
Rumahku Surgaku
Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.
Allah Maha Pemurah
Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.
Di Atas Langit Masih Ada Langit
Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.
Jalan Hidup
Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.
Lebah
Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.
Kamis, September 17, 2015
(1). Bismillah

Selasa, Oktober 29, 2013
Suami-Istri
Minggu, Oktober 20, 2013
Mengapa Menikah?
Sabtu, April 18, 2009
Hidup Adalah Ujian
Hidup adalah perjalanan pulang. Kembali ke asal. Ke sumber kehidupan. Kembali kepada kesempurnaan, ke yang Maha Sempurna. Sangat wajar jika manusia di dunia ini diibaratkan sebagai musafir, singgah sebentar kemudian berlalu kembali. Urep mung mampir ngumbeh, kata orang jawa. Hidup ini sekedar persinggahan untuk minum. Karena sekedar mampir minum, seyogyanyalah kita minum sekedarnya saja, sekedar cukup menghantarkan perjalanan kita untuk pulang. Kiranya tersedia di sana berbagai macam minuman, seperti air putih, susu, madu dan arak, hendaklah kita memilih yang menyehatkan dan membuat kita teetap berjalan tegak. Kita bebas memilih, namun setiap pilihan kita memberi konsekwensi tersendiri bagi kita. Masing-masing bertanggungjawab dan memikul sendri apa yang diakibatkan oleh pilihannya tersebut.
Kehidupan adalah ujian. Seorang anak Sekolah Dasar (SD) mendapatkan soal sesuai dengan kemampuannya. Begitu juga siswa Sekolah Menengah Pertama (SLTP) ataupun Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun tingkat perguruan tinggi. Semua mendapat soal ujian sesuai tingkatatnnya. Tidak mungkin seorang anak SD mendapatkan soal ujian yang seharusnya untuk SMA, atau sebaliknya siswa SMA mendapatkan soal anak SD. Tuhan menguji umatnya sesuai dengan kadar kemampuan masig-masing. Semakin tingi tingkat kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tanggungjwaab dia. Semakin tingi tanggung jawab, semakin tinggi ujian yang Tuhan berikan. Semakin tinggi suatu pohon tumbuh semakin kencang angin menerpanya. Kurang lebih seperti itu kata pepatah.
Orang akan diuji dengan apa yang mereka miliki. Ketika seseorang memiliki ilmu, maka dia akan diuji dengan ilmu tersebut. sejauh mana ilmu itu bermanfaat. Ketika seseorang mempunyai kedudukan di lingkungan sosial, dia akan diuji dengan sejauh mana kedudukannya itu mampu memberikan kesejahteraan bagi orang lain. Ketika seseorang mempunyai harta maka dia kan diuji, sejauh mana dia mendistribusikan hartanya kepada orang lain? Sejauh mana harta tersebut bisa mensejahterakan diri, keluarga, orang-orang yang membutuhkan. Begitu juga sebaliknya ketika seseorang tidak mempunyai kekayaan dan hidup dalam kekurangan, kehidupan seperti ini juga adalah ujian, sejauh mana dia berusaha mencara rizki Tuhan, sejauh mana dia berusaha dan berjuang merubah nasib, secara personal maupun sosial, dan sejauh mana dia mampu menerima keadaan itu dengan tawakal.
Manusia akan diuji dengan apa yang dimilki, termasuk juga dengan perkataannya. Diam (tidak berkata-kata) adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya. Begitu kata Nabi Muhammad SAW. Banyak orang yang lebih suka berkata-kata ketimbang diam. Selain apa yang seseorang perbuat, apa yang ia katakan juga merupakan ujian baginya. Tanggung jawab orang yang berilmu adalah adalah menyampaikan ilmunya. Dan tanggungjawab umt manuisa semua adalah untuk saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran (Al-‘Ashr: 3). Menasehti. Berhati-hatilah dengan laku ini. Salah satu perbuatan yang Allah kecam adalah seseorang yang mengatakan sesuatu, padahal dia tidak melakukannya. Kebencian Allah sangat besar kepada golongan ini (QS. Ash-shaff: 2-3).
Orang yang menasihati orang lain, maka sebenarnya nasihat itu akan kembali kepada dia. Ketika seseorang menasihati orang lain untuk berbuat baik, maka setelah itu dia kan mendapat ujian bagaimana dia harus berbuat baik. Ketika seseorang menasihati orang lain, jangan marah!, maka setelah itu Allah akan memberikan satu kejadian yang akan menguji dia apakah dia akan marah atau tidak dalam mengahadapi hal tersebut. bisa jadi setelah seseorang menasihati orang lain untuk berderma, kemudian Allah mengirim peminta-minta kepada dia untuk menguji kedermawanannya. Yah demikianlah Allah mendidik dan menguji hamba-Nya, supaya hamba-Nya lulus mendapat derajat khalilullah, sahabat Allah, derajat orang-orang takwa yang lulus dengan predikat sangat memuaskan. Wallahu a’lam bi shawabih.
Tulisan ini disampaiakn pada Pengajian Kelas XI A-1 SMA Muhammadiayah 3 Yogyakarta, 16 April 2009
Kamis, April 16, 2009
Cerita Rahib
setelah berjalan agak jauh, rahib yang satunya baru sadar bahwa temannya tadi telah menggendong seorang wanita dan membawanya menyeberangi kali. bukankah dia rahib? bukankah itu hal tercela, apalagi bagi seorang rahib? meski demikian dia tidak enak menanyakannya kepada temannya tersebut. Dalam sepanjang perjalanan dia memikirkan kejadian tersebut? ada apa dengan temannya tadi? apakah dia telah lupa terhadap larangan-larangan dalam kerahiban.
Setelah berjalan kucup jauh, keduanya beristirahat untuk makan dan minum. rahib yang sedari tadi memendam pertanyaan tidak kuat juga untuk tidak menanyakan perisitwa yang telah ia lihat tadi. akhirnya dia pun bertanya.
"Wahai kawan, mengapa enggkau tadi menggendong seorang wanita, bukankah hal itu tercela, apa lagi bagi seorang rahib?" tanya sang rahib. Rahib yang menyebrangkan wanita tadi dengan santai menjawab: "saya menggendongnya sudah lewat tadi, dan saya sekarang tidak menggendongnya lagi, tetapi mengapa engkau masih menggenongnya dalam pikiranmu?" Sang Rahib pun terdiam mendengar jawaban teman seperjalanannya itu.
Hikmahnya apa ya? kalau gak tahu and males mikir, tanya aja pada rahibnya.
Jumat, April 10, 2009
Lompatan Spiritual
Pola-pola itu ibarat anak-anak tangga yang harus kita daki satu per satu untuk mencapai puncak tujuan. Semakin banyak anak tangga tangga yang kita tapaki semakin dekat jarak kita dengannya. Pola-poa tersebut menuntun kita menuju Yang Maha Agung dengan step by step atau selangkah demi selangkah.
Namun diluar itu, ada orang yang tanpa melalui proses tahapan tersebut dia bertemu Tuhan, atau dalam bahsa lain masuk surga. sebagaimana yang digambarkan oleh rasulullah tentang seorang pelacur yang oleh Allah dimasukkan surga lantaran dia memberi minum seekor anjing di suatu padang pasir yang kering dan tandus. orang yang seperti ini adalah orang yang telah mengalami suatu lompatan. orang yang mengalami suatu lompatan spritual adalah mana kala dia tidak lagi berikir tentang dirinya an sich, tetapi lebih mengutamakan yang lain. seperti pelacur tadi yang memberikan minum kepada anjing, padahal dia juga sangat membutuhkannya, dan hanya itulah air yang ada.
Senin, Februari 16, 2009
Jadilah Musa

Dalam sistem kapitalisme, dunia ini digerakan oleh materi, sehingga materi menjadi ruh. Semula Marx memprediksi kehancuran kapitalisme oleh dirinya sendiri, dari dalam. Namun terbutkti, kapitalisme kini masih bertahan dan justra bertambah jaya. Hal ini tidak terlepas dari kecerdikan dan kepiawaian para kaum kapitalis. Kapitalisme dalam bentuk baru pun tercipta. Satu paham yang sering disebut sebagai neo-liberalisme. Dia pun masuk pada kehidupan masyarakat dunia.
Fira’aun adalah lambang dari puncak pembangkangan, dengan memproklamirkan diri sebagai Tuhan yang berkuasa penuh atas nasib rakyatnya. Fir’aun juga satu sisi adalah lambang dari materialisme. Ruh yang menggerakkanya adalah ruh materialisme. Dia beranggapan akan hidupnya kekal dengan materi yang dia miliki. Dan tidak ada yang bisa mengalahkan dia, tidak ada yang bisa mengahancurkan dia. Sesuatu apapun yang berpotensi akan menghancurkan kekuasaannya selalu dia cegah dan ia binasakan. Namun siapa yang menyangka bahwa dia justru dihancurkan oleh orang yang dia asuh dan besarkan di dalam istananya, Musa.
Jika ditarik pada konteks kekinian, sebagaimana disubtkan di atas, perguruan tinggi saat ini tidak lain dari panjang tangan kapitalime Neo-Liberalisme yang turut menggerakkan ruh materialisme. Bagiamana tidak, perguruan tinggi saat ini selayaknya perusahan penjual jasa, dengan rektor sebagai direkturnya, dekan menejernya, dosen sebagai karyawannya. Mahasiswa adalah asset sekaligus komoditinya, sementra konsumen atau pengguna jasanya adalah pasar. Teori-teori yang diajarkan di dalam perguruan tinggi pun teori-teori Kapitalistik Neo-Liberalistik. Tidak ada yang lahir dari sistem seperti ini kecuali orang-orang yang juga berjiwa kapitalis-materialis. Namun dari sini juga bisa lahir Musa-Musa baru.
Musa, meski ia hidup di istana yang digerakkan oleh ruh materialisme, namun dia tidak terpengaruh oleh hal tersebut. Begitu juga dia tidak terpengaruh oleh nilai-nilai yang diajrakan oleh Fir’aun. Hal ini karena Musa bergerak dengan nilainya sendiri. Dia mempunyai sistem niai yang berbeda yang dia terima dari Tuhan yang berbeda dengan nilai-nilai materialisme Fir’auniyah. Nilai-nilai itu adalah spriritualisme. Musa tidak terpengaruh oleh gelimang harta, bertumpuk tahta dan sanjungan. Dia memilih berkumpul dengan orang-orang yang ditindas oleh sistem fir’auniyah. Nilia spiritual ini yang menjadikan Musa tumbuh dan dibesarkan di Istana yang penuh dengan materi tanpa dia menjadi materialis.
Musa-musa baru tentunya adalah mahasiswa yang mempunyai cara pandang a la Musa. Dia tidak terpengaruh dengan gelimang materi, kehidupan hedonis dan teguh memegang prinsip, meski dia dibesarkan di rumah kapitalisme dan diajari dengan teori-teori kapitalistik. Mereka adalah makhluk yang mempunyai integritas nilai. Mereka adalah makhluk yang digerakan oleh nilai spritualisme. Orang-orang inilah yang akan menentang kekuasaan kapitalisme dan merobohkannya. Tentu mereka sangat sedikit, namun mereka akan sangat berpengaruh. Siapkah anada menjadi Musa baru?
Minggu, Februari 01, 2009
Masyarakat Madani Indonesia
Menurut Naquib Al-Atas, Masyarakat madani adalah terjemahan dari al-mujtam’ al-madani. Kata madani sendiri memilki asal kata yang sama dengan ad-din atau agama yang juga merupakan asal kata dari tamaddun yang berarti peradaban. Di samping itu, kata madani jugu mempunyai akar yang sama dengan kata madinah yang berarti kota. Sehingga di sini ada keterkaitan antara agama (din), kota (madinah) dan peradaban (tamaddun). Masyarakat madani sendiri seringkali disamakan dengan isitlah civil society yang berasal dari khazanah pemikiran Barat. Civil society adalah masyarakat yang berperadaban, masyarakat yang merdeka, masyarakat yang pauh pada hukum.
Masyarakat madani dalam pemikiran Islam merujuk pada masyarakat Islam generasi awal, yaitu masyarakat yang di bangun oleh nabi di madinah yang semula bernama Yatsrib. Penggunaan nama madinah sendiri untuk membedakannya dengan golongan Barbar yang hidup nomaden. Dirujuknnya masyarakat madani pada masyarakat madinah ini karena masyarakat Madinah memiliki toleran yang tinggi terhadap sesama masyarakat, penghargaan dan kepatuhan pada hukum atau kesepakatan bersama yang ditunjukkan oleh Piagam Madinah.
Merujuk pada isi Piagam Madinah Nurchalis Madjid melihat, setidaknya ada empat prinsip yang membangun masyarakat madani: Pertama egaliterian, yaitu persamaan hak dan kewajiban bagi setiap warga. Tidak ada kolompok atau golongan yang lebih tinggi dari yang lain. Kedua, penghargaan kepada masyarakat diberikan atas dasar prestasi. Ketiga, keterbukaan dan partisipasi masyarakat. keempat, supremasi hukum tanpa pandang bulu. Kelimaa, inklusivisme yaitu sikap keterbukaan, rendah hati dan toleransi. Keenam, musyawarah. Sejalan dengan Nurcholis Madjid, AS. Hikam merumuskan empat ciri utama masyarakat madani, yaitu, kesukarelaan, keswasembadaan, kemandirian tinggi terhadap negara keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memilki kekhasan sosial-budaya. Merupakan fakta historis bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat majmuk, yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa dan agama. Masing-masin suku, budaya dan bahasa memiliki satu sistem nilai yang berbeda. Kemajemukan ini akan menjadi bencana dan konflik yang berkepanjangan jika tidak dikelola dengan baik.
Kebhinekaan dan kearifan budaya lokal inilah yang harus dikelola sehingga menjadi basis bagi terwujudnya masyarakat madani, karena masyarakat madani Indonesia harsu dibangundari nilai-nilai yang ada didalamnya, bukan dari luar. Dengan demikian, menurut Tilaar ciri-ciri khas masyarakat madani Indonesia adalah a). Kergaman budaya sebagai dasar pengembangan identitas bangsa Indonesia dan identitas nasional, b). Adanya saling pengertian di antara anggota masyarakat, c). Adanya toleransi yang tinggi, dan d). Perlunya satu wadah bersama yang diwarnai oleh adanya kepastian hukum.
Perwujudan masyarakat madani indonesia adalah usaha holisitk yang mencakup a). aspek suprastrukur, yaitu bangunan paradigma tauhid, b). aspek sosial budaya yaitu adanya budaya masyarakat yang terdidik dan mandiri. c). Aspek struktur yaitu pada perbaiakan dan penguatan pada basis sistem kenegaraan. Wallahu a’lam bi masyarakat madani Indonesia.
Minggu, Januari 25, 2009
Manusia Malam
Kalau tiada ratinya
Begadang boleh saja
Asal ada artinya.
Sepenggal dari bait lagu bang haji roma irama itu mengingatkan aku pada masa-masa usia SLTA. Aku adalah orang yang memang sejak kecil senang tidur di rumah orang. Waktu usia SLTA sering kali aku pulang pagi, sehabis subuh. Karena masih merasa ngantuk, aku pun tidur lagi, hingga ibuku membangunkan kau tuntuk sekolah. Begadang memangkebiasaanku dari dulu, meski aku kadang tidak mengerti manfaat apa yang aku peroleh. Ak juga tidak sadar betul dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya begadang, terjaga lewat tengah malam dengan beberapa teman.
Kebiasaanku itu hilang saat aku dduk di bangku SLTA. Jadwal yangpadat, ditambah dengan kegiatan di asrama membuat aku kecapekaan. Sebelum tengah malam pasti aku sudah tidur. Selama tiga tahun itu, hobi begadangku sedikit berkurang. Aku hanya begadang kala esaknya hari libur. Jadi tidak ada beban atau ketakuan kesiangan dan bolos sekolah.
Setelah menamatkan pendidikan SLTA, aku meneruskan studiku di Jogja yang konon katanya adalah kota pelajar. Kibiasaan lamaku kembali, begadang. Dan kini aku pun menjadi manusia malam, dalam arti manusia yang menghabiskan waktu malamnya dengan terjaga. Namun, keterjagaanku kali ini aku rasakan lebih bermanfaat daripada keterjagaanku pada masa-masa aku di bangku SLTP. Meskipun banyak diisi dengan obrolan, namun obrolannya lebih bermutu dan berbobot. Kadang rapat hingga larut pagi atau diskusi dengan tema yang melangit, atau merumuskan satu kurikulum pelatihan. Ada ungkapan di antara kami yang bersifat olok-olokan aktivis kok tidur sore!Semua itu berjalan hampir separo masa keberadaanku di kota berhati nyaman ini. Namun apakah dengan demikian aku bisa dikatakan manusia malam? Bisa jadi seperti itu. Tapi apakah manusia malam hanya terjaga pada malamhari saja, sementara pagi dan siang harinya lelap dalam buai mimpi?
Muhammad SAW adalah manusia malam. Dia menghabiskan separo malamnya untuk begadang. Sebelum kenabian, Muhammad menghabiskan malam-malamnya di Gua Hira, tempat beliau bertahannus atau semedi, merenungkan kondisi masyarakatnya. Setelah beliau diangkat menjadi rasul-pun Muhammad masih sering begadang, menghabiskan waktu malamnya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Dia berasyik masyuk dengan-Nya. Muahmmad adalah manusia malam. Tapi apakah ketika Muhammad menghabiskan malamnya dengan begadang dia lupa pada siangnya?
Tidak, Muhmmad tidak lupa akan kewajiban siangnya sebagai kepala keluarga, sebagai kepala negara, sebagai kepala umat, sebagai panglima perang. Itulah manusia yang seimbnag. Dia menghabiskan malamnya dengan bermunajat, sementara siang dia tetap bekerja. Itulah manusia malam sejati, tidak sepertikekelawar yang keluar pada malam hari dan tidur di sarangnya pada siang hari. Apakah kita mau seperti kekelawar atau kalong?
Manusia malam adalah ulil albab, yaitu orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri berbaring, siang maupun malam. Manusia malam adalah manusia yang bertafakur, bukan mendengkur. Dia adalah manusia yang berzikir bukan mangkir.
Malam hari adalah waktu untuk meepas penat, bermunajat, beribadah pada sang pencipta. Pada sat itulah manusia melepaskan keluh kesahnya, mengakui salah dosanya, menagis tersedu, antara khauf dan raja, takut sekaligus berharap. Di malam hari dia sangat lemah, cengeng, namun di siang harinya dia berjalan menghadapi kehidupan ini denghan egar, tiada ketakutan. Malam memberikan satu suntikan spirit bagi manusia utnuk menjalani kehidupa siang harinya. Sudahkah kita menjadi manusia malam?
Sabtu, Desember 06, 2008
Cahaya Di Atas Cahaya
Allah bukan hanya Cahaya, tetapi Cahaya di atas cahaya, nurun ‘ala nurin. Atau dalam istilah Imam Al-Ghazali Allah adalah Nurul anwar, Cahayanya cahaya. Hal itu juga berarti bahwa Allah adalah sumber cahaya.
Sabtu, November 22, 2008
Kriminalis intelektual
Perilaku kriminal sering diasosiasikan kepada perilaku kejahatan yang merugikan orang lain, dan biasanya dalam bentuk kekerasaan. Jadi sebagai contoh saja yaitu perilaku mencopet, maling, merampok, memperkosa, minum minuman keras, berkelahi dan membunuh. Perilaku-perilaku ini biasa juga disebut sebagai penyebab kerusuhan, kekhawatiran dan ketidaknyamanan bagi masyarakat.
Kriminalitas terjadi bukan tanpa sebab, tetapi dia banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dari aspek ini, kriminalitas banyak terjadi di daerah urban. Gemerlapnya kehidupan urban telah begitu menggiurkan dan menarik bak magnet orang-orang dari pinggiran untuk mencoba merasakan kehidupan ini. Namun tidak semua bisa ditampung dalam sisitem kehidupan urban, ada di antara mereka yang masih juga tersingkir. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka mau melakukan segala sesuat. Yang terpenting adalah bagaimana bisa survival. Tidak jarang jalan pintas yang ditempuh. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak mempunyai akses dalam bidang pendidikan dan hanya mengandalakan otot ketimbang otak. Secara structural pun mereka telah disingkirkan dengan tidak meletakkan mereka pada agenda pembangunana bangsa ini. Yang terjadi adalah mereka hidup di jalanan, makan dari jalanan, dengan cara apa saja, samapi pada tingkat dia harus membunuh orang lain untuk mendapatkan makan.
Kehidupan mereka seringkali bergerombol dalam satu komunitas yang menjunjung tinggi solidaritas dan kesetiakawanan. Ketika ada diantara anggota komunitas mereka yang berkelahi, terluka atau terbunuh oleh komunitas, maka prinsip mereka adalah darah dibayar dengan darah. Tawuran pun terjadi. Dan hal itu berlanjut pada anak cucu mereka, jika merka masih bisa hidup di tengah kesulitan ekonomi. Kita mungkin jengkel dan benci dengan fenomena tersebut. Atau bahakan kadang kita jijik melihat mereka. Namun ingat, mereka adalah orang-orang yang tidak mampu mengakses pendidikan, sehingga mereka “bodoh” (maaf kasar), orang tidak berpendidkan tidak akan diterima dalam sistem kapitalisme, karena dia bukan capital yang menghasilkan.
Meski diantara kita ada yang jijik dan ikut-ikutan meminggirkan mereka, namun kita sudah terbiasa dengan hal tersebut. Namun bagaimana dengan kriminalitas yang di lakukan oleh sekelompok orang yang mentasbihkan dirinya sebagai intelektual? Mereka yang sering disebut sebagai agen of change? Mereka itu adalah para mahasiswa yang berada di perguruan tinggi, di kampus-kampus megah. Mereka inilah yang dulu sering disebut sebagai garda depan perubahan bangsa. Tapi sekarang?
Aku masih sedikit bangga ketika melihat teman-temanku adu dorong dengan aparat keplisian memaksa masuk ke gedung DPR dan terjadi keributan di sana dengan aparat keamanan. Aku bangga karena mereka masih ada niatan mnyuarakan aspirasi rakyat. Tapi bagaimana ketika para mahasiswa itu rebut dengan sesama mahasiswa temananya sendiri?
Masih terasa segar dalam ingatan kita tawuran mahasiswa di Jakarta, Mataram, Maluku, Makasar dan bebreapa kota di Sumatra. Dengan segudang alasan yang tidak rasional, merka secara arogan melempari lawannya dengan batu, merusak kendaraan yang kebetulan parkir di dekat arena tawuran, merusak bahkan sampai memebakar kampus. Nampak jelas di-shoot oleh beberapa wartawan televise, para mahasiswa itu membawa senjata dari batu, kayu pemukul, ketapel, panah, pisau, golok atau bahkan samurai. Sepanjang sejarah, baru kali ini di instutusi pendidikan tinggi ada mahasiswa yang membawa benda tajam. Bukankah mereka seharusnya membawa pena, buku, kamus, alat praktikum ataupun laptop? Inilah yang saya maksud dengan kriminalis intelektual.
Mahasiswa adalah satu status yang disandang karena dia dianggap lebih banyak memahami ilmu ketimbang ia masih menjadi siswa. Mereka adalah sekolompok orang yang menggunakan akal sehatnya untuk memahami teori-teri ilmu pengetahuan guna memajukan masyarakatnya. Mereka seharusnya sadara bahwa merekalah calon pemimpin masa depan. Namun tegakah kita menyerahkan kepemimpinan bangsa ini kepada mereka yang suka bertengkar dengan sesame temannya sendiri, entah satu jurusan, entah satu kapmpus ataupun berbeda kampus? Namun saya yakin, masih banyak mahasiswa yang tekun belajr, berdiskusi, membaca buku, turun aksi menyuarakan aspirasi rakyat, terjun berbaur dengan kehidupan masyarakat. Merkalah yang sebenarnya intelektual yang oleh Gramsci disebut sebagi intelektual organik. Dan merka yang berhak meneruskan cita-cita bangsa ini. Wallahu a’lam.
Yang Awal dan Yang Akhir
aku hidup karena cinta,
aku ingin mati karena cinta
Pernahakah sesekali kita menyempatkan diri untuk diam dan duduk merenung tentang diri kita? Sudahkah kita benar-benar mengenal diri kita? Bukan sebatas pada aku anak si anu, lahir di anu, tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Tidak juga sebatas aku ini punya neton ini, sifatnya begini dan hobinya ini itu. Bukan sebatas itu. Tetapi lebih fundamental dari itu, siapa kita? Dari mana kita? Dan hendak kemana kita?
Dalam filosofi jawa ada satu konsep yang selaras dengan ajaran Islam, yaitu sangkan paraning dhumadi, atau asal usul kejadian. Dalam konsep ini setidaknya ada beberapa hal yang harus dimengerti antara lain, asaling dhumadhi atau asal usul wujud, sangkaning dhumadhi atau dari mana datangnya dan bagaimana perkembangan wujud, tataraning dhumadhi atau martabat suatu wujud, dan paraning dumadhi atau cara atau arah perkembangan wujud.
Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah pertanyaan fundamental bagi makhluk yang bernama manusia. Dalam filsafat eksistensialisme, seseorang akan menjadi manusia jika dia telah mempertanyakan dan menjawab persoaln-persoalan di atas. Mungkin ada yang mengatakan, ah, pertanyaan seperti itu sangat mudah jawabannya. Tapi ingat, setiap pilihan jawaban akan mempunyai satu konsekwensi logis. Atau mungkin ada yang belum sempat merenungkannya?
Baiklah pada awalnya kita bertanya dari mana asal wujud? Sebelumnya, yang dimaksud wujud di sini adalah sesuatu yang ada atau being, atau realitas. Sementara ketika kita berbicara realitas, tidaklah realitas itu terbatas pada sesuatu yang Nampak oleh indera alias konkrit, tetapi ada juga realitas yang abstrak. Sebagai contoh saja, kita mengenal apa yang dinamakan dengan grafitasi, namun apakah pernah kita melihat atau merabanya? Namun kita tetap yakin itu ada.
Wujud atau yang ada ini tentulah tidak ada dengan sendirinya, sebagaimana halnya kursi yang kita duduki atau pakaian yang kita pakai yang ada pembuatnya. Karena dalam akal kita tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang membuat atau menciptanya. Dengan demikian yang mencipta itu juga Ada atau Wujud. Lalau sipa yang menciptakan Sang Pencipta? Tidak ada. karena Dia ada dengan sendiri-Nya. Bagaimana Dia ada dengan sendirinya? Karena Dialah Yang Awal, maka dari Dia “mucullah” segala sesuatu.
Jika manusia ada, hewan ada, alam ada dan Yang Pencipta ada, lalu apa bedanya diantara yang Pencipta (Khaliq) dengan yang dicipta (makhluk)? Bedanya adalah bahwa keber-ada-an manusia dan makhluk lainnya bergantung kepada keberadaan Sang Khaliq, sehingga dia disebut sebagai mumkinatul wujud atau wujud relatif/nisbi. Sementara kebera-ada-an Sang Khaliq adalah Mutlak, absolut sehingga Dia disebut sebagai Wujud Muthlaq atau Wajibul Wujud. Lalau bagaimana dengan keber-ada-an manusia?
Yang Pertama, manusia adalah makhluk. Sebagai makhluk, keber-ada-an manusia bergantung kepada keberadaan Wujud Muthlaq. Kedua, manusia, sebagaimana mkhluk lainnya, diciptakan oleh karena cinta Allah kepada diri-Nya. Dalam hadits qudsy yang sering disetir oleh Ibn ‘Arabi Allah berfirman: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin diketahui, maka Aku menciptakan makhluk. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya haruslah mengenal penciptanya. Ketiga, sebelum kealam rahim dan alam dunia, ketika manusia masih di alam ruh, manusia telah melakukan perjanjian dengan Sang Pencipta bahwa dia bersakasi bahwa Allah, Wujud Yang Mutlak itu adalah Tuhan yang telah menciptakannya. Perjanjian itu sering disebut sebagai perjanjian primordial. Dengan demikian, manusia telah mengikatkan satu janji bahwa hanya kepada Pencipta-nyalah manusia akan beribadah. Keempat, manusia diciptakan dumuka bumi adalah untuk dijadikan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Di bumi atau di dunia inilah kemudian manusia berada pada tataran bagaimana wujud itu berproses.
Dalam diri manusia terdapat ruh Ilahiyah. Pertama karena Allah sendiri telah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri manusia. Kedua, karena manusia telah mengikat janji primordial sebagaimana dijelaskan di atas. Namun setelah lahir ke dunia, ruh manusia terkungkung oleh jasad. Namun demikian, dalam diri manusia itu selalu ada hasrat untuk mencari yang Mutlak itu tadi, yang pada-Nya dia telah berjanji. Dalam menjalankan aktifitas kehidupannya, manusia sering lalai dengan dirinya dan amanah yang ia emban sebagai khalifah. Kelalain ini biasanya disebabkan oleh keengganan manusia untuk menge-tahu-i. dalam arti lain, manusia enggan untuk mencari tahu dan belajar tentang dirinya. Akhirnya dia berjalan laksana robot tanpa jiwa.
Hendaknya manusia senantiasa ingat bahwa dia adalah makhluk. Sebagai makhluk manusia mempunyai hubungan vertikal dengan Khaliqnya yang terejawantahkan dalam ibadah. Sebagai makhluk, manusia juga mempunyai hubungan horizontal dengan sesama makhluk. Prinsip yang digunakankan adalah baik manusia maupun makhluk lainnya hanya tunduk kepada Allah dan kepada hukum Allah atau sunnatullah, dan manusia adalah khalfiah Allah yang bertanggungjawb memakmurkan bumi. Dengan demikian hubungan dia dengan makhluk lainnya adalah pemanfaatan dengan tetap menjaga kelestarian dalam keharmonisan. Sebagai khalifah atau mandataris Allah di muka bumi, maka manusia harus menjalankan titah tersebut sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dijelaskan dalam kitab-Nya dengantidak memebuat kerusakan (fasad). Sedangkan sesama manusia adalah berada pada prinsip bahwa yang palingmulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi tingkat kualitas dirirnya (takwa). Dengan demikian, manusia tidak berhak untuk melakukan penindasan kepada manusia lainnya. Karena yang berhak demikian hanyalah Allah SWT.
Saat berproses sebagai manusia, janganlah sampai lupa pada asal mula kita, dan jangn pula kita tidak mengetahui tujuan kita. Jika kita berawal dari ADA Mutlak, di mana keberadaan segala sesuatu diliputi olehnya, lalu adakah tempat kembali selain kepada yang Mutlak dan Meliputi tersebut? Dengan demikian, kita juga akan menuju ke sana, kepada Yang Mutlak yang meliputi segala sesuatu.
Syekh Al-Isyraqi Suhrawardi menggambarkan bahwa Allah adalah Nur ala nur atau nur al-anwar. Dia adalah Cahaya di atas cahaya. Dia adalah sumber cahaya yang kemudian menerangi semesta. Semakan suatu entitas dekat dengan sumber cahaya, semakin tinggi intensitas cahaya yang berada padanya. Semakin terang pula dirinya. Sebaliknya, semakin jauh satu entitas dari sumber cahaya, maka semakin reduplah sinarnya, atau bahkan gelap sama sekali. Kegelapan adalah lawan dari cahaya. Kegelapan dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai dzulm. Kata ini kemudian menjadi kata dzalim atau aniaya. Dengan demikian, perbuatan yang aniayalah yang menghalangi kita dari menuju Sumber Cahaya atu Wujud Mutlak tersebut. Mari kita berlingdung kepada-Nya dari perbuatan aniaya, agar kita sampai pada Dia Yang Awal dan Yang Akhir.
Rabu, Oktober 22, 2008
Wonorejo Pesawaran Indah
Perubahan adalah keniscayaan, cepat maupun lambat. namun alangkah baiknya perubahan itu jika ia menuju ke sesuatu yang lebih baik, tanpa melupakan nilai-nilai luhur di daerah tersebut (Lokal Wisdom)
Rabu, September 10, 2008
Ra Yang Kurindu
Ra, aku minta maaf. Aku tidak bisa ikut menyambut dan merayakan kedatanganmu. Tapi bukan berarti rasa ini telah pudar. Sebenarnya kau malu pada diriku sendiri. Aku yang selalu ngomong bahwa aku orang yang mencintaimu, merindukanmu, dan mengharap kedatangmu, namun justru aku tidak ikut serta menyambutmu, menyalamimu.
Sebenranya aku tahu akan kedatangamu. Siapa yang tidak mengenalmu, sehingga semua orang mengabarkan kedatanganmu. Dan berjubel orang menyambutmu. Aku takut ketika aku ikut menyambutmu, akankah kau menemukan dan mengenaliku di antara berjubel orang itu. Apalagi mereka menyambumu tidak selayaknya seorang muslim menyambut kekasihnya sebagaimana diajarkan oleh agama kita. Ah, mungkin itu hanya apologiku aja, dan bisa jadi aku lebih buruk dari mereka karena aku tidak turut menyambutmu. Maaf karena aku lebih sibuk dengan urusan pribaduku. Tapi sesungguhnya dalam hati aku tetap menyambutmu, dengan cara lain, caraku sendiri.
Ra, aku dengar dari beberapa orang yang ikut manyambutmu, kata mereka kau datang dengan sedikit masam. Apa benar itu, Ra? Ada apa gerangan, Ra? Apakah sebenarnya kau tidak ingin datang? Tapi bukankah sudah janjimu untuk datang, menemuiku? Atau ada masalah lain? Apakah engkau tidak puas dengan penyambutan mereka, Ra? Bukankah mereka telah menggelontorkan segudang uang untuk menyambutmu, menjamumu? Mereka menyiapkan hidangan yang mewah untukmu, khusus untukmu. Asal kamu tahu aja Ra, hidangan semacam itu tidak akan bakalan ada tanpa engkau hadir di sini. Dan juga acara-acara itu, yang diadakan saben malam, pembacaan puisi dan narasi yang menggambarkan kecantikanmu, kemolekanmu, keanggunanmu, kebaikanmu, keagungan dan kemulianmu, itu tak pernah ada jika kau tidak di sini. Tapi mengapa engkau, kata mereka, datang dengan sedikit masam?
Ra, meski aku tidak perca sepenuhnya kepada mereka, tapi aku jadi ingin tahu juga, agar tenang jiwa ini. Namun aku yakin, itu bukan karena aku tidak ikut menyambutmu, bukan? Aku sadar betapa kecilnya aku di depanmu sehingga tanpaku pun engkau akan datang ke sini. Atau mungkin engkau kecewa melihat aku yang begini-begini saja, tidak berubah sejak pertemuan terakhir kita dulu. Aku masih aku yang angkuh, sombong, bakhil, dengki, pendendam, apatis, egois. Yah, kalau engkau memang datang dengan sedikit masam, aku yakin karena hal itu. Ah, maafkan aku ya, Ra. Sungguh aku menyesal. Aku malu. Aku akan berubah, Ra. Asal jangan kau tinggalkan aku lagi!
Ra, aku lebih malu lagi, meski aku tak menyambutmu, kau tetap datang menemuiku. Dengan wajah cerahmu, tidak seperti yang mereka bilang. Benar kataku, kau tidak peduli apakah aku berubah atau tidak, kmau tak pernah ingkar, kau tetap datang. Senyum manis tersungging di bibirmu, dan selalu suasana syahdu yang menyertaimu. Itulah yang selalu mengingatkanku padamu. Aku ingat pada perjumpaan kita yang lalu. Tiada hari yang aku lalui tanpamu. Kita berjalan bersama, mengahabiskan malam-malam kita dalam senandung kesyahduan. Kau memelukku erat dalam kehangatannya cintamu, membelaiku dengan mesra seakan itu yang terakhir. Malam itu aku rasakan bumi berhenti berputar, angin tiada berhembus, jangkrik berhenti berkerik, margasatwa tak bersuara, awan tertahan, dan alam pun terdiam. Malam itu begitu sunyi, tapi syahdu. Ah, indah sekali malam itu. Aku rindu malam itu, malam-malam saat bersamamu. Dan kini kau telah bersamaku. Mungkin telat, namun aku ingin tetap menyambutmu, menyalamimi, marhaban ya Ramadhan.
Rabu, September 03, 2008
Ramadhan Bulan Konsumsi
Al-Jarhawi dalam kitabnya, hikmah at-tasyri’ wa falsafatuhu menjelaskan salah satu hikmah dari ibadah puasa adalah tumbuhnya rasa empati shaim atau orang yang berpuasa kepada kaum papa. Pada saat puasa, orang akan merasakan rasa haus dan lapar sehingga tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Pada saat itulah akan tumbuh pada dirinya rasa empati kepada kaum mustadl’afin, serta fakir dan miskin, di mana hidup mereka selalu dalam kekurangan. Orang-orang inilah yang tidak pernah berfikir untuk bagaimana makan enak, bagaimana berbelanja di mall, bertamasya ke luar negeri, atau sekedar jalan-jalan santai bertamasya bersama keluarga ke pantai, karena mereka telah disibukan dengan persoalan bagaimana dia dan anak-anaknya serta keluarganya yang lain bisa makan esok hari
Budaya Konsumsi di Bulan Ramadlan
Bulan ramadhan yang sakral tersebut kini seakan telah terdistorsi oleh prilaku umat Islam sendiri. Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk berpuasa sebagai wahana mencapai ketakwaan, kesempurnaan akan kemanusiannya, kini berubah menjadi bulan konsumsi. Dari beberapa sumber dan pengamatan dapat diketahui bahwa tingkat konsumsi masyarakt pada bulan ramadhan semakin menaik dari pada hari-hari biasa. hal ini dapat kita lihat juga dari kebutuhan-kebutuhan yang dibeli saat ramadhan. Dalam tradisi masyarakat kita, jika ramdhan datang maka banyak hal yang harus dilakukan seperti dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah yang telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasa.
Media massa tidak ketinggalan berperan aktif dalam peningkatan pola hidup konsumtif di bulan ramadhan ini. Dengan strategi marketing-nya media menawarkan produk-produk yang dikemas sesuai dengan nuansa ramadhan, bahkan tidak jarang para agamawan dan da’i kondang menjadi bintang iklan dengan gaya khasnya dan atribut keislaman, menawarkan produk-produk yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan ibadah di bulan ramadhan ini. Selain itu, tempat-tempat perbelanjaan, baik mall-mall besar maupun pasar-pasar tradisional menawarkan barang-barang yang khas ramdhan, dalam artian barang-barang tersebut hanya dapat diperoleh saat ramadhan saja.
Menu makan pada bulan ramadhanpun menjadi istimewa, berbeda dengan hari-hari biasa. biasanya lebih meningkat. Padahal pola makannya masih tetap sama seperti hari-hari biasa, hanya berpindah jam saja. Semula waktu makannya adalah pagi, siang dan malam, kini berganti sore (saat berbuka), malam (biasanya selepas shalat tarawih) dan pagi hari (makan sahur). Tidak ada yang berubah.
Bulan ramadhan yang semestinya menjadi bulan yang mendatangkan kegembiraan bagi para fakir miskin, karena pada bulan ini adalah momentum meningkatkan kwalitas dan kwatintas ibadah dan shadakoh umat Islam. Tetapi ternyata merka hanya dapat melihat saja, tanpa bisa menikmati indahnya bulan ramadhan. Seringkali terjadi di kota-kota besar, atas dalih penertiban kota, para pengemis dan gelandangan seringkali dikejar-kejar pihak pemerintah kota.
Budaya konsumsi pada bulan ramadhan sebagaimana di atas tentu betentangan dengan ajaran Islam akan perintah puasa. Bagaimana dalam diri seorang yang berpola hidup konsumtif akan tumbuh rasa empati dan kepedulian sosial? Bagaimana orang yang hanya memikirkan perut sendiri akan bisa merasakan rasa lapar yang dialami oleh orang lain?
Islam menyerukan umatnya berpuasa, makan saat sebelum fajar dan saat senja (magrib) adalah agar ia merasakan perihnya rasa lapar, rasa yang selalu bergelayut dalam kehidupan sebagian besar masyarakat kita, namun yang terjadi adalah sikap mental balas dendam dengan mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya pada malam hari, sementara pada siang hari, dengan dalih puasa, mereka sering mengurangi aktifitas kerjanya, sehingga menjadi tidak produktif.
Sebelum terlambat, tidak salahnya kita intropeksi diri kita, sudahkan puasa yang kita jalani ini sesuai dengan yang Allah kehendaki?
Puasa pada hakikatnya tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan keseluruhan diri kita, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan syahwat dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Puasa juga bukan hanya sekedar ritual tahunan yang tidak berdampak apapun, tetapi puasa merupakan suatu amalan trnsformatif. Secara individual, ramadhan ini tak ubahnya kepompong bagi kupu-kupu, atau selayaknya ular yang sedang bermetamorfosis, berganti sel-sel yang lebih muda. Selain dimensi eksoteris, puasa juga mengandung dimensi esotoris, karena yang mengetahui ia berpuasa atu tidak hanyalah orang itu sendiri dan Allah SWT. Makanya kata Allah, ibadah puasa itu adalah untukku.
Pada sisi transformasi sosialnya, puasa dapat menumbuhkan sifat altruisme pada shaim atau orang yang berpuasa, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain yang lebih besar ketimbang kepentingan diri pribadi. Sifat empati dan kepedulian sosial juga tertanam dalam ibadah puasa ini. Yang tidak kalah penting, puasa melatih kita untuk dapat mengendalikan diri dan nafsu kita, termasuk dari pola hidup boros dan konsumtif.
Ramadhan adalah bulan tarbiyah (madrasah Ilahai), sebagi candradimuka umat Islam. Sebagaimana sebuah sekolah yang berhasil adalah merka yang lulus ujian dari madrasah ini yang kemudian mendapat predikat muttaqi atau orang yang bertakwa, yaitu orang yang menghadirkan Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupannya. Sementara dalam salah satu hadits qudsi-Nya Allah SWT berfirman bahwa Dia selalu bersama orang-orang miskin (mustadh’afin)
Predikat takwa tidak akan menempel pada orang yang tidak mengalami perubahan pada saat sesudah bulan ramadhan, orang –orang yang tetap berpola hidup boros, konsumtif, apatis dan individualis. Keberhasilan suatu ibadah adalah ketika dapat tertransformasi pada masyarakat. Kiranya belum terlambat untuk berbenah diri. Wallahu ‘alam bishshawab.
Setahun yang lalu tulisan ini dibuat dan dimuat di www.hminews.com
Selasa, Agustus 19, 2008
Tentang Remaja
Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja akan senantiasa melakukan hal-hal yang menunjukkan dirinya bukan lagi anak-anak, dan mereka biasanaya akan marah jika ada orang yang menganggapnya masih anak-anak. Remaja akan cenderung berbuat caper alias cari perhatian dari lingkunagnnya. Namun seringkali perbuatan caper-nya ini berlebihan dan melewati batas. Alih-alih untuk menunjukkan siapa dirinya, remaja sering terjerumus kepada kenakalan remaja (juvenile delinquency). Beberepa contoh yang bisa diambil adalah kasus geng motor, kasus geng Nero, tawuran antar pelajar, miras, narkoba dan prilaku free sex. Beberapa hal yang menjadi penyebab kenakalan remaja adalah kurangnya perhatian dari orang tua, pengaruh media, lingkungan dan dangkalnya pengetahuan agama
Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya menjadikan seorang anak berkembang tanpa kontrol. Hal ini akan lebih parah lagi apabila anak tersebut berasal dari kalangan broken home. Dalam Islam, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Untuk itu dia tidak boleh melepas begitu saja pendidikan anak kepada lembaga pendidikan formal. Selain itu, pengaruh lingkungan dan media massa juga sangat besar dalam hal kenakalan remaja ini. Informasi yang bebas, bisa diakses setiap saat kapan saja dandi mana saja melalu internet maupun televisi dan media-media lainnya menjadi kiblat bagi pencarian identitas remaja ini. Ketidakselektifan dalam memilih informasi inilah yang membawa remaja pada perbuatan-perbuatan destruktif tersebut.
Lingkungan pergaulan juga akan menetukan seperti apa perbuatan remaja antinya. Dalam bergaul, remaja biasanya akan mencari apa yang menjadi idola merka. Mereka akan bergabung dengan teman-teman sebayanya yang memiliki karakteristik yang sama. Kemudian para remaja ini biasanya memebentuk satu komunitas. Satu komunitas dengan komunitas yang lain akan memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk menjadi bagian dari satu komunitas, maka seorang remaja harus bersikap dan berpenampilan sama dengan anggota komunitasnya. Jika tidak maka dia tidak akan diakui. Kesalah dalam memilih komunitas inilah yang membawa remaja dalam kenakalan remaja.
Hal lain yang menjadi penyebab kenakalan remaja adalah dangkalnya pemahaman tentang agama. agama adalah tuntunan bagi umat manusia. Ia berisikan ajran untuk berbuat sebagaimana yang Sang Pencipta kehendaki. Siapa yang memahami agamanya, niscaya dia akan selamat dunia dan akhirat.
Sebagaiman diketahui, bahwa manusia lahir dengan fitrhanya. Salah satu fitrah manusia adalah fitrah ketuhanan dan keberagamaan. Dalam diri manusia terdapat satu potensi keagamaan yang sering disebut sebaga rasa keagamaan, yaitu suatu dorongan dalam jiwa yang membentuk rasa percaya kepada sesuatu Dzat Pencipta, rasa tunduk, serta dorongan taat atas aturan-Nya. Sama halnya dengan potensi-potensi lainnya yang ada dalam diri manusia, potensi keberagamaan manusia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, dan juga bisa hilang tertutupi. Berkembang dan tidaknya rasa agama tersebut bergantung bagaimana seseorang itu menggalinya, yaitu melalui pendidikan.
Rasa keberagamaan seseorang akan berbeda dari masa ke masa, seiring dengan pertumbuhan orang tersebut. Pada masa remaja, pertumbuhan rasa keberagamaan seiring dengan masa pertumbahan, yaitu masa transisi dari keberagamaan anak-anak yang cenderung bersifat kongkrit dan imitatif serta dooktriner menuju kedewasaaan rasa keagamaan yang mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab serta menjadikan agama sebagai dasar filsafat hidup.
Peralihan dari masa kanak-kana kepada masa remaja dan kemudian ke masa dewasa ini seringkali tidak diiringi dengan pemahaman keagamaan yang sesuai, yaitu pemahaman yang sama dengan apa yang diperoleh ketika masih anak-anak. Hal ini yang kemudian memunculkan rasa ragu terhadap agama yang dipeluknya (religious doubt). Religious doubt ini biasanya diekspresikan melalui beberapa prilaku yaitu skeptis terhadap bentuk-bentuk keagamaan, meninggalkan tuugas-tugas keagamaan dan mengkonfrontasikan anata pengetahuan dan agama. adapaun yang menjadi p[eneybab dari religious doubt adalah rasa agama masa kanak-kanak yang terbentuk melalu proses “tanpa tanya”, otoritas orangtuan, tidak adanya referensi atau pembanding, usia remaja yang sudah memasuki tahap fantasi dan kognitif abstraktif.
Melihat hal terbut di atas, tentu kita tidak menginginkan generasi muslim kita menjadi lost generation karena jauh dari nilai-nilai agamanya. Kita juga tidak ingin mereka menjadi generasi yang justru akan memperparah kerusakan bangsa ini, karena subbanu al-yaum rijalu al-ghad, pemuda sekrang adalh pemimpin di maas datang. Untuk menangulangi hal tersebut, maka perlu kiranya kita segera menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan jasmani dan rohani remaja ke arah yang lebih baik, memberikan informasi yang konstruktif, membimbinganya dan memberikan pemahaman keagamaan sesuai dengan pertumbuhan kejiwaan mereka serta apa yang mereka butuhkan sejak dini, karena hal itu adalah benteng terbaik bagi remaja. Selain itu, para remaja juga harus diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan memimpin (kepemimpinan) sejak dini, agar ia mengetahu tanggungjawabnya sebagai abdi (hamba) dan juga sebaga khalifah Allah di muka bumi.
Minggu, Agustus 10, 2008
Manusia Integralis
Setiap madzhab pemikiran pastilah mempunyai satu gambaran tentang manusia yang diinginkan, yaitu sosok manusia yang ideal. Nietzsche mempunyai konsep Ubermensch untuk menunjuk sosok manusia ideal,dan Ali Syariati dengan rausyanfikr-nya. Selain itu istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan sosok manusia ideal adalah istilah Insan Kamil. Sosok-sosok inilah, menurut mereka, adalah orang-orang yang dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi satu masyarakat, dan merekalah yang berhak untuk memimpin masyarakat tersebut, karena mereka adalah orang-orang sempurna.
Melihat bahwa setiap pemikir tidak lepas dari pembahasan tentang manusia, dan manusia unggul khusunya, membuktikan signifikansi hal ini dalam setiap pemikiran. Hal ini dikarenakan manusia adalah subjek yang berperan penting dalam alam ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa keberlangsungan alam ini berada ditangan manusia, baik kemakmuran dan kelestarian maupun kerusakannya. Alam ini akan lestari dan makmur jika penghuninya adalah manusia-manusia yang mempunyai berakhlak mulia, sementara jika manusia-manusia di dalamnya adalah manusia-manusia serakah, individualis, maka mereka hanya akan mempercepat kahancuran alam ini. Kebaikan atau pun keburukan keduanya bersumber dari diri manusia, sementara kepribadian manusia ini dibentuk melalui pendidikan.
Sebagaimana pemikir lainnya, Armahedi Mahzar juga tidak lupa untuk mengkaji tentang manusia dan merumuskan konsepsi manusia ideal. Meskipun tidak terlalu banyak dia berbicara tentang hal ini, namun penulis kira cukup untuk menjelaskan pandangan Armahedi tentang sosok manusia ideal tersebut.
Seperti halnya perjalanan intelektualnya menemukan filsafat integralisme, konsepsi manusia ideal ini juga Armahedi peroleh dari sebuah penelusuran panjang ketika dia membahas tentang struktur pemikiran Barat modern. Hal ini dikarenakan manusia sempurna adalah misteri dan juga menjadi mitos, untuk itu metode analisis strukturalisme Levi Staruss digunakan.
Dalam penyelususran ini Armahedi menemukan struktur individualita modern yang terdiri dari moralita, intelektualita, sensibilita. Moralita adalah aspek individu yang selalu berhubungan dengan salah satu segi alam cita yang bernama etika. Dengan demikan moralita berkaitan dengan prilaku atau ranah psikomotorik dalam diri manusia. Sementara intelektualita adalah kesanggupan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara sadar, dan sensibilita berkait dengan perasaan dan kejiwaan manusia.
Sebagaimana sifat strukturalisme yang menghendaki adanya posisi biner dari struktur yang ada, maka harus dicari pula struktur biner dari ketiga hal tersebut. Tiga hal yang menempati posisi biner tersebut adalah fisikalita, vegetativita dan instinktualita. Jika intelektualita berkaitan dengan cara fakir yang kesadaran manusia, maka instinktualita adalah cara fikir yang tidak berkesadaran, sebagaimana terdapat pada hewan. Jika moralita adalah aspek perilaku yang berkesadaran, maka fisik adalah aspek yang tidak berkesadaran. Demikian juga dengan sensibilita yang merupakan aspek kejiwaan yang berkesadaran, maka vegetativita adalah unsur manusia yang tidak berkeadaran yang menjaga keseimbangan antara instingtualita dan fisikalita.
Dari sini kemudian Armahedi mencari struktur-struktur tersebut dalam Islam. Sebagaimana sifatnya yang wasathan, struktur-struktur tersebut juga harus bisa menjadi penengah dari kedua struktur tersebut, yaitu struktur yang berkesadaran dan struktur yang tidak berkesadaran. Lalu Armahedi mangajukan tiga struktur yang ada dalam Islam, yaitu islam, ihsan dan iman. Iman adalah integrasi antara pengetahuan dogmatasi tentang yang Ghaib dan pengetauhan intleketual. Dengan demikian ia menengahi dari pengetahuan akali dan hewani.
Jika Iman menengahi antara akali dan hewani maka ihsan menegahi antara sensibilita dan vegetativita atau kalbi-nabatai. Sementara islam menjadi penengah antara fisikalita dan moralita, sehinga prilaku manusia menunjukkan akhlakul karimah. Dengan demikian akan didapatkan prisma manusia sempurna, manusia integralis sebagaimana terlihat dalam table dibawah ini.
prisma Pribadi Muslim

Kamis, Agustus 07, 2008
Rasa Kehilangan

Ketika kita lahir dalam keadaan miskin, fakir, lalu kita kemudin hidup dengan berbalut pakaian nan indah, berjamu dengan makanan yang lezat, dari mana kita mendapatkannya? Jika kita lahir dalam keadaan tidak berdaya, lalu kemudian kita bisa ini bisa itu, tahu ini tahu itu, dari mana semuanya datang?
Memang benar kita mendapatkannya dari usaha kita, dari kerja kita dari kita belara mengeja A,B,C,D, . . .dst. namun pertanyaan selanjutnya berhakkah kita mengklaim bahwa itu adalah milik kita? Dan pertanyaan yang harus dijawab terkebih dahulu adalah, kita sendiri sebenarnya milik siapa? Mungkin ada yang menjawab, bapak dan ibu saya. Bukankah merka hanya melahirkan kita? Apakah dengan melahirkan berarti dia juga memiliki kita sepenuhnya?
Ketika Allah menciptakan alam ini, maka alam dan isinya ini adalah milikinya. Dengan demikian kita pada nhakikatmnya juga adalah milik sang pencipta. Begitu juga alam dan seluruh isinya ini? Lalau apa yang kita miliki sebenarnya juga adalah milik Allah, bahkan diri kita sendiri juga adalah milik Allah. Kita ketia mengaku bahwa semua adalah milik Allah, maka tidak ada yang bisa kita banggakan. Tidak ada yang kita sebut sebagai milik kita. Ketika kita tidak memiliki apa-apa lalau bagaimana kita akan merasa memiliki? Ketika kita tidak pernah merasa memiliki bagaimana kita akan merasa kehilangan?
Selasa, Agustus 05, 2008
Konsep Manusia dalam Al-Quran
Ungkapan diatas dapat ditafsirkan dengan berbagai macam tafsiran, apa yang dimaksud dengan mengenal diri dari tersebut. Bisa jadi jawabannya akan berbeda, karena manusia memang makhluk yang unik. Dia adalah misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan oleh dirinya sendiri. Namun secara sederhana perkataan tersebut dapat ditafsirkan bahwa dalam hidupnya, manusia harus bisa menjawab pertanyaan: dari mana asal dia?, untuk apa dia ada?, dan hendak kemana sebenarnya dia.? Dalam tradisi jawa ada disebut sangkan paraning dumadhi atau awal dan akhir kejadian seseorang.
Untuk mengetahui apa dan siapa manusia sebenarnya, dapat kita korek dari berbagai sumber, seperti medis, biologis psikologis, dan sosiologis. Selain itu ada sumber yang autentik pula yang dapat memberikan gambaran tentang siapa manusia, yaitu Al-Quran. Sebagaimana janji Allah bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia, dan Dia tidak menciptakan sesuatu selain agar makhluknya bisa mengerti dan memahami, apa dibalik penciptaan tersebut. Dalam satu riwayat yang mashur disetir oleh Ibn Arobi dikatakan bahwa “Aku adalah khazanah mutiara yang tersembunyi, Aku ingin diketahui, maka dari itu aku menciptakan makhluk (agar dia mengetahui-Ku). Layaknya seorang seorang saintis yang menciptakan suatu teknologi, maka dialah yang paling tahu ciptaanya, dan pastilah dia akan membuat buku panduan tentang hasil temuannya tersebut. Begitu juga Allah memeberikan panduan tentang ciptaan-Nya agar dia berjalan sebagaimana mestinya. Dan panduan tersebut adalah Al-Quran. Dia memeberikan informasi yang lengkap tentang penciptaan manusia, kedudukan manusia, peran manusia dan gambaran tentang masa depan manusia.
Penciptaan Manusia
Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa bahwa manusia sebenarnya mengalami evolusi. Evolusi di sini berbeda dengan teori evolusi darwinisme. Ada yang menafsirkan bahwa evolusi di sini merupakan tahapan-tahapan kehidupan dia, dari alam ruh, alam rahim, alam dunia dan barzakh dan alam akhirat. Dalam alam ruh ini manusia telah disumpah untuk bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya. Hal ini berarti secara fitrah manusia cenderung untuk mengakui akan keberadan Tuhan.(QS. 7: 172-173), sehingga tidak ada alasan untuk ingkar padanya.
Selanjutnya Allah menciptakann Adam AS dari tanah, diantaranya dajelaskan dalam QS. 15: 26, 28, 33, serta QS. 6:2. yang kemudian ditiupkan ruh Allah ke dalamnya (QS. 15:28, 38:72, 32:9). Dengan demikian, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat ketuhanan. Setelah menciptakan Adama, Allah menciptakan Hawa dari jiwa yang satu, yaitu Adam.
Setelah penciptaan Adam dan Hawa, kejadian manusia selanjutnya dari nutfah. Di sisi lain dijelaskan pula dari sari pati tanaman. Hal ini tidak bertentangan, karena pada dasrnya nutfah itu sendiri merupakan saripati tanaman.
Al-Insan dan Al-Basyar
Kedua kata di atas sama-sama digunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk makhluk yang bernama manusia, hanya saja penggunaan keduanya dalam kontek yangbeda. Kata al-insan digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi. Makhluk yang mempunyai ilmu ((QS. 4:6) dapat melihat (QS. 20:10) memepunyai fuad atau fikiran yang dengannya ia bisa berfikir rasional (QS. 7:179).
Sementara al-basyar digunakan dalam al-Quran untuk menujuk manusia sebagai makhluk lahirian atau bilogis yang berhubungan seksual, makan dan minum, keluar masuk pasar dan aktifitas lahiriah lainnya.
Peran Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah pada dasarnya adalah untuk beribadah kepada Allah (QS. ), menyerahkan secara totalitas seluruh hidupnya hanya untuk Allah. Pada posisi ini manusia adalah sebagai hamba Allah atau abdi. Seorang abdi hanya akan tunduk dan takut sekaligus mencintai pada Tuhannya. Manusia sebagai abdi merupakan suatu hubungan vertical antara ia dan Tuhannya (hablu min Allah), di mana dia memepertanggungjawab-kan sumpah primordialnya.
Di sisi lain, manusia adalah khalifah Allah yang merupakan “tangan panjang” Tuhan di muka bumi ini yang bertugas memakmurkan bumi. (QS. 2:30) dan mengangkat derajat sesamanya (QS. 6:165), serta untuk menjaga dan mentransformasikan nilai-nilai tauhid (QS. 35:39). Dengan demikian ini merupakan peran horizontal (hablu min an-nas)
Adanya banyak istilah untuk manusia bukan berarti sebagai suatu dualitas, melainkan tetap pada satu kesatuan pribadi, integrasi kepribadian. Sebagai sebaik-baik ciptaan (QS. 95:4). Meskipun demikian dia dapat lebih hina dari binatang ternak, yaitu ketika merka tidak menggunakan hati pikiran dia intuk memahami, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar (QS. 7:179).
Mereka dalam ayat tersebut adalah orang yang tidak pernah memikirkan tentang nasib orang lain, karena dirinya telah tertutupi oleh nafsu dan tamak terhadap harta, jabatan dan lawan jenis. Mereka enggan untuk memberi nafkah pada anak yatim, dan meskipun mereka shalat sesungguhnya lalai dalam shalatnya. (QS.107:1-7) ibadahnya hanya karena riya dan untuk meningkatkan prestise dan status sosialnya saja. Penyakit sosial yang paling akut adalah ketika seseorang tidak peduli kepada sesamanya.
Orang-orang tersebut adalah orang yang tidak pernah memikirkan orang lain, sehingga dia menebang hutan seenaknya saja, sehingga bencana banjir, angin putingbeliung terjadi di mana-mana. Orang seperti ini jika menjadi pemimpin maka ia akan zalim, tidak adil dan tidak pernah berpihak pada rakyat, manipulasi data dan berpura-pura tidak melihat bahwa kemiskinan masih ada di mana-mana dan semakin meningkat jumlahnya. Mereka akan dipintai pertanggungjawabannya dan mereka akan dikembalikan pada seburuk-buruknya tempat (QS. 95:5)
Menarik kita renungkan bahwa di negeri mayoritas muslim ini masyarakatnya hidup jauh di bawah garis kemiskinan, sementara di sisi lain ada orang-orang muslim yang sangat kaya raya dan menguasai perusahan-perusahan besar di negeri ini. Jikalaupun ada alokasi dana untuk kaum miskin, sudah dipangkas terlenih dahulu.
Mungkin perlu kita mengambil hikmah dari keberadaan Adam di surga, yaitu untuk memerikan gambaran kehidupan ideal. Mari kita bangun kembali serpihan surga yang terlempar ke bumi bernama Indonesia ini dengan mengenali diri kita dari informasi dari Sang Pencipta. waallu a'alam bisshawab
Syariat Mekah dan Syariat Madinah
Jika umat Islam Indonesia ditanya tentang Islam pasti mereka mengatakan bahwa Islam adalah agama terbaik, shalihu fi kulli zaman wa makan, rahmatan lil’alamin. Tetapi ketika berbicara tentang syariat Islam, mengapa banyak yang menolak atau bahkan sampai pada tingkatan fobia?
Menurut Cak Nun, ini karena umat Islam kurang bisa memahami sejarahnya sendiri. Menurutnya lagi, jika ditelusuri lebih jauh, sebagaimana pembabakan kehidupan dan perjuangan nabi yang terbagi pada periode mekah dan madinah, demikian pula syariat, ada syariat Mekah dan ada Syariat Madinah.
Syariat Mekah adalah syariat yang berbicara tentang tauhid, janji dan ancaman-acaman. Sementara syariat madinah adalah berbicara tentang menanam. Menurut Cak Nun, ketika warga menyambat Rasul dengan lantunan thla’al badru ‘alaina rasul menjawab ‘alaikum bi ghiratsah. Menanamlah kamu! Perintah menanam adalah satu pesan intrinsik untuk ketahanan dan kedaulatan pangan. Selain kedaulatan pangan, syariat madinah berbicara tentang keadilan atau supremasi hukum.
Ditambahakan oleh Syek Mustofa, pimpinan Thariqat Naqsabandiyah, bahwa syariat pada hakikatnya adalah cinta. Bagaiman rosul SAW dengean kelembutannya menyuapi seorang Yahudi miskin, peminta-minta yang selalu mengejek dan menjelek-jelekannya sehingga di penghujung hidaup beliau. Sehingga ketika cinta tumbuh subur di hati semua manusia, siapa yang akan medzalimi orang lain? Siapa yang akan tega melihat orang lain mati kelaparan? Jika ada yang mencuri karena dia kelaparan, maka yang dihukum adalah orang yang kaya yang dicuri tersebut, karena dia telah membiarakan saudaranya kelaparan. Itulah syariat. Kedaulatan pangan, keadalian dan cinta.