11 Februari, 2012

Jika Rasa Itu Hilang....

Saat menjadi mahasiswa, saya sering diminta untuk memandu pelatihan mahasiswa. Bagi saya memandu sebuah pelatihan adalah suatu hal yang menyenangkan, karena selain saya dapat mentransfer pengetahuan saya, saya juga dapat belajar lebih banyak hal lagi. Namun ada hal lain yang bersifat eksterna yang membuat saya senang, yaitu saya bisa mengaktualisikan hobi saya: bermain kamera. Dengan kamera saya bisa mengambil gambar peserta (baik berupa video maupun foto). Hasil jepretan dan shoot saya itu kemudian saya edit dan saya tayangkan setelah seremonial penutupan. Wal hasil, para peserta pelatihan pada tertawa melihat gambar-gambar mereka.

Tentulah tidak semua peristiwa dalam pelatihan tersebut bisa saya abadikan. Hanya beberapa peristiwa “yang menarik” saja yang saya ambil seperti penjelasan pemateri yang unik, aktivitas peserta yang bersemangat, saat mereka makan bersama atau saat ada yang tertidur saat pemateri sedang sibuk dengan segudang teori. Bagi saya, peristiwa-peristiwa itu sangat eksotik untuk didokumentasikan dan dikenang.

Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala pasti beda. Itu pula yang dapat saya tarik kesimpulan saat saya mengoprasikan kamera saya. Ekspresi tiap orang berbeda-beda. Jika mau digolongkan, setidaknya ada tiga tipe orang dalam menghadapi kamera. Yang pertama, orang tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dalam sebuah video. Orang seperti ini akan berbuat sesuai dengan kesadaran dia yang alamiah. Yang kedua, orang yang sadar bahwa dirinya sedang diabadikan dengan kamera, namun ia mengacuhkannya, tidak peduli dengan keberadaan kamera tersebut. Sementara yang ketiga adalah orang yang sadar kamera. Ia sadar bahwa ia sedang direkam dan kemudian bertingkah sebaik mungkin agar gambarnya nantinya tidak mengecewakan.
 
Saat hasil rekaman itu ditayangkan, berbagai reaksi pun muncul. Seperti yang saya katakan di awal, kebanyakan mereka tertawa. Namun di balik tawa itu ada bermacam rasa yang hadir. Bagi tipe orang yangpertama, ia mera kaget karena ia baru tahu bahwa sebenarnya saat pelatihan tersebut ada yang mengabadikan tingkah lakunya. Bisa jadi ada rasa kesal pada orang yang mengambil gambar yang tidak bilang-bilang saat mau mengambil gambar. Seandainya saja di tahu, mungkin dia akan bertingkah selayaknya tokoh protagonis.
 
Tipe orang yang kedua, dia baru sadar ternyata gambar-gambar dia akan ditayangkan. Dia pun menyesal karena sebenarnya dia tahu, namn dia mengabaikannya. Dan orang yang ketiga dia merasa bahagia, karena gambar yang tayang adalah gambar yang bagus-bagus meski tidak diedit lagi. Dengan demiian dia tidak perlu malu lagi.
 
Saya ingin menarik keluar sedikit cerita saya di atas. Kemajuan teknologi saat ini sangat pesat. Setiap detik ada penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan. Salah satu penemuan yang canggih itu adalah satelit kamera. Satelit ini bisa mengambil gambar dari luar angkasa yang kemudian di transfer ke bumi. Dengan teknologi semacam ini, seseorang bisa mengetahui keberadaan orang lain di muka bumi ini. Alat ini biasanya digunakan untuk mematai-matai orang yang dianggap sebagai musuh. Namun teknologi ini masih kurang jeli, karena seringkali ia kehilangan objek disebabkan oleh siatuasi alam.
 
Berbeda dengan teknologi di atas, ada kamera yang merekam dengan sangat detail setiap kehidupan manusia, bahkan sejakk ia masih dalam kandungan. Kamera ini tidak akan rusak dan ia tidak akan salah dalam mengambil gambar. Ia juga tidak terpengaruh dengan posisi objek. Kamera tersebut bisa bernama al-Bashir, al-‘Alim maupun al-Muhith. Kamera itu adalah “Mata” Allah. Sebagaiman dokumentasi pada pelatihan di atas, hasil rekaman ini juga akan di tayangkan pasca seremoni penutupan kehidupan dunia. Bedanya ia tidak diedit dan hanya sang pemain itu sendirilah yang menyaksikannya. Dengan demikian ia tak perlu malu dengan orang lain. Ia hanya perlu malu kepada dirinya sendiri, dan tentu saja kepada Sang Pembuat video tersebut. jika video pelitahian di atas tidak memengaruhi apakah ia lulus pelatihan atau tidak, sialnya video ini akan sangat memengaruhi kelulusannya. Jika rekamannya baik, maka ia lulus dan berhak untuk tinggal di sebuah istana di surga. Namun jika rekamnnya buruk, ia harus mampir di nereka. Bisa sejenak, bisa lama, bisa juga untuk selama-lamanya. Seratus persen itu tergantung dari cara ia berakting dalam film kehidupan.
 
Beruntunglah orang yang sadar kamera, karena ia akan merasa terus diawasi. Dengan demikian ia akan bertingkah sebaik mungkin layaknya seorang bintang film layar lebar. Dan kesialanlah bagi orang yang tidak (mau) sadar akan kamera agung Allah. Yang ia dapat hanyalah rasa malu dan penyesalan diri. Lalu bagaimana agar kita tidak malu nanti di hadapan Sang Pengadil? Caranya adalah, miliki rasa malu itu sejak saat masih di dunia ini. Malu kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan malu kepada Allah. Malu jika kita berbuat keburukan. Malu jika kita berakting tidak sesuai dengan keinginan Sang Sutradara. Rasa malu itu yang akan menyelamatkan kita. Rasa malu itu pula yang membuat manusia menjadi terhormat. Jika rasa itu telah hilang, maka manusia akan jatuh dalam lubang kehinaan, manusia akan menjadi seperti binatang, atau bahkan lebih buruk. Jika kamu tidak merasa malu berbuatlah sesukamu, kata Nabi.
 
Jika kita melihat kondisi bangsa ini tentu kita merasa prihatin. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh berita kekerasan yang terjadi di mana-mana. Di sisi lain para penguasa negeri ini berebut kue kekuasan dengan menghalalkan segala cara. Korupsi terjadi dari tingkat pusat sampai tingkat RT. Jika dulu orang merasa malu melakukan kesalahan, sekarang kata malu itu menjadi tabu.
 
Adanya korupsi tak lain karena telah hilangnya rasa malu sang koruptor tersebut, baik malu pada diri sendiri, orang lain maupun pada Allah. Selain itu ia juga kehilangan kesadarannya bahwa “kamera” Allah selalu merekamnya. Pun demikian, orang yang membuang sampah sembarangan juga orang yang telah kehilangan rasa malu dan kesadarannya. Itulah mengapa Nabi mengatakan bahwa malu itu separo dari iman. Artinya orang yang telah kehilangan rasa malunya ia telah kehilangan separo imannya. Sedangkan surga hanya untuk orang-orang yang berimana secara sempurna (kamil).

Film apa yang mau kita tonton saat menanti Pengadilan Tertinggi nanti? Apakah film yang berkualitas yang pemainnya bermain sesuai dengan instruksi Sang Sutradara? Atau film yang pemainnya bermain asal-asalan karena tidak pernah membaca naskah dan mengikuti instruksi Sang Sutradara? Pilihan itu semuanya terserah Anda. Namun sekedar mengingatkan, telah banyak orang yang semula dianggap terhormat harus hancur karir dan kehidupan keluarganya karena “film buruknya” diputarkan oleh Allah di dunia ini.
 
Sebagai kata pentup, saya nukilkan doa dari Ali bin Abi Thalib kw. Yang diajarkan kepada Sabahat Kumail: wahai pelindungku, betapa banyak kejelekan yang Engkau tutupi,...., betapa banyak pujian baik yang tidak layak bagiku telah engkau sebarkan,....,janganlah Engkau ungkap dengan pantauan-Mu rahasiaku yang tersembunyi, janganlah Engkau segerakan siksa atas perbuatanku dalam kesendirianku.

04 Februari, 2012

Mengajar dengan Hati

Hari ini kuucapkan alhamdulillah, ya Allah. Tahun ini, aku mendapat karunia dengan masuknya anak-anak yang luar biasa, yang membuatku tertantang menjadi agent of change bagi diri mereka dan diriku sendiri. Terimakasih, ya Allah! Tahun ini aku belajar dari ‘siswaku yang tidak bisa diam’, aku belajar dari siswaku yang sulit memahami materi, aku belajar dari siswaku yang nakal, yang setiap hari terus menggodaku. Aku benar-bernar bersykur ya Allah, Engkau hadirkan mereka untuk aku. Bagiku, mereka adalah rezeki. Bagaimana tidak, ilmuku bisa bertambah karena kehadiran mereka. Kesabaranku bisa berlipat-lipat karena kehadiran mereka. Dan yang paling kunikmati adalah ketika mereka tersenyum dan membiisikan sebuah kalimat di telingaku, “Guru ternyata aku bisa!” bagaimana aku tidak berterimakasih kepada-Mu, ya Allah, jika kenikmatan hati ini terus menerus muncul dari hari kehari di kelasku. Ya Allah .... berikan kekuatan kepadaku untuk terus berjuang menjadikan mereka insan-insan yang kelak akan punya manfaat, bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agamanya. Amin ya Rabbal ‘alamin. (Diambil dari Gurunya Manusia, Munif Chatib)

Dongeng Sebelum Tidur

Setelah buaya-buaya itu berbaris, kancil melompat-lompat di atas punggung buaya-buaya itu hingga ia sampai di seberang kali. Kancil pun bisa menyebrangi kali itu dengan selamat. Ia mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada buaya.

Saya masih ingat betul cerita di atas dan bagiamana cara ibu saya mengkhiri cerita itu dengan ungkapan “pak BU dari kiri pak Bar dari kanan, BUBAR”. Saat itu pula baru saya mau tidur. Itu terjadi saat saya masih kecil dan belum bisa baca tulis.

Sekelumit Latar Belakang Tulisan

Dongeng Sebelum Tidur hanyalah surevei kecil-kecilan yang saya lakukan dalam waktu yang sangat singkat ketika saya masih di Yogyakarta. Awalnya saya sedang menulis tentang kisah-kisah nabi dan orang-orang terdahulu. Saya ingat, saya juga mendapatkan cerita tersebut karena kisah-kisah yang diceritakan menjeleng tidur oleh ibu atau bude saya, tentu waktu itu saya masih kecil. Selain itu, kisah yang sering menjadi pengantar tidur saya adalah kisah Kancil dan Pak Tani, Timun Emas, Bawang Merah dan Bawang Putih, dll.
Karena saya ingin mengkontekskan tulisan saya dengan perkembangan saat ini, maka saya bertanya kepada rekan kerja saya tentang dongeng yang sering mereka kisahkan. Alangkah kagetnya saya, ternyata dari 4 orang rekan saya, hanya satu yang masih sering mendongeng untuk anaknya. Yang satu beralasan karena sering kerja sampai malam (kerjanya di rumah) sehingga dia tidak bisa mendongeng untuk anaknya yang tidur sejak sore.
 
Dari rasa ingin tahu saya itu, saya melakukan survai sederhana. Hasilnya adalah separo dari responden saya menyatakan tidak lagi mendongeng untuk ananknya menjelang tidur.tentu saja dengan berbagai alasan, dari karena sibuknya dengan pekerjaan, tidak bisa mendongeng, atau karena anaknya senang tidur di depan televisi, sehingga dongen itu secara otomatis digantikan oleh kotak ajaib itu.

Mengapa Dongeng Sebelum Tidur?

Pada tahun 1924, Richard Caton, seorang dokter dari Inggris, menemukan bahwa ada muatan listrik dalam kulit otak manusia. Temuan ini kemudian ditruskan oleh Hans Berger (neurolog asal Jerman) yang mencetak gelombang otak dari muatan listrik itu di atas sebuah kertas. Pada perkembangan mutakhir, gelombang itu dibedakan menjadi empat, yait Gelombang Delta, Teta, Alfa dan Beta. Gelombang-gelombang tersebut menggambarkan kondisi otak pada saat-saat tertentu. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Delta adalah kondisi otak yang sedang tidur tanpa imipi, Teta adalah kondisi tidur dan bermimpi, alfa adalah kondisi rileks dan beta adalah kondisi stres.
 
Dari empat gelombang tersebut, kondisi yang paling baik untuk menerima informasi adalah delombang alfa, yaitu saat otak kita sedang rileks tapi waspada. Kodisi seperti ini bisa tercipta saat seseorang sedang merasa senang atau saat seseorang sedang merebahkan badannya untuk tidur. Sebagai buktinya, saat seseorang bangun tidur yang akan ia ingat pertama kali adalah apa yang terjadi sebelum tidur itu. Bisa kita bayangkan jika setiap malam anak tidur di depan televisi yang menyala, maka yang masuk dalam memori anak adalah tayangan-tayangan televisi, yang malangnya kita tidak bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan (televisi tanpa bayar).

Manfaat Dongeng
Sebenarnya sudah banyak yang tahu manfaat dari dongeng, namun banyak pula yang lupa tau bahkan sengaja melupkannya. Apalagi di jaman modern ini banyak sekali kehadiran manusia yang digantikan oleh mesin. Padaha sebenarnya banyak hal yang bisa diambi dari dongeng.
 
Pertama: dongeng dapat meningkatkan daya pikir dan imajinasi anak. Tak bisa dipungkiri bahwa kreativitas lahir dari imajinasi. Saat orang tua sedang mendongeng, saat itu pula imajinasi anak bekerja. Semisal orang tua menceritakan istana Nabi sulaiman yang sangat megah di mana lantainya terbuat dari kaca sperti aquarium, saat itu pula sang anak akan mengkreasikan istana dalam otaknya. Saat dewasa dan ingin membangun rumah, bisa jadi yang tergambar nantinya adalah istana nabi Sulaiman.
 
Kedua: dongeng adalah saran yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral. Belajar yang paling baik bagi anak adalah saat anak belajar tanpa ia meras digurui. Dengan dongen, orang tua tidak serta merta menyuruh anak berbuat kebaikan, tetapi anak akan belajar sendiri dari tokoh-tokoh yang ada dalam dongeng tersebut. Anak bisa belajar kejujuran dan kesabaran dari cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, anak bisa belajar bahwa orang yang bodoh akan mudah ditipu dari cerita kancil. Dan masih banyak lagi nilai moral yang bisa diserap oleh anak seperti kesetiakawanan, keadilan dan kasih sayang.
 
Ketiga: dongeng dapat meningkatkan minat belajar anak, khususnya minat baca. Jika sebuah dongen sangat menarik perhatian anak, tak jarang anak akan meminta lagi orang tua untuk mendongengkan cerita tersebut. inilah kesempatan yang baik untuk mendekatkan anak pada buku. Sesekali orang tua bisa berhenti di pertengahan cerita dan mengatakan pada anak, jika ia mau cerita selanjutnya ia harus baca sendiri. Atau mengatakan ada lo cerita yang bagus-bagus. Dengan demikian anak minat baca anak akan tumbuh.
 
Keempat: untuk memperat hubungan emosional orang tua dengan anak. Sering klai kita berbicara quality time. Quality time tidak mungkin didapat saat anak baru pulang sekolah atau saat orang tua baru pulang kerja, karena saat itu anak atau orang tua sedang berada pada kondisi lelah oleh aktivitas seharian. Biasanya anak akan menceritakan kejadian-kejadian di sekolah saat menjelang tidur. Saat menjelang tidur pula biasanya anak mengungkapkan keinginan-keinginannya. Saat itulah terjadi dialog antara anak dan orang tua. Jika dilakukan terus menerus, hal ini dapat menghilangkan hubungan yang kaku antara anak dan orang tua.
Selain beberap poin di atas, dongeng juga dapat mengurangi efek negatif dari mainan-mainan modern seperti Play Station, Game Online, PSP dan lain sebagainya, yang membuat anak apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Namun demikian, orang tua juga harus berhati-hati dalam memilih cerita dan menceritakan karakter sang tokoh, karena dapat berakibat pada misinterpretasi (salah tafsir). Untuk itu, orang tua pun dituntut untuk terus belajar.

Selamat mendongeng!!!

26 Januari, 2012

Hening Bening

Adzan magrib berkumandang
Matahari pulang ke peraduan
Aku pulang pada keheningan malam
Dalam hening aku temukan kebeningan

24 Januari, 2012

Terminal

Terminal adalah tempat pemberhentian
Dari berbagai entah orang datang
Di terminal mereka berhenti
Tiada lama, karena kemudian mereka bertolak lagi
Ke titik yang masing-masing tuju

Di terminal orang gelisah
Kapan kiranya bus datang
Di terminal orang gelisah
Kapan roda bergerak
Menghalau bus meninggalkan riuh

Di terminal orang tak ingin lama
Karena ia bukun tujuan
Karena ia
Hanya pemberhentian sementara

Rajabasa, 28-06-2011

;;

Blogger Templates by OurBlogTemplates.com 2007