Rumahku Surgaku
Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.
Allah Maha Pemurah
Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.
Di Atas Langit Masih Ada Langit
Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.
Jalan Hidup
Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.
Lebah
Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.
Minggu, Oktober 20, 2013
Mengapa Menikah?
Kamis, November 08, 2012
Rasa Sunyi
Aku tidak menuduh nara sumber pada acara Just Alvin sebagai pembohong, karena aku yakin pengalaman orang memang beda-beda. Apa lagi ini tentang rasa yang tentunya sangat subjektif sekali.
Obrolan tentang rasa sunyi ini memang tidak sebanyak obrlan tentang rasa cinta. Namun ada saja orang yang membicarakannya, bahkan mengindentikan dirinya dengan rasa ini. Salah satu contoh adalah adalah temanku yang penyaair menjadikan Keradjaan Sunyi sebagai nama situs pribadinya. “ di sinilah aku bersemayam”, ujarnya. Memang sebagian penyair menjadikan kesunyian sebagai inspirasi puisi-puisinya. Mungkin yang lain masih ada, namun hanya itu yang aku tahu.
Ah, apa sih sunyi situ? Mungkin pertanyaan itu perlu dijawab terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan pertama.
Berbicara tentang definisi, biar lebih absah akan aku ambilkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia saja (KBBI) biar kita tidak terlalu berdebat. Kalo mau berdebat, debatlah si penysun kamus.
Dalam KBBI edisi IV disebutkan sunyi adalah tidak ada bunyi atau suara apa pun; hening; senyap. Jadi kira-kira jika Anda mendapatkan diri Anda tidak mendengar suara apa pun, itulah sunyi. Namun gini, ketika aku berada di tengah hutan pada malam hari sendirian apakah itu berarti aku dalam kesunyian? Jika yang dikatakan sunyi itu tidak ada suara, bukankah saat itu ada suara, seperti suara jangkrik, suara burung hantu atau suara angin yang bertiup menggerakkan daun-daun.
Ya, aku setuju denganmu. Suara-suara yang dimaksud di sini adalah suara manusia. Suatu suasana dikatakan sunyi jika telinga kita tidak menangkap suara-suara manusia. Semisal saat kita terbangun dini hari, saat manusia tertidur, saat itulah kita merasa sunyi.
Tapi gini, aku pernah gak sampean merasa sepi padahal banyak orang di sisi sampen. Seperti lagunya Dewa “di dalam keramaian aku masih merasa sepi”. Jika pernah, berarti kesunyian tidak semata-mata keberadaan orang-orang di sekitar kita, yang lebih penting lagi adalah kehadiran. Karena sering kali orang yang ada di sekitar kita tidak menghadirkan jiwanya kepada kita. Atau kadang kita sendiri yang tidak menghadirkan diri kita di tempat kita berada itu. jiwa kita entah melayang kemana. Dengan demikian, rasa sunyi adalah ada tidaknya orang-orang di dalam jiwa (perhatian) kita. Lebih khusus lagi, orang-orang itu adalah orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita (kita sayangi). Rasa sunyi ada ketika kita ditinggal pergi orang-orang yang kita cintai.
Kembali ke pertanyaa awal, pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sepi? Jawabku, tidak. Aku tidak pernah tidak pernah merasa sepi. Dalam kata lain, aku pernah merasa sepi. Mungkin juga sering. Bagaimana denganmu?
Kamis, Agustus 09, 2012
JALAN YANG TAK SUNYI
Ada yang mengenalnya sebagai seorang budayawan. Ada yang mengenalnya sebagai seorang penyair. Ada yang mengenalnya sebagai seorang penyanyi. Ada yang mengenalnya sebagai seorang aktivis sosial. Ada orang yang mengenalnya sebagai seorang kiai mbeling. Begitulah orang mengenal sosok Muhammad Ainun Najib atau yang lebih dikenal dengan Emha atau Cak Nun. Tak ada yang salah dengan kesemuannya itu, karena memang Emha melakoni hal-hal tersebut. bahkan bagi sebagain orang Emha adalah seorang mursyid, penunjuk jalan pulang, meski Emha sendiri tidak pernah mau dirinya disebut mursyid. Baginya, ia adalah rembulan yang memantulkan cahaya matahari ke bumi sehingga bumi menjadi terang oleh cahaya ilahi.
Minggu, Juli 01, 2012
SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2012
Ketentuan Umum
• Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
• Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
• Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
• Tema bebas.
• Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
Ketentuan Khusus
• Panjang naskah minimal 150 halaman A4, spasi 1,5, Times New Roman ukuran 12.
• Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap pada lembar tersendiri, di luar naskah.
• Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2012
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330
• Batas akhir pengiriman naskah: 30 Agustus 2012 (cap pos atau diantar langsung).
Lain-lain
• Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2012 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada bulan Desember 2012.
• Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
• Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
• Pajak ditanggung pemenang.
• Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2009-2012 dan keluarga inti Dewan Juri.
• Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id.
• Dewan Juri terdiri dari kalangan sastrawan dan akademisi sastra.
Hadiah
Pemenang Utama : Rp. 20,000,000,-
Empat Unggulan : @ Rp.4,000,000,-
Kamis, Juni 28, 2012
Guru: Mengajar itu Memanusiakan
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Kaifa, Bandung.
Tahun : Pertama, Mei 2011
Halaman : xx + 253
Apa yang menjadi faktor terpenting dalam kemajuan sebuah bangsa? Jawabannya adalah pendidikan. Dua negara maju saat ini bisa kita jadikan sebagai rujukan, yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Kemajuan dua negara tersebut tidak bisa dipisahkan dari baiknya sistem pendidikan yang mereka miliki. Pendidikan menjadi prioritas utama mereka, karena mereka sadar bahwa tanpa adanya sistem pendidikan yang baik, tidak akan lahir generasi yang unggul yang dengan ilmu pengetahuannya dapat menguasai sendi-sendi kehidupan ini.
Lalu apa yang menjadi faktor terpenting dalam pendidikan? Tak lain dan tak bukan adalah guru. Guru adalah orang yang menentukan kualitas sebuah generasi, karena dari dan oleh merekalah ilmu pengetahuan dan nilai ditransfer kepada sebuah generasi. Bukan suatu yang mengherankan jika sesaat setelah pengeboman yang meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima tahun 1945, Kaisar Hirohito dalam pidatonya menanyakan jumlah guru yang selamat. Tak lain karena sang kaisar sadar bahwa guru adalah tulang punggung kemajuan suatu bangsa. Hingga kini, guru mendapat perhatian yang tinggi di negara tersebut.
Hal yang sama juga terjadi di Finlandia. Menyadari akan peran penting guru bagi kemajuan bangsanya, Finlandia menempatkan guru sebagai profesi terhormat. Pemerintah Filnlandia menempatkan angggaran pendidikan pada prioritas utama, dan yang paling besar adalah untu gaji guru. Konsekwensinya, seseorang harus bersaing ketat untuk masuk pada jurusan pendidikan. Dengan demikian kualitas guru di negara tersebut sangat terjaga. Lalu, bagiamana dengan kualitas pendidikan dan guru di Indonesia?
Harus diakui bahwa kesadaran akan peran penting pendidikan bagi kemajuan sebuah bangsa yang perlu mendapat prioritas utama masih belum terbangun di negeri ini. Pemerintah, dengan berbagai alasan, belum berani menjadikan pendidikan sebagai investasi terbesarnya, dengan demikian guru masih menjadi profesi tingkat rendah di negeri ini, apalagi jika dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya seperti pegawai bank atau pegawai kantoran. Banyak yang menjadi guru lantaran tidak diterima di bidang lain. Mau tidak mau, hal ini akan berdampak pada kualitas guru.
Stereotip di atas hanya satu permasalahan dari segunung permasalahan keguruan di tanah air ini. Permasalahan yang lain adalah dari dalm diri guru sendiri. Masih banyak guru yang mengajar dengan menggunakan paradigma lama yang menganggap anak sebagai tong kosong yang perlu diisi dengan air (banking system learning). Anak tak ubahnya sebuah robot yang menerima program begitu saja tanpa ada penolakan. Permasalah yang lain adalah rendahnya komitmen para guru. Tidak sedikit guru yang hanya sekedar menyampaikan materi tanpa memedulikan apakah anak paham atau tidak terhadap materi tersebut, karena yang terpenting materi akan habis di akhir semester. Begitulah yang dilakukan sepanjang semester sepanjang tahun. Ditambah lagi dengan metode mengajar yang monoton yang tidak menumbuhkan keinginan anak untuk memahami pelajaran tersebut.
Dengan kondisi guru seperti di atas, maka pendidikan Indonesia masih jauh untuk bisa dikatakan maju atau berkualitas. Akibatnya hingga saat ini indeks pembangunan manusia Indonesia masih di bawah negara-negara tetangga yang dari usia lebih muda dari kita. Bahkan dari dua hasil penelitian berbeda yang dihimpun oleh seorang konsultan pendidikan, Indonesia menempati urutan keempat dari bawah pada penelitan pertama dan urutan kedua dari bawah pada penelitian kedua. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan meningkatkan kualitas pendidikan kita. Itu berarti meningkatkan kualitas para guru dan mencetak guru-guru profesional, karena hanya guru profesionallah yang mampu melakukan sebuah transformasi. Lalu seperti apa guru profesional tersebut?
Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan dan pakar Multiple Intelligences (sebuah teori yang saat ini menjadi landasan pendidikan hampir di seluruh dunia), menggambarkan guru profesional itu dalam bukunya Gurunya Manusia; Menjadikan Semua Anak dan Semua Anak Juara, dengan satu profil yaitu Gurunya Manusia. Menurut Munif, Gurunya Manusia adalah guru yang fokus kepada kondisi peserta didik. Semakin banyak data dan informasi tentang kondisi peserta didik, akan semakin memudahkan guru masuk ke dunia siswa (hal. xviii). Dan syarat utama untuk menjadi Gurunya manusia adalah ia tidak pernah berhenti belajar (hal. 64), karena dengan terus belajar inilah seorang guru dapat terus mengembangkan kemampuannya.
Munif Chatib menuliskan setidaknya ada tiga kata kunci yang harus tertanam pada Gurunya Manusia., yaitu paradigma, cara dan komitmen. Dan ketiga kata kunci itu bisa dijabarkan dalam enam hal:
Yang pertama, guru harus mempunyai cara pandang bahwa yang diajar adalah manusia yang tak lain adalah makhluk dinamis, dan setiap anak adalah juara, setiap anak mempunyai potensi kebaikan, dan kemampuan anak berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian tidak ada anak yang bodoh. Paradigma ini telah dijelaskan panjang lebar oleh Muif dalam bukunya yang pertama, Sekolahnya Manusia (Kaifa:2009). Kedua, guru harus mempunyai cara pandang bahwa mengajar adalah pekerjaan seni tingkat tinggi yang harus dilakukan dengan hati. Ketiga, guru harus memahami kemampuan dalam arti luas. Kemampuan siswa tidak dipahami hanya dalam artian sempit saja, yaitu kognitif, tetapi juga harus diakui kemampuan psikomotorik dan afektifnya. Keempat, gurunya manusia harus menjadi “penyelam” untuk terus mencari kemampuan siswa. Hal ini di dasari oleh cara pandang bahwa setiap siswa adalah juara. Tugas guru adalah menggali potensinya sampai ia menemukan kemampunnya dan setelah ketemu guru lalu menjadi katalisator (pemantik) kemampuan siswa tersebut.
Kelima, Gurunya Manusia adalah guru yang mengajar dengan cara menyenangkan. sekolah bukanlah penjara bagi siswa, melainkan arena anak untuk belajar. Dan belajar yang baik adalah ketika pelajaran itu masuk kedalam memori jangka panjang (long term memory) siswa. Hal itu bisa terjadi jika proses pembelajaran berlangsung dengan cara yang menyenangkan. Dan yang keenam, Gurunya Manusia adalah sang fasilitator. Gurunya Manusia sadar bahwa subjek belajar yang utama adalah siswa. Sebagai subjek, siswa tidak boleh dibiarkan pasif, mereka harus terlibat aktif dalam pembelajaran. Dengan enam modal dasar tersebutlah, seseorang dapat menjadi guru profesional atau Gurunya Manusia.
Namun seakan belum puas membekali para guru dengan enam modal dasar menjadi Gurunya Manusia tersebut, dalam buku ini Munif juga memberikan strategi-strategi pembelajaran dengan Multiple Intelligences, bagaimana cara mendesain pelatihan guru dan kiat-kiat praktis bagaimana menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) yang kreatif. Untuk itu, buku ini layak menjadi bacaan wajib tidak hanya para guru, kepala sekolah, pengurus yayasan dan praktisi pendidikan lainnya, tetapi juga bagi para pengambil kebijakan di negeri ini.
Rabu, Juni 27, 2012
Tampilan Blog
Tidak salah memang berpikir subtansialis, namun kita juga harus ingat semboyan ekonomi, “orang tidak hanya membeli isi, tetapi juga membeli kemasannya. Saya kira itu pula yang berlaku di dunia blogging. Orang tidak hanya melihat dari konten, tetapi kadang orang singgah hanya untuk melihat penampilan blog. Atau orang yang semula tidak berminat membaca namun keran melihat tampilannya menarik, orang pun jadi tertarik membaca. Bukankah salah satu kebahagian penulis adalah ketika tulisannya dibaca orang?
Akhirul kalam, MET BLOGGING.
Berteman Tanya
Perjalanan yang panjang
Tujuan telah ditetapkan
Arah telah ditentukan
Adakah yang berkenan berjalan di sisiku?
Tanya itu menggema
Tanya itu terbawa
Langkah itu terukir
Dalam setiap jejak langkahku
Dalam setiap tetes keringatku
Lalu menguap bertransformasi menjadi gelombang
Gelombang menjadi energi
Energi merambat sampai entah kepada siapa
Hanya Tuhan yang tahu
Yang kau tahu
Perjalannku kini hanya ditemani sebuah tanya
29/09/2011
















