasil kerjaku. Begitulah seringkali terjadi. Kita sering membanggakan diri kita terhadap apa yang telah kia peroleh. Kita kadangkala sampai beranggapan bahwa tiada jasa orang lain di sana, apalagi Tuhan. Namun perlu diingat manusia juga adalah makhluk lemah, lemah seklai. Ketika kita manusia dalam keadaan lemah, apa yang bisad diperbuat?

Dua hari yang lalu saya sempatkan untuk menjenguk ayahanda teman saya yang terbaring lemah di rumah sakit. Beberpa hari yang lalu beliau tertabrak motor. Saat beliau keluar dari gang, tanpa disangka tanpa dinyana, dari arah kanan dua orang siswa SMP mengendari sepeda motornya dengan sangat kencang dan menabrak ayahanda teman saya. Dia terjatuh. Benturan keras menjadikan beliau gagar mengeluarkan darah dari telinga kirinya, gagar otak dan tidak sadarkan diri. Setalh dirawat dua hari di rumah sakit barulah beliau siuman dari pinsannya. Namun badanya masih susah digerakkan. Kepalanyapun masih-terasa pusing, dan nutrisi hanya diasup melalui infus. Aktifitas yang lain dibantu oleh anak istrinya yang dengan setia menunggui beliau. Beliau, Ayahanda teman saya itu, tidak mampu apa-apa kecuali berdoa. Yah, dalam keadaan lemah seperti itu manusia hanya bisa berdoa dan berdoa. Namun satu hal yang aku kagum, beliau tidak haya berdoa utuk kesembuhan dirinya sendiri, namun juga masih sempat mendoa untuk aku yang menjenguk waktu itu.

Di seberang ranjang Ayahanda teman saya berbaring lemah seorang anak kecil. Informasi yang saya dapat dia terkena penyakin DB alias demam berdarah. Melihat dari rupanya, anak seusia dia biasanyanya masih lincah-lincahnya dan senang-senangnya bermain dengan teman sebayanya. Namun saat itu dia begitu lemah, sama halnya dengan saya awal 2006 yang lalu, hanya karena gigitan seekor nyamuk. Aku sempat berbaring di rumah sakit selama sepuluh hari. Dalam keadaa lemah seperti itu, waktu itu, akupun hanya bisa berdoa, dana kadang berangan-angan sedikit apa yang akan aku lagkukan jika aku sembuh. Pun demikian pikiranku terhdap anak kecil yang berbaring di seberang ranjang ayahanda teman saya tersebut.

Kalau anak kecil di seberang ranjang ayahada temaku mungkin masih berfikir atau berkhayal apa yang akan dikerjakannya bila sembuh nanti, saya gak paham dengan seorang kakek yang berbaring sangat lemah di sebelah selatan ranjang ayahanda teman saya. Usianya sudah tua, pas tidak tahu, Cuma besok akan saya lihat lagi saat saya menjenguk kembali ayahanda teman saya tersebut. Saya tidak tahu pasti, namun saya bisa pastikan beberapa selang juga telah menjalar dari tubuhnya ke alat-alat medis di sampingnya. Kakek tersebut terkena penyakit jantung komplikasi. Meski bernafas saja susah, namun saya yakin kakek tersebut masih berdoa, meski tidak terapal dalam verbal dan hanya membatin dalam hati. Yah, dalam keadaan lemha, senjata kita hanyalah doa. Mari kita berdoa semoga kita selalu diberi kekuatan untuk berdoa.

Jumat, November 20, 2009

Menyegarkan Kembali Kesaksian Kita

Berbicara keyakinan, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa orang harus beragama? Atau mengapa orang harus bertuhan atau percaya akan adanya Tuhan. Pertanyaan demikian sangat wajar dan sangat alamiah, sebagaimaana kepercayaan itu juga bersifat alamiah

Kepercayaan akan adanya Tuhan dalah suatu hal yang fitrah. Dalam artian, sejak manusia dilahirkan dia telah membawa kepercayaan dalam dirinya, tetapi sifatnya masih berupa firtah atau potensial. Sebagai suatu yang potensial, dia bisa tumbuh dan berkembang, atau sirna tertimbun berbagai hal. Adanya fitrah ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal. Pertama bahwa Allah adalah Esa, semua selain dia adalah makhluk atau yang dicipta. Dalam mencipta, tentu tidak lain adalah dari diri Dia sendiri, sehingga semua makhluk tidak lain adalah cerminan dari Allah sendiri. Kedua, Allah berfirman bahwa ketika menciptakan manusia, Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia, sehingga ruh manusia tidak lain adalah bagian dari ruh Tuhan. Ketiga, ketika di alam ruh, manusia telah mengambil kesaksian bahwa Allah adalah Tuhannya, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pada dasarnya manusia telah terikat dengan sumpah primordialnya. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menunaikan sumpahnya tersebut.

Penunaian sumpah atau janji primordial tersebut adalah dengan cara “berislam”, yaitu tunduk dan patuh pada ajaran-ajaran agama. Untuk itu, asas yang palingfundamen dalam Islam adalah Syahadatain yang berbunya asyhadu an la ila alla Alla wa asyhadu anna muhammdar rasulullah. Penyaksian yang pertama adalah penyaksian bahwa tida ilah selain Allah. Kata ilah bisa diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan sandaran, orientasi atau sesembahan. Berarti, tidak ada yang menjadi seembahan, menjadi tujuan selain Allah SWT. Ini adalah pengikat anatar manusia dengan yang ghaib, sesuatu yang abstrak. Sementara syahadat kedua adalah penyaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Pengakuan ini mencerminkan kesedian kita untuk menumpuh thariqah muhammadiyah, menempuh jalan kenabian dan menjadikan nabi Muhammad SAW sebaga teladan. Ini berarti pula bahwa setiap kita membawa visi dan misi kenabian dalam kehidupan kita.

Setelah kita melakukan persaksian, ada konsekuensi yang mesti ditanggung. Pertama: bahwa Tuhan adalah wujud yang mutlak yang menjadi sumber wujud yang lain. Sebagia wujud yang mutlak, tidak mungkin akan diketahui oleh manusia yang relative, kecuali Tuhan mengenalkan diri-Nya sendiri. Sebagai sumber segala wujud, Allah adalah sangkan paraning dumadi, asal muasl kejadian. maka dari sana pulalah wujud manusia ada, dan kepada-Nyapula manusia akan kembali. Inilah makna inna lillahi wa inna ilai raji’un. Segala aktivitas yang manusia lakukan haruslah diorientasikan atau ditujukan kepada-Nya. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Apapun aktivitasnya, entah dia seorang pemimpin negara, guru, petani, nelayan, mahasiswa, harus mendasari pekerjaanya itu dengan keihklasan.

Konsekuensi yang kedua adalah paham persamaan manusia. Bahwa seluruh manusia di dunia ini mempunyai harkat dan martabat yang sama di depan Allah. Tidak ada seseorang atau stu kaumpun yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, melainkan karena alasan ketakwaannya. Takwa adalah kualitas kepribadian seseorang, yaitu sebuah sintetis antara iman dan amal shaleh. Dengan demikian, tidak selayaknya seseorang berbuat sewenang-wenang kepada orang lain, karena dengan berbuat sewenang-wenang demikian itu dia telah berusaha untuk memakai “baju Allah”.

Kelanjutan dari konsekuensi kebertuhanan itu adalah manusia harus menerima perannya, yaitu sebagai hamba (‘abd) sekaligus khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagai ‘abdullah atau hamba Allah, manusia dituntut totalitasnya untuk mengabdi, atau beribadah, menjalankan syari’at yang telah Allah gariskan. Sementara sebagai khalifa Allah, peran manusia adalah memakmurkan bumi. Dalam memakmurkan bumi yang perlu diingat adalah dia akan berhadapan dengan manusia lain yang mempunyai peran sama, dan alam semesata juga makhluk Allah yang diciptakan untuk manusia. Dalam menjalankan hal ini, manusia tidak melulu melakukan taskhir atau penaklukan, tetapi juga menjaga kelestarian alam untuk kelangsungan kehidupan manusia sendiri, untuk itu manusia harus manjalin keharmonisan dengan alam.

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dua peran manusia tersebut tidak bisa dipisahkan, karena manusia tidak akan sampai kepada Tuhan hanya dengan beribadah (mahdlah) an sich dan melupakan peran sosial atau kekhalifahannya. Rahmat atau kasih sayang Allah ahanya dapat diperoleh ketika manusia tersebut mengasihi manusia lainnya. Allah akan peduli kepada seseorang apabila orang tersebut peduli kepada sesamanya. Inilah makna dari irham man fi al-ardhi yarhamka man fi as-sama’, sayangilah apa yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh apa yang ada di langit, dan juga “la yu’minu ahadukum hatta yuhbba li nafsihi ma yuhibba li akhihi”, tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri. Rumusnya sederhana, apabila engkau ingin disayangi, maka sebarlah kasih sayang kepada siapapun. Karena, pada dasarnya, orang lain sama dengan diri kita sendiri, tidak ingn disakiti, tidak ingin dizalimi, tidak ingin dirugikan. Untuk itu, yang tidak kalah penting adalah memahami diri kita terlebih dahulu. Barangsiapa mengenali dirinya, maka sesunggunya dia telah mengenal Tuhannya, man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu.

Dengan mencintai, dengan memberi, dengan berbuat adil, di sanalah sebenarnya kita sedang bersyahadat, bersaksi bahwa Allah itu ada, dan keberadaannya itu hadir dalam setiap ciptaannya, dalam setiap tingkah laku kita. Karena keyakinan tidak sebatas percaya dalam diri, atau berhenti dalam ranah intelektual kita, tetapi yang tidak kalah penting adalah pada laku kita. Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan keyakiinan dan pengetahuannya tidak disebut sebagai orang mu’min atau orang yang meyakini. Amal shaleh adalah wujud nyata dari keyakinan. Untuk itu kata iman dalam al-quran selalu disintesiskan dengan amal shaleh. Dalam amal shaleh itulah sebenarnya manusia mnge-ADA. Wallahu a’lam bishawab.

Ironi Hukum Kita

Ada yang mengiris hati saya ketika membaca KOMPAS pagi ini (20/11), seorang ibu diajukan ke pengadilan karena dia ketahuan memetik tiga biji buah kakuo. Yah 3 buah, hanya tiga buah. Dan bisa ditebak, sang ibu atau tepatnya sang nenek pun dijatuhi hukuman. Itulah realitas hukum di negeriku tercinta ini. kasus ini saya kira bukan yang pertama dan bukan satu-satunya.

Saya kira masih banyak kasus yang serupa yang tidak terekspos oleh media massa. Mengapa KOMPAS mengangkatnya. Ini tidak terlepas dari gonjang-ganjing persoalan hukum di negeri ini. kasus makelar kasus (markus) dan para Mafioso peradilan merajalela di negeri ini. orang yang memakan harta rakyat miliaran atau bahkan triliunan rupiah masih dapat berkeliaran. Para pejabat yang kurupsi ratusan juta tidak sempat mencium hawa penjara. Inilah hukum Indonesia. Uang dan kekuasaan lebih banyak berbicara ketimbang keadilan itu sendiri. keadilan adalah barang mahal di negeri yang sedang mengalami krisis hati nurani ini. bukan berarti saya sepatak dengan apa yang dilakukan sang nenek, tetapi saya hanya merasa miris. Sungguh ironis dan kontradiktif.

Hukum di negeri ini adalah laksana pisau bermata satu, dia akan begitu tajam bila berhadapan dengan wong cilik, rakyat jelata, orang tidak berpendidikan, namun menjadi tumpul jika berhadapan dengan para pengusa dan konglomerat. Hukum dapat dibeli, sehingga siapapun yang mempunyai uang pastilah dia akan menguasai hukum. Pagi para hakim pun demikian, kebahagian bukanlah ketika dia mampu memutus perkara dengan keadilan, tetapi bagaimana ketika suatu perkara telah diputus dia mendapatkan uang yang banyak.

Uang berbicara banyak di sini. Uang yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang kalah. Semua karena uang. Orang mau melakukan manipulasi terhadap hukum juga karena uang. Uang menjadi tuhan. Sungguh kasihan manusia yang menjadikan uang sebagai tuhannya. Mereka itulah orang-orang yang dalam setiap aktivitasnya dilakukan untuk mendapatkan uang lalu membelanjakannya. Dia makan demi uang, dia minum demi uang, di tidur demi uang, dia bekerja untuk uang, berkunjung ke saudara ke teman karena alasan uang. Bagi orang yang menjadikan uang sebagai tuhan apa yang dilihat adalah uang, atau minimal berpotensi menjadi uang.

Sungguh rendah sekali manusia yang menjadikan uang atau kekayaan sebagai tuhannya. Uang adalah hasil kreasi manusia. Sebagai sesama makhluk Tuhan jelas uang jauh lebih rendah derajatnya dari manusia. Dengan menjadikan uang sebagai tujuan setiap aktivitasnya, berarti manusia tersebut telah merendahkan dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dalam Al-Quran bahwa manusia telah diciptakan dalam keadaan paling baik, sempurna, ahsanu taqwim, namun diantara mereka ada yang dikembalikan pada derajat paling rendah, yaitu orangorang yang tidak beriman. Iman bukan tidak mengakui akan adanya Tuhan, tetapi juga berarti menjadikan Tuhan sebagai Tujuan awal dan akhir setiap aktivitas keseharian kita.

Bagi insan-insan kehakiman, sebagai hakim, hendaklah sadara bahwa kata hakim itu tidak lain lain dari nama Tuhansediri. Al-Hakim, Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana. Manusia adalah pencerminan diri Tuhan, untuk itu Rasul SAW bersabda takhalaqu bi khuluqillah, berakhlaklah dengan akhlak tuhan. Dengan demikian seorang hakim hendaklah pada dirinya juga terdapat sifat al-Hakim,dengan demikian sesungguhnya dia telah berjalan menuju Tuhan, dia menjadi wakil Tuhan dan dia menjadi saksi akan keadilah Tuhan. Haruskakn Tuhan sendiri yang mengadili kita, sekarang juga?