SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT

(yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)

Rumahku Surgaku

Rumah bukan hanya tempat berteduh dari sengat matahari dan derasnya hujan, tetapi ia juga tempat bertumbuh rasa kasih sayang, tempat kembali bersama kehangatan keluarga.

Allah Maha Pemurah

Burung yang keluar dari sangkarnya dengan perut kosong, akan kembali di sore hari dengan perut kenyang. Sungguh Allah Maha Pemuerah kepada semua makhluk-Nya.

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Langit hanyalah batas dari ketidakmampuan pandangan mata kita, namun akanl dan iman kita akan selalu mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit yang kita lihat.

Jalan Hidup

Jalan hidup tak selamanya datar. kadang ia menaik-turun, berliku dan terjal. Hanya pribadi yang kuatlah yang mampu menempuh jalan itu.

Lebah

Ia hanya makan dari sesuatu yang bersih dan bergizi sehingga ia menghasilkan sesuatu yang bersih dan bergizi pula. ia tak pernah merusak saat mencari makan. ia ada untuk bermanfaat.

Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 08, 2012

Rasa Sunyi

Aku akan memulai tulisan ini dengan subauh tanya: “pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sepi?” Aku tahu itu adalah lirik sebuah lagu, namun aku tidak tahu lagu siapa itu. yang aku tahu lagu itu adalah soundtrack sebuah film “Mengejar Mas-mas”. Jadi kalo Anda penasaran, cari saja! Yang jelas aku tergelitik oleh pertanyaan itu saat aku nonton sebuah talkshow Just Alvin (tentu saja, peristiwa yang aku alami belakangan ini juga salah satu penyebab pertanyaan itu). pertanyaan Alvin mirip-mirip dengan pertanyaan di atas. Nara sumber pun menjawab, ia tidak pernah merasa sepi. Aku pun bertanya dalam hati, apa iya?

Aku tidak menuduh nara sumber pada acara Just Alvin sebagai pembohong, karena aku yakin pengalaman orang memang beda-beda. Apa lagi ini tentang rasa yang tentunya sangat subjektif sekali.
Obrolan tentang rasa sunyi ini memang tidak sebanyak obrlan tentang rasa cinta. Namun ada saja orang yang membicarakannya, bahkan mengindentikan dirinya dengan rasa ini. Salah satu contoh adalah adalah temanku yang penyaair menjadikan Keradjaan Sunyi sebagai nama situs pribadinya. “ di sinilah aku bersemayam”, ujarnya. Memang sebagian penyair menjadikan kesunyian sebagai inspirasi puisi-puisinya. Mungkin yang lain masih ada, namun hanya itu yang aku tahu.


Ah, apa sih sunyi situ? Mungkin pertanyaan itu perlu dijawab terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan pertama.


Berbicara tentang definisi, biar lebih absah akan aku ambilkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia saja (KBBI) biar kita tidak terlalu berdebat. Kalo mau berdebat, debatlah si penysun kamus.
Dalam KBBI edisi IV disebutkan sunyi adalah tidak ada bunyi atau suara apa pun; hening; senyap. Jadi kira-kira jika Anda mendapatkan diri Anda tidak mendengar suara apa pun, itulah sunyi. Namun gini, ketika aku berada di tengah hutan pada malam hari sendirian apakah itu berarti aku dalam kesunyian? Jika yang dikatakan sunyi itu tidak ada suara, bukankah saat itu ada suara, seperti suara jangkrik, suara burung hantu atau suara angin yang bertiup menggerakkan daun-daun. 


Ya, aku setuju denganmu. Suara-suara yang dimaksud di sini adalah suara manusia. Suatu suasana dikatakan sunyi jika telinga kita tidak menangkap suara-suara manusia. Semisal saat kita terbangun dini hari, saat manusia tertidur, saat itulah kita merasa sunyi.


Tapi gini, aku pernah gak sampean merasa sepi padahal banyak orang di sisi sampen. Seperti lagunya Dewa “di dalam keramaian aku masih merasa sepi”. Jika pernah, berarti kesunyian tidak semata-mata keberadaan orang-orang di sekitar kita, yang lebih penting lagi adalah kehadiran. Karena sering kali orang yang ada di sekitar kita tidak menghadirkan jiwanya kepada kita. Atau kadang kita sendiri yang tidak menghadirkan diri kita di tempat kita berada itu. jiwa kita entah melayang kemana. Dengan demikian, rasa sunyi adalah ada tidaknya orang-orang di dalam jiwa (perhatian) kita. Lebih khusus lagi, orang-orang itu adalah orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita (kita sayangi). Rasa sunyi ada ketika kita ditinggal pergi orang-orang yang kita cintai.


Kembali ke pertanyaa awal, pernahkah kau merasa tidak pernah merasa sepi? Jawabku, tidak. Aku tidak pernah tidak pernah merasa sepi. Dalam kata lain, aku pernah merasa sepi. Mungkin juga sering. Bagaimana denganmu?

Rabu, Juni 27, 2012

Jangan Berteriak...!!!

“Diaaaaaaaaaaaaaam! Jangan terraik-teriak”, teriaku.
Kelas itu tiba-tiba hening, sehingga suara seorang anak yang berbicara langsung terdengar jelas.
“Tuh, mr. yang teriak”, kata Figo, anak yang aku teriaki untuk tidak berteriak.

Peristiwa itu terjadi saat pelajaran berlangsung setelah istirahat makan siang dan salat zuhur. AC yang tidak bekerja dengan baik menyebabkan ruangan kelas terasa panas. Di luar matahari baru sedikit bergeser dari atas kepala. Dalam suasana panas itu pembelajaran yang harus berlang dengan metode perorangan membuat suasana kurang kondusif. Anak-anak yang telah selesai dengan tugasnya membuat aktivitas sendiri. Kondisi itu tentu saja membuat konsentrasi saya terpecah. Ditambah lagi beberapa siswa kelas 2A tersebut memang mempunyai kebiasaan berteriak saat memanggil temannya atau saat merasa terganggu oleh teman-temannya. Saat itulah saya juga berteriak meminta mereka untuk diam sebagaimana di atas.

Ada dua hal yang ingin saya tulis di sini, yaitu tentang egosentris dan imitatif

1. Ego
Masa-masa keemesan (golden age) seorang anak sangat mudah menyerap informasi yang datang dari luar dirinya. pada golden age ini (0-8 tahun), menurut Frued, kontrol anak masih pada ego mereka. Artinya, anak masih menginginkan bahwa segala sesuatunya mesti berpusat kepada dia. Untuk itu, apa pun akan ia lakukan untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Saat anak-anak ini berbicara dengan teman sebaya mereka, bisa dipastikan tak akan ada yang mau mengalah. Masing-masing ingin pendapatnya didengar. Itulah buktinya.

Keinginan seorang anak agar dirinya menjadi pusat perhatian adalah sesuatu yang alamiah. Namun demikian hal tersebut bisa menjadi bumerang bagi perkembangan anak jika orang tua tidak memahaminya. Yang pertama: orang tua melakukan hal yang dianggap baik untuk anak dengan sangat ketat membatasi keinginan anak. Padahal hal tersebut justru menghambat perkembangan anak, karena rasa ingn tahu mereka harus tersumbat.

Kedua: orang tua sangat memanjakan anak, sehingga anak semakin bossy. Hal ini akan diperparah jika orang tua salah memilih pengasuh anak. Karena anak akan semakin bossy. Ini yang biasanya menumbuhkan sikap ingin menang sendiri, berteriak-teriak jika mempunyai keinginan.


2. imitatif
Saya ingin mengutip pepatah lawas “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Mungkin itu untuk menggambarkan peristiwa di awal tulisan ini. Memang saat itu siswalah yang berteriak terlebih dahulu, saya hanya akan menenagkan. Namun ketika anak berteraik dan kita juga berteriak, maka yang muncul adalah anak mendapatkan pembenaran terhadap apa yang ia lakukan. Itu dibuktikan oleh perilaku yang sama yang dilakukan oleh guru.


Dari persitiwa siang itu dan juga potongan dari film Nanny mcPhee di mana seorang ibu berkata pada anaknya untuk tidak berteriak dengan si ibu sendiri yang berteriak, saya mulai berpikir untuk mencari metode lain. Saya tidak langsung “menangani” anak tersebut, tetapi partnernya lah yang saya tangani terlebih dahulu, karena ia lebih mudah dikontrol. 


Cara yang lain adalah dengan bermain freezer, menjadi patung dan bertanya “suara siapa yang terakhir?”. Ternyata cara itu cukup efektif. Memang kadang siswa itu masih berteriak, namun karena tidak mendapatkan respon dari temannya yang lain, teriakannya menjadi berkurang. Bahkan kadang teman kelasnya yang mengingatkan agar dia tidak berteriak dan mengganngu temannya. Yang membuat saya lebih takjub, anak kelas dua itu membuat kesepakatan: bagi orang yang berteriak dan mengganggu orang lain akan berdiri di depan kelas sampai matapelajaran saat itu selesai.
Memang, mendidik memerlukan sebuah kesabaran.

Senin, Mei 21, 2012

Surat Kedua untuk Calon Istriku.

Assalamu’alaikum wr. wb.
Calon istriku. Maaf aku kirim lagi surat untukmu. Bisa dibilang ini adalah sedikit revisi dari suratku yang dauhulu. Aku tak tahu apakah engkau telah membacanya atau belum, namun aku sedikit cerobah, suratmu dibaca oleh kaummu. (wajar aja lagi, orang suratnya diposting di blog).

Ada beberapa kritik kepada suratku itu. Dan saat engkau membacanya, mungkin engkau akan mengajukan kritik yang sama. Untuk itu, aku kirimkan surat ini kepadamu.

Calon istriku.
Dalam kritikku itu, ada yang mengatakan pemikiranku telah berubah menjadi patriarkhi, tidak seperti dulu lagi. Saat aku membca ulang surat itu, emang sih akau merasa gitu. Aku setuju dengan apa yang dikatakan oelh kritikus itu.
 
Calon istriku...
Pada dasarnya, yang aku inginkan adalah saling pengertian dan saling menguatkan. Kita saling mengisi kekurangan satu sama lain. Bekerja sama dalam setiap peri kehidupan kita. Karena itulah yang bisa melanggengkan sebuah keluarga. Aku tak bisa jalan sendiri, untuk itu aku butuh teman.
 
Itu saja surat keduaku ini. Terimakasih.
 
 Wassalamu’alaikum.

Kamis, April 26, 2012

Surat untuk Calon Istriku

Assalamu’alaikum wr. wb.

Calon istriku, sebelumnya aku ingin menceritakan sesuatu. Akankah engkau menyimaknya? Kuharap demikian.
Belakangan ini aku diselimuti oleh satu pertanyaan, pertanyaan yang memaksaku untuk merenung, bermuhasabah. Satu pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin sangat mudah. Atau mungkin pertanyaan yang tidak pernah dipertanyakan lagi.

“Sudahkah waktuku untuk menikah?” Itulah pertanyaan yang hadir dalam renung hatiku. Itulah pertanyaan membuatku tersadar akan keberadaanku.

Calon istriku.
Bukan aku tidak tahu bahwa menikah adalah perintah agama. Bukan aku tidak tahu bahwa menikah adalah sunah Rasulullah saw, dan barang siapa tidak mengikuti sunahnya maka ia bukanlah umat Rasulullah. Aku pun tahu bahwa menikah adalah ibadah. Aku tahu itu. Namun ada satu yang masih mengganjal dalam diriku. Aku teringat janji Allah yang menciptakan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik pula. Pertanyaan pun tumbuh lagi dalam hatiku: “sudahkah aku menjadi lelaki yang baik sehingga aku layak menjadi pendamping hidupmu? imam bagimu dan anak-anakmu?”.

Calon istriku.
Aku sadar aku bukan manusia sempurna. namun aku akan selalu berusaha untuk menjadi sempurna. Meski aku sadar sangat sukar untuk menjadi sempurna. Untuk itu aku berharap hadirmu di sisiku akan membuatku menjadi sempurna. Termasuk menyempurnakan agamaku.

Calon teman perjalananku.
Perlu engkau ketahui, perjalanan bahtera rumah tangga yang akan kita lalui sangatlah panjang. Sebagai nahkoda, aku butuh bantuanmu untuk mengingatkan akan arah tujuan bahtera ini, mengingatkanku jika aku lupa arah. Agar kita bisa sampai pada tujuan kita. Tentu saja laut tak selalu tenang. Mungkin akan ada gelombang tinggi, mungkin akan ada badai yang menerjang bahtera kita. Jika itu terjadi, aku hanya berharap padamu untuk bersabar dan selalu berpegang erat padi tali Allah sehingga tidak ada di antara kita yang terlempar dari bahtera ini dan hanyut dalam pusaran gelombang. Yakinlah badai pasti berlalu. Yakinlah segala coba yang mendera akan menjadikan kita lebih dewasa dan sempurna. Bukankah tawa dan duka laksana dua sisi kepingan uang logam yang sama?

Calon istriku.
Maafkan jika nanti aku belum bisa membahagiankanmu sebagaimana suami-suami lain membahagian istri-istri mereka. Namun aku akan selalu berusaha. Aku tak akan berhenti untuk menjadi yang terbaik. Maka bantulah aku meski hanya dengan senyummu.

Calon ibu dari anak-anakku.
Anak adalah permata bagi sebuah rumah tangga. Raga yang lelah sepulang kerja atau pikiran suntuk bercampur kantuk akan segera hialng saat kita memandang wajah lucu dan tawa mereka. Anak adalah amanah yang dititipkan kepada kita. Jika Allah berkenan memberikan amanah itu kepada kita nanti, aku minta kepadamu rawat dan didiklah mereka sebagaimana rasulullah tuntunkan. Ajarilah mereka bahwa hidup ini adalah anugrah dari Sang Pencipta, bahwa tujuan hidup ini tak lain hanya beribadah keada Allah. Ajarilah mereka mengenal-Nya. Ajarilah mereka cara menyapa-Nya. Ajarilah mereka bahwa kasih sayang-Nya lebih luas dari kemurkaan-Nya. Ajari pula mereka bahwa cinta akan mendamaikan dunia.

Tulang rusukku
Dalam setiap doaku aku akan bermohon agar kita segera dipertemukan dan dipersatukan dalam ikatan suci, mengarungi bahtera bersama, membangun surga kita. Dan tak lupa aku mengajakmu untuk bermunajat:

Ya Allah aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan amal yang mendekatkanku kepada cinta-MU.
 
Ya Allah, jika boleh aku mencintai, maka izinkanlah aku mencintai orang yang mencintaimu sehingga kami dapat saling mencintai karena-Mu dan janganlah kau jadikan kecintaan antara kami lebih besar dari kecintaan kami kepada-Mu.
 
Ya Allah jika boleh aku merindu, izinkan aku merindu orang yang merindu-Mu. Dan janganlah Kau jadikan kerinduan di antara kami melebihi kerinduan kami untuk menatap wajah-Mu. 

Ya Allah kabulkanlah doa kami. Amin.
 
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Calon suamimu.

Senin, April 23, 2012

Guru Harus Adil

Sekolah di mana saya mengajar adalah sekolah yang menggunakan sistem 5 hari efektif. Dengan demikian pembelajaran untuk kelas 1 sampai jam 13.00, kelas 2 dan 3 sampai jam 13.45 dan kelas 4-6 serta SMP sampai dengan jam 16.00. hal ini dilakukan guna menutup hari sabtu yang dijadikan sebagai hari libur. Selain itu juga karena sekolah kami menamakan dirinya sebagai sekolah plus. Dengan demikian berbeda dengan sekolah negeri. Adapun yang menjadi nilai plus dari sekolah kami adalah agama Islam dan Bahasa Inggris.
Meskipun nilai plusnya adalah agama Islam, sekolah kami sendiri bukan sekolah Islam seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Seragam yang digunakan pun seragam pendek (namun bagi yang menghendaki seragam panjang juga diperbolehkan). Bahkan ada sampai pada tahun ketiga sekolah kami, ada dua murid yang non-muslim.


Sayangnya, meskipun menjadikan agama Islam sebagai nilai plus, sampai tahun ketiga sekolah ini waktu salat asar belum terprogram dalam kurikulum. Dengan demikian siswa yang masih punya jam pelajaran atau siswa kelas bawah yang masih di sekolah karena ada kegiatan ekstra atau karena belum dijemput merasa “tidak harus” salat asar di sekolah. Hal tampak dari ketidakacuhannya saat mereka mendengar azan asar.
Melihat ketidakacuhan para siswa, tiga orang guru agam islam (termasuk saya) berupaya untuk “mengkondisikan” siswa, mengajak siswa yang masih berada di lingkungan sekolah untuk salat asar berjamaah. Sore itu salah seorang guru mendatangi beberapa siswa kelas dua yang memang belum dijemput yang sedang bermain bola dari botol minuman.

“Nak, ayo salat asar dulu, nak!” Ajak guru itu.

“Mister, masak yang disuruh salat kita terus. Tuh, kakak-kakaknya tidak disuruh, celetuk seorang murid.

Guru itu pun kemudian mendatangi beberapa siswa kelas 5 dan 6 yang saya yakin bahwa ia mendatangi anak-anak itu bukan karena celetukan dari seroang siswa kelas 2 tadi, tetapi karena memang sudah ia niatkan sejak awal. Namun demikian apa yang dikatakan oleh seorang siswa kelas dua tadi, bagi saya, mengandung satu makna, yaitu mereka menginginkan keadilan. Mereka menginginkan guru berlaku sama terhadap semua siswa.

Seusai jam mengajar, saya duduk di depan front office menemani anak-anak kelas 2A sebelum mereka dijemput pulang. Saat itu seorang wali murid mendatangi saya. Sepertinya ia ingin menyampaiakn sesuatu, namun tidak jadi. Namun kemudian kami bertemu pada lain waktu dan kesempatan. Setelah berbasa-basi ia pun kemudian mangatakan bahwa ada seorang guru yang perhatiannya pada seorang siswa melebihi perhatiannya kepada siawa-siswi lainnya. Informasi itu tentu saja ia dapatkan dari cerita anaknya.
Permasalahan tidak berhenti di situ, karena hal tersebut samapi kepada kepala sekolah. Akhirnya semua selesai setelah diberikan penjelasan bahwa anak tersebut memang sedikit special need alias berkebutuhan khusus. Namun dari kejadian itu, satu poin yang saya tarik, anak akan merasa jika ia dilakukan tidak sama dengan lainnya.

Di kelas saya ada seorang anak yang kecerdasan kinestetiknya sangat tinggi, sampai-sampai ia disebut “nakal” karena sering menggunakan tangannya untuk memukul temannya. Secara sosiograf ia anak yang banyak dijauhi temannya. Hampir setiap hari ia berulah yang membuat teman-temannya jengkel. Karena begitu seringnya ia membuat “keributan”, maka setiap ada keributan ia selalu menjadi tertuduh. Sampai suatu hari ada keributan kecil di kelas, tanpa bertanya lebih dahulu saya pun memanggil Rian dan mengadilinya. Namun apa yang terjadi? Bukan Rian yang protes, tetapi siswa yang lain.

“Mister, kok Rian terus sih yang disalahkan?” kata seorang dari mereka.

Dari perkataan siswaku itu saya tahu saya telah melakukan kesalahan. Saya telah berlaku tidak adil. Seharusnya saya bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi sebagaimana yang biasa saya lakukan. Sebagai pendidik, kita memang harus berlaku adil kepada siswa. Siswa harus diperlakukan dengan cara yang sama. Tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.

Selasa, November 16, 2010

Sembelihlah 'Anakmu'

“Sembelihlah anakmu,” kata Tuhan.

“Tuhan, bukankah anak adalah anugerah-Mu? Aku telah memelihara dan membesarkannya tak lain karena ketaatanku kepada-Mu.”

“Oleh karena itu, sembelihlah ia karena ketaatanmu kepada-Ku” kata Tuhan lagi.

“Tuhan ia adalah Qurratu ‘aini, buah hati hamba. Bagaimana mungkin aku menyembelih yang aku sayangi…”

“Adakah yang lebih kau sayangi dari pada Aku?”Tanya Tuhan.

“Tentu Engkau di atas segalanya,Tuhan.”

“Kalau begitu, sembelihlah ia karena kecintaanmu kepada-Ku.” Perintah Tuhan.

“Tuhan bila Engkau izinkan, biarlah aku menyembelih domba sebagai ganti anakku, sebagaimana Engkau mengganti Ismail dengan domba saat Ibrahim hendak meyembelihnya.”

“Apakah kamu merasa sederajat dengan Ibrahim. Dia adalah khalili, teman-Ku, orang yang sangat dekat dengan-Ku. Kalau kamu tak mampu menyembelih anakmu, maka sembelihlah dirimu!” kata Tuhan.

“Tuhan, begitu kotor diri ini, begitu banyak dosa yang telah aku perbuat, begitu banyak hak anak Adam yang telah aku ambil. Dalam keadaan demikian, bagaimanakelak aku mempertanggungjawabkannya di hadapan-Mu. Layakkah aku kembali padamu dalam keadaan penuh dosa. Tuhan, tangguhkanlah sejenak kepulanganku kepada-Mu, niscaya akan aku perbaiki diri ini.” Pohonnya.

“Kalau begitu, sembelihlah anak yang ada dalam dirimu,anak yang berupa kecintaan yang berlebihan pada dunia, anak yang berupa rasa memiliki yang akna mengantarkanmu pada keinginan untuk menguasai, yang kemudian akan melahirkan ketamakan, oba, serakah, yang semua itu akan membawamu pada perbuatan aniaya.”



Selamat menyembelih “anak” dalam diri kita masing-masing. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA

Sabtu, November 13, 2010

Kehadiranmu

kehadiranmu meninggalkan luka di sini
dalam diri ini
entah mengapa aku merasa begitu perih
adakah ini serpihan dari bongkahan rasa yang lama terpendam

waktu telah membawa kita pada dunia yang berbeda
jarak telah menyekat ruang berada kita
setiap langkah telah menjadikan kita yang berbeda
aku bukan aku, dan kamu bukan kamu
sebagaimana kita pernah bersama dulu

namun,
ternyata waktu tak bisa membunuh rindu
masa tak mampu menghapus rasa
ia tetap menyala, membara

hujan yang masih turun di bulan Juni
berhenti oleh hadirmu
karena engkau membawa senyum cerah mentari
yang menyinari setiap tempat
yang pernah kita lewati dengan berjalan kaki
tapi, entah mengapa
senyum itu kini menyayat bagai sembilu

kalaupun waktu tak mampu menghapus bayang senyum itu
biarlah waktu membunuh ada-ku.

25062010

Rabu, Oktober 06, 2010

Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku

ada seseorang di kepalaku yang bukan aku
dia menyuruhku berjalan,
namun tak pernah ia menunjuk arah
dia menyuruhku berbicara
namun tak pernah ia memberi makna
dia menyuruhku bernyanyi
namun tak pernah ia memberi nada

ingin aku menolak, ingin akan membantah
namun ia laksana magi yang membuatku lupa diri

inginku membunuhnya, mencincangnya
namun aku takut
aku turut mati bersamanya

aku pun berjalan tanpa arah
berbicara tanpa makna
bernyanyi tanpa nada

Senin, Juni 28, 2010

Terminal

Terminal adalah tempat pemberhentian
Dari berbagai entah orang datang
Di terminal mereka berhenti
Tiada lama, karena kemudian mereka bertolak lagi
Ke titik yang masing-masing tuju

Di terminal orang gelisah
Kapan kiranya bus datang
Di terminal orang gelisah
Kapan roda bergerak
Menghalau bus meninggalkan riuh

Di terminal orang tak ingin lama
Karena ia bukun tujuan
Karena ia
Hanya pemberhentian sementara

Rajabasa, 28-06-2011

Senin, April 05, 2010

Jiwaku Tertinggal di Sana

Jiwaku tertinggal di sana
Di sepanjang jalan yang aku lalui
Jalan yang minukung tajam, menanjak, menurun
Jalan yang membawaku pada keheningan
Takjub akan keindahan

Petak-petak sawah menghampar di kemiringan
Mencipta garis-garis yang melekuk
Mungkinkah ini Atlantis?
Ah Plato, kau mininggalkan seribu misteri
dalam setiap pertanyaan

Mataku menatap jauh ke barat
Bukit-bukit kecil timbul tenggelam
di antara lembah-lembah sunyi
diselimuti awan tipis
Di sana Lawu angkuh menjulang
Mengingatkan aku akan pendakian
Lelah, namun indah

Di selatan, bukit barisan yang memagari
pulau jawa dengan lautan selatan
Paku pagi bumi ini
setia menjaga nusantara

gerimis turun merintik
menambah dingin suasana
mulutku terkatup, aku merinding, dadaku bergetar

inilah negeriku,
potongan surga yang jatuh ke bumi
maka, nikmat Tuhanmu yang manalagi
yang kamu dusatakan?

Kamis, November 12, 2009

oh, ... Istiqomah

oh, ... istiqomah
Nama yang selalu membuat aku gelisah
membuat aku berkesah
mengelus dada, merintih
Tunduk malu pada laku

serentang panjang jalan aku telusur
berdetik waktu aku selam
seraya berbusa doa aku utara
tak jua kau aku dekap
aku peluk, aku miliki

oh,... istiqomah
si anak 'azam dan niyah
perias paras hati tutur dan laku
jalan sunyi
di atas duri kaki berdiri

rabbul istiqomah, penguasa istiqamah
kuasakanlah aku atasnya
hadiyahkan dia kepadaku
patrikan di terdalam lubuk qolbu
jalankanlah aku bersamanya
di jalan lurus-Mu, menuju-Mu
agar laras kata dan laku
agar tiada lagi aku berkesah.

Minggu, November 08, 2009

Nulis Yoo.!!!!

sudah lama aku tidak menulis di blog ini. menuis sebenarnya adalah terapi, terapi untuk kebekuan otak kita, juga untuk melatih konsentrasi kita. menulislah, karena ilmu itu adalah laksana binatang buruan, dan pengikatnya adalah catatan atau tulisan, begitu kata Imama Ali. karena peradaban harus ditulis. itu adalah alasan lain.

Pramoedya Ananta Toer pernah bilang, setinggi apa pun sekolahmu, kamu tidak akan dikenang orang jika kamu tidak menulis. jadi menurutnya, dengan tulisan kita bisa diingat orang. tapi tentu ada orang yang telah menulis banyak hal namun tidak diingat orang alias dilupakan.


Pram pernah menyetir perkataan RA. Kartini bahwa menulis adalah kerja keabadian. mungkin maknanya hampir sama dengan apa yang dimaksudkan sebelumnya. initnya, mari kita menulis, apa saja yang bisa ditulis. tulisan itu bisa dalam bentuk catatan harian seperti Ahad Wahib (pergolakan pemikiran Islam) dan Soe Hok gie (Catatan Seoarang Demontran), bisa juga dalam bentuk cerita memoar seperti andrea yang kemudian jadi best seller, bisa juga dalam cerita pendek (cerpen ) terlalu bnayak contohnya, atau dalam bentuk puisi.

tulisan gak mesti harus berat dan ilmiah. tulisan gak perlu memakai bahasa yang aneh-aneh. menulislah dengan bahsa sederhana, karena kekuatan tulisan sebenarnya sangat bergantung pada apa sebenarnya yang kita berikan dalam tulisan. dan yang paling kuat adalah alasan mengapa kita menulis, ketulusan hati kita untuk menulis. apa komentar gede prama terhadap novel-novel Andrea di acara Kick Andy tidak lain adalah karena Andrea menulis dengan penuh cinta dan ketulusan.

catatan terakhir, ada yang mengatakan, menulis itu seperti orang buang buang air besar (BAB). orang BAB akan bergantung berapa banyak dia makan. semakin dia banyak dan sering makan, semakin banyak pula dia BAB. makanan bagi penulis adalah apa yang harus dia tulis. bisa buku atau pengalaman menarik. seberapa banyak buku yang kita baca pasti akan berpengaruh terhadap kualitas tulisan kita. itulah sebabnya Andrea dipesani oleh gurunya, tiga hal yang menjadi sumber inspirasi yaitu baca Al-Quran, Baca buku dan melancong. yang pertama jelas berkaitan dengan hubungan kita dengan kitab suci yang merupakan sumber nilai tata kehidupan. dia berhubungan dengan komunikasi dengan yang mutlak. Muhammad iqbal bilang, bacalah AL-Quran seakan-akan dia diturunkan kepadamu, maka kamu akan mendapat spirit sebenarnya. Kedua berkaitan dengan pemikiran-pemikiran orang lain yamg telah dibukukuan terlebih dahulu. sementara yang ketiga, melancong, kita akan banyak mennemukan peristiwa dan pengalaman-pengalaman baru. so, mari ita nulis. Nulis Yoo.!!!!

Minggu, Agustus 23, 2009

Dia Datang

dia datang,
dia datang saat aku masih terlena
dalam nada menggema
dalam musik yang asyik
tiba-tiba dia datang

mungkin tidak tiba-tiba
bukan, bukan mungkin, memang
dia datang tidak tiba-tiba
ada sejuta suara mengabarkannya
ada nyanyian menyambutnya
ada tabuhan mengiringinya
dan dia tidak datang tiba-tiba

aku mencoba bangun, mengepal tangan
menahan berat badan, lesuh tubuh
mengumpul kesadaran
mengatur nafas dan irama suara
lalu ikut bersenandung
marhaban ya ramadhan

d

Rabu, Agustus 19, 2009

Di Terminal Pemberangkatan

satu sore di sebuah terminal pemberangkatan
aku melihat seorang ibu muda
dengan anak kecilnya
melepas kepergian sang suami atau ayah dari anaknya

bus jurusan jakarta segera berangkat
sang ayah memberikan ciuman pada anaknya
sang istri menyalami tangan suaminya
keduanya saling melambaikan tangan
sang ibu mencoba mengajari anaknya "dadah" untuk ayahnya
sang ibu nampak tersenyum sembari mencuim kedua pipi anaknya,
menatap suaminya yang berangkat ke Jakarta
mungkin untuk bekerja

sang istri mencoba tersenyum
tertawa kecil,
namun aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya
mungkin malamnya kan sendirian, hanya ditemani oleh anaknya
pun beigtu sang ayah
namum mereka tetap tersenyum
meski aku tak tahu apa yang ada dalam hati mereka
sore itu, di terminal pemberangkatan Gubuk, Grobokan.

Minggu, Mei 10, 2009

Orang Indonesia tidak masuk surga?

Saat menonton berita di televisi, salah seorang teman menyeltuk begitu saja, bahwa orang Indonesia tidak akan masuk surga. Waktu itu di televisi sedang ada wawancara dengan menteri keuangan, Sri Mulyani. Sebagaiman kebiasaan dan ahli dia, saat itu dia sedang membicarakan tentang hutang lua negeri.

Mengapa tidak masuk surga? Karena, setiap warga Negara Indonesia mempunyai tanggungan hutang, bahkan ketika dia baru lahir cenger di negeri kaya ini. dalam ajaran agama, orang yang meninggal dan dia masih mempunyai tanggungan hutang, maka dia akan ditahan untuk masuk surga. Bagaimana dengan orang Indonesia tadi. Meskipun meraka seringkali tidak pernah merasakan hasil uang utangan tersebut, api merekalah yang dibebani untuk membayar. Semoga itu tidak dihitung sebagai hutang nanti di sisi akhirat, karena semua itu adalah pemerasan oleh kaum neo-liberal, baik yang berkulit putih maupun kulit sawo matang, yaitu para Mafia barkeley. Ya Allah bebaskanlah kami dari beban hutang

Minggu, April 12, 2009

e-book

Harga kertas naik, otomatis harga buku juga naik. sejak selesai kuliah ini aku mulai jarang beli buku, maklum kiriman distop, sementara gaji sebulan cuma cukup untuk makan. akhirnya aku hanya dapat pinjam dari beberapa orang teman atau meminta teman yang masih kuliah untuk memnjamkan buku di Perpustakaan universitas. tapi di mana ada keinginan pasti ada jalan.

Dalam era IT seperti sekarang ini, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memperoleh bahan bacaan, salah satunya melalui e-book. nah kalau kita lagi berselancar di dunia maya, kit ajuga kan mendapatkan beberapa situs yang menyediakan layanan ddownload grats buku-buku dalam bentuk pdf, entah itu fiksi maupun non fiksi. salah satunya adalah www.warungfiksi.net.

selain itu, saya juga sernig mendapat kiriman scanbook dari salah seorang teman yang bekerja di salah satu lembaga peneitina yang memang berusaha menyebarkan buku-buku yang berguna. so, kita bisa menjadikan buku-buku tersebut sebagai sumber bacaan.

Sabtu, Februari 21, 2009

Sider

rusak, sider blog ini hilang
gak tahu ke mana dia pergi
tanpa pesan, tanpa tanda petunjuk tertinggal
seperti mereka yang juga pergi
satu persatu meninggalkan diriku
sendiri
ah, adakalanya kita harus berjalan dalam jesendirian
pun demikian, asa yang kuat adalah setenga keberhasilan.
hai sider, maaf aku belum sempet memperbaikimu.


Kamis, Februari 19, 2009

Ke ISI

Hari rabu kemarin aku maen ke kampus Intitut Seni Indonesia (ISI) di jl. Parang Tritis. Kami diterima di fakultas seni rupa. setelah ngobrol dan diaolg dengan beberap pimpinan Fakultas seni rupa, kami diajak untuk berkeliling melihat-lihat karya mahasiswa ISI yang ada di gedung sebelah. bergantian dari galery seni lukis, kriya dan desain. Setelah melihat karya-karya di kampus itu, aku, dan juga teman-teman yang lain saya kira, ingin segera berkarya. oh ya, aku lagi konsen di seni kaligrafi sekarang. up, aku jadi ingat, aku kemarin juga baca sekilas di sanan, tulisan tentang Seni Mencari Tuhan. baghus. Aku kedepan juga penngin nulis Seni dan Spritiualitas. mudah-mudahan bisa. amin. dan jangan lupa, berkarya.



Minggu, Januari 25, 2009

Manusia Malam

Bagadang janagan begadang
Kalau tiada ratinya
Begadang boleh saja
Asal ada artinya.


Sepenggal dari bait lagu bang haji roma irama itu mengingatkan aku pada masa-masa usia SLTA. Aku adalah orang yang memang sejak kecil senang tidur di rumah orang. Waktu usia SLTA sering kali aku pulang pagi, sehabis subuh. Karena masih merasa ngantuk, aku pun tidur lagi, hingga ibuku membangunkan kau tuntuk sekolah. Begadang memangkebiasaanku dari dulu, meski aku kadang tidak mengerti manfaat apa yang aku peroleh. Ak juga tidak sadar betul dengan apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya begadang, terjaga lewat tengah malam dengan beberapa teman.

Kebiasaanku itu hilang saat aku dduk di bangku SLTA. Jadwal yangpadat, ditambah dengan kegiatan di asrama membuat aku kecapekaan. Sebelum tengah malam pasti aku sudah tidur. Selama tiga tahun itu, hobi begadangku sedikit berkurang. Aku hanya begadang kala esaknya hari libur. Jadi tidak ada beban atau ketakuan kesiangan dan bolos sekolah.

Setelah menamatkan pendidikan SLTA, aku meneruskan studiku di Jogja yang konon katanya adalah kota pelajar. Kibiasaan lamaku kembali, begadang. Dan kini aku pun menjadi manusia malam, dalam arti manusia yang menghabiskan waktu malamnya dengan terjaga. Namun, keterjagaanku kali ini aku rasakan lebih bermanfaat daripada keterjagaanku pada masa-masa aku di bangku SLTP. Meskipun banyak diisi dengan obrolan, namun obrolannya lebih bermutu dan berbobot. Kadang rapat hingga larut pagi atau diskusi dengan tema yang melangit, atau merumuskan satu kurikulum pelatihan. Ada ungkapan di antara kami yang bersifat olok-olokan aktivis kok tidur sore!Semua itu berjalan hampir separo masa keberadaanku di kota berhati nyaman ini. Namun apakah dengan demikian aku bisa dikatakan manusia malam? Bisa jadi seperti itu. Tapi apakah manusia malam hanya terjaga pada malamhari saja, sementara pagi dan siang harinya lelap dalam buai mimpi?

Muhammad SAW adalah manusia malam. Dia menghabiskan separo malamnya untuk begadang. Sebelum kenabian, Muhammad menghabiskan malam-malamnya di Gua Hira, tempat beliau bertahannus atau semedi, merenungkan kondisi masyarakatnya. Setelah beliau diangkat menjadi rasul-pun Muhammad masih sering begadang, menghabiskan waktu malamnya dengan bermunajat kepada Tuhannya. Dia berasyik masyuk dengan-Nya. Muahmmad adalah manusia malam. Tapi apakah ketika Muhammad menghabiskan malamnya dengan begadang dia lupa pada siangnya?

Tidak, Muhmmad tidak lupa akan kewajiban siangnya sebagai kepala keluarga, sebagai kepala negara, sebagai kepala umat, sebagai panglima perang. Itulah manusia yang seimbnag. Dia menghabiskan malamnya dengan bermunajat, sementara siang dia tetap bekerja. Itulah manusia malam sejati, tidak sepertikekelawar yang keluar pada malam hari dan tidur di sarangnya pada siang hari. Apakah kita mau seperti kekelawar atau kalong?

Manusia malam adalah ulil albab, yaitu orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri berbaring, siang maupun malam. Manusia malam adalah manusia yang bertafakur, bukan mendengkur. Dia adalah manusia yang berzikir bukan mangkir.

Malam hari adalah waktu untuk meepas penat, bermunajat, beribadah pada sang pencipta. Pada sat itulah manusia melepaskan keluh kesahnya, mengakui salah dosanya, menagis tersedu, antara khauf dan raja, takut sekaligus berharap. Di malam hari dia sangat lemah, cengeng, namun di siang harinya dia berjalan menghadapi kehidupan ini denghan egar, tiada ketakutan. Malam memberikan satu suntikan spirit bagi manusia utnuk menjalani kehidupa siang harinya. Sudahkah kita menjadi manusia malam?

Selasa, Desember 30, 2008

Pucuk Merapi

Hari ini (27/12) aku memberi materi pada Training Kepemimpinan yang diselenggrakan oleh salah satu komisariat. Aku menggantikan temanku yang harus pergi ke Jakarta untuk pertemuan dengan beberapa pengurus besar. Mendadak. Aku hanya punya waktu satu malam, bahkan kurang, untuk memprsipakan diri, karena tadi malam aku juga harus menjadi pembicara pada diskusi Usrah Daarul Hira.. Karena semalaman mempersipakan materi, aku kelelahan, tertidur di kursi ruang tamu, dan baru bangun saat satu panggilan masuk ke HP ku.



Pagi ini juga aku masih merasa ngantuk, namun aku harus segera berangkat ke lokasi pelatihan di Kaliurang. Udara terasa segar saat aku mulai menaiki jalan Kaliurang yang berliku. Angin berhembus sepoi meyapu wajahku yang tidak tertutup oleh kaca helm. Jauh di di depanku, nampak Merapi berdiri tegap menjulang langit.

Sesampai di lokasi pelatihan, aku mendapati motor salah seorang temanku masih di parkir di sana. Ini berarti dia masih menjadi pembicara di sana. Aku urung masuk, dan aku konfirmasi tentang jadwalku. ke temanku yang lain yang kebetulan juga diminta menjadi pembicara. Aku salah jam. Aku harus menunggu sekitar satu setengah jam lagi. Aku teringat kembali oleh keindahan Merapi yang nampak dari kota tadi. Aku pun naik ke atas, ke gardu pandang.

Merapi adalah gunung berapi yang masih aktif. Terakhir letusannya terjadi pada tahun 2006 yang lalu, sesaat sebelum Gempa Jogja, dan masih berlangsung sesaat setelah Gempa Jogja. Sehingga tahun 2006 adalah tahun bencana bagi Jogja. Pada tahun ini juga sosok kharismatik dan fenomenal muncul, Mbah Maridjan. Aku pernah sekali mengunjungi runahnya. Sangat sederhana, karena memang Mbah Maridjan adalah orang yang sederhana. Meski sudah nampak tua, beliau masih energik, tegas kata-katanya dan cukup berwibawa. Sayang, orang semacam beliau sering dipolitisasi karena ketenarannya, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Asia. Saat kunjunganku ke sana, teman-teman ku yang dari Malaysia mengatakan tidak asing dengan sosok Mbah Maridjan, bahkan mereka meminta foto bersama dan tandata tangan Mbah Maridjan.

Di sana aku duduk di satu gubug yang kosong, menatap pucuk Merapi. Memang hanya pucuknya saja yang nampak, yang lain terhalang oleh beberapa bukit yang ada di sekitar Kaliurang. Namun aku sunguh terpesona oleh pemandangan tersebut. Pagi itu cuaca Jogja masih cerah, sehingga tak sekelumitpun awan ataupun kabut membayangi pucuk gunung itu. Batu-batu dan pasir sisa-siasa letusan itu masih tampak jelas. Sebenarnya pemandangan seperti ini sudah sering kai aku saksikan, namun akli aku menemukan sesuatu yang baru, aku melihat dengan cara yang baru dan dalam suasana yang baru pula.

Saat kali ini aku datang ke gardu pandang ini sendiri. Aku pun tak tahu mengapa aku langsung menempati gubuk itu dan megeluarkan buku harianku. Aku sendirian di tengah keramain para pengunjung dari beberapa kota di Jawa ini. Maklum, hari-hari ini adalah libur panjang, dan Jogja adalah kota wisata. Pun demikian dengan daerah Kaliurang ini.

Daerah semacam Kaliurang ini sebenarnya banyak terdapat di tanah Jawa. Ada Puncak di Bogor, Batu Raden di Purwokerto, Bukit Batu di Malang. Daerah ini bukalah daerah wisata baru, namun telah berumur lebih dari dua abad. Dari buku seorang berkembnagsaan Prancis, Denys Lombard, aku mendapat data bahwa daerah-daerah semacam ini sudah ada sejak abad ke 18. orang-orang yang Eropa yang datang ke Nusantara membawa tradisi mereka ke sini. Di eropa, tempat yang paling banyak dikunjungi adalah bukit SPA, satu bukit di daerah Negara Eropa. Sekarang SPA menjadi satu kebudayaan diseluruh dunia, yaitu perwatan tubuh dengan air hangat. Dulu yang digunakan adalah air yang mendidih karena panas magma bumi. Yah, begitulah kebudayaan bertransformasi.

Aku masih menatap pucuk merapi dengan humbusan angin sepoi yang membawa lirik-lirik lagu Ebiet GAD dari pengeras suara menyebar ke daerah sekitar gardu pandang ini. Berita pada kawan, Kamelia, Elegi Esok Hari. Lagu-lagu yang sendu itu melantun, menelusuri gelombang udara menelusuk masuk ke hatiku melalui calah pori-pori. Syahdu. Aku seakan baru pertama mengalami ini, melihat pucuk merapi dalam kesyahduan. Aku hanyut dalam alam yang tak aku mengerti, yang tak pernah ku rasa sebelumnya. Saat aku asyik masuk dengan situasi itu, saat itulah seorang bapak menyapaku, duduk di sampingku. Dia dan keluarganya dari Jakarta, ke Jogja untuk menjenguk saudaranya yang terserang strock. Ternyata dia asli Lampung, satu daerah denganku. Obrolan berlangsung dalam waktu yang lamban. Mataku masih asyik dengan pucuk merapi, juga tingkah laku para pengunjung saat berpose dengan Merapi sebagai backround.

Hari semakin siang. Sedikit namun pasti, kabut putih mulai menyelimuti pucuk merapi. Dan satu setengah jam sudah aku duduk memandanginya. Akupun turun, saat beberapa bus pariwisata baru datang. Kantukku kambuh lagi. Aku mampir ke sebuah warung di pinggir jalan, menikmati segelas kopi ditemani oleh sebungkus kacang goreng. Di jalan, kendaran bermotor semakin ramai. Maklum nanti malam adalah malam minggu. Saat aku menyeruput kopi yang ada di depanku, saat itulah aku kembali merasa sendiri lagi, kesepian. Wajar. Biasanya aku lalui seruputan demi seruputan, teguk demi teguk bersama teman-temanku. Kini meraka telah pergi, kembali dan mengabdi ke daerah masing-masing. Dan aku masih di sini, entah sampai kapan.